Everything Must Go (2010/US)


Pain go away, hope you never back some other day

Jarang-jarang bisa melihat Will Ferrell main di film yang “tone”-nya agak serius. Ya, kalau anda terbiasa menyaksikan penampilan gila dan liar Will Ferrell di film-filmnya terdahulu, anda pasti akan kaget bahkan sedikit terpana dengan peran seriusnya di film perdana Dan Rush yang berjudul Everything Must Go. Ya, film perdana dari seorang Dan Rush, disutradarai sekaligus ditulis oleh dirinya, well, jujur saja, hasilnya ternyata cukup lumayan.

Nick (Will Ferrell) adalah seorang alkoholik yang sudah tobat selama beberapa tahun, tapi yang namanya kecanduan, selalu saja ada godaan. Puncaknya ketika dirinya dipecat dari pekerjaanya sekaligus ditinggal istrinya dalam waktu yang sama. Depresi? Sudah pasti, Nick mendapati barang-barang di rumahnya sudah berada di halaman rumahnya, dan rumahnya sendiri sudah terkunci.

Terjebak dengan keadaan menyakitkan, Nick akhirnya diam seorang diri di halaman rumahnya, hanya ditemani dengan barang-barang pribadinya yang lumayan banyak dan Kenny (Christopher Jordan Wallace), seorang bocah yang membantu Nick merapihkan barangnya yang nantinya akan dijual dalam event “yard sale” kecil-kecilan atas titah sahabatnya Frank (Michael Peña). Tapi disaat itulah muncul tetangga baru Nick, yaitu Samantha (Rebecca Hall), mudahnya, kehadiran Samantha memperingan beban Nick untuk meninggalkan semua yang telah terjadi. Yes, everything must go that day.

Datang dari seorang sutradara debutan, ternyata plot cerita ini tidak kalah bagus dengan film-film drama kelas atas lainnya. Walau dengan nuansa indie, film ini tetap menyajikan kisah sarat makna yang secara tidak langsung mempunyai pesan moral “life must goes on”. Nick menjadi karakter vital dimana segala sesuatu yang buruk menimpa hidupnya di hari yang sama, tinggal bagaimana Nick menyikpainya.

Walau terlihat klise, tapi visualisasi dari keadaan Nick yang digambarkan “hidup” di halamannya sendiri dengan barang-barang pribadinya selama beberapa hari membuat film ini sedikit unik. Kehadiran Kenny sebagai “sidekick” Nick untuk melepaskan masa lalunya pun terbilang klop, bagaimana tidak? Will Ferrell sejauh ini adalah aktor yang selalu pas bersanding dengan siapapun.

Karakter Samantha yang hadir di film ini pun dibuat seolah-olah bahwa dirinya adalah love interest dari Nick. Padahal nyatanya, Nick butuh sebuah perspektif baru dalam menjalani kehidupan barunya setelah kehidupan lamanya berantakan. Maka gambaran “yard sale” di akhir film seperti menjelaskan bahwa sebuah barang adalah seperti simbol yang terus menyertai pemiliknya, maka jika ingin bangkit dari masa lalu, maka mau tidak mau, selain perasaan sakit, barang-barang milik Nick pun harus rela untuk “dilepaskan”.

Seperti biasa, cukup dengan kehadiran Will Ferrell saja film ini sudah bisa dibilang menarik, apalagi melihat performa Will dalam kondisi semrawut, baru dipecat, ditinggal istri, semua lengkap di dalam karakter Will Ferrell. Bahkan penampilan Rebecca Hall pun nampak seperti pemanis saja di film ini. Justru yang mencuri perhatian adalah Christopher Jordan Wallace yang tidak begitu banyak “berbicara” tapi seperti menampilkan “sisi” lain dari karakter Nick yang sebenarnya polos dan baik hati.

Well done Dan Rush, you did a good job for the first timer! So, kalau anda penggemar Will Ferrell, anda harus coba tonton filmnya yang satu ini. Tidak terlalu berat tapi sangat penuh makna dan nuansa indie-nya yang keren, he-he. Enjoy the movie guys!

Rating: 3/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s