The Tree of Life (2011/US)


No comment

Kira-kira sudah lebih dari dua bulan pertama kali saya menonton film pemenang penghargaan Palme d’Or Festival Cannes tahun ini. Ya, bagi anda yang mengikuti perkembangan film, mungkin tahu film apa yang sedang saya bicarakan. Tidak lain dan tidak bukan adalah film garapan Terrence Malick yang film terakhirnya sendiri rilis enam tahun yang lalu, hiatus yang cukup lama bukan untuk seorang filmmaker? Tidak bagi Terrence Malick yang menyuguhkan karya terbarunya yang bisa dibilang bukan film seutuhnya.

Kenapa saya bilang bukan film seutuhnya? Karena film yang berjudul The Tree of Life ini seperti menayangkan mozaik kehidupan sebuah keluarga yang baru saja ditinggal mati oleh anak bungsu mereka. Alkisah keluarga O’Brien yang dipimpin oleh seorang figur ayah yang disiplin yaitu Mr. O’Brien (Brad Pitt) dan istrinya (Jessica Chastain) kehilangan anak mereka yang meninggal karena sesuatu yang tidak pernah diceritakan di film ini (yang saya asumsikan anak tersebut meninggal di medan perang).

Cerita lalu maju puluhan tahun ke depan dimana kini anak paling tua dari keluarga O’Brien yang bernama Jack (Sean Penn) sudah dewasa dan bekerja layaknya orang lain, tapi Jack sendiri tetap dihantui kematian adiknya puluhan tahun yang lalu dan berusaha mencari jawaban kepada sang pencipta mengapa adiknya yang sangat dicintai kedua orang tuanya “diambil” begitu saja oleh sang pencipta, sama halnya dengan pertanyaan sang ibu puluhan tahun yang lalu.

Penuh dengan narasi yang selalu terdengar dari setiap karakter di film yang memberikan sedikit sekali penjelasan tentang keluarga yang sedang dirundung duka tersebut, bahkan nama depan dari sang ayah yang diperankan oleh Brad Pitt pun saya tidak tahu sama sekali. Penuh dengan scene-scene yang spektakuler apalagi setelah kurang lebih 20 menit pertama film berjalan anda akan disuguhi pemandangan yang “tidak biasa” terjadi di film-film bertemakan drama seperti ini.

Ya, pemandangan tentang terciptanya alam semesta disuguhkan dengan sangat indah oleh Terrence Malick, dari mulai big bang di luar angkasa hingga terbentuknya bumi sampai munculnya makhluk hidup pertama yang terus berevolusi menjadi seekor dinosaurus! Ya, pemandangan tersebut tidak akan pernah bisa anda saksikan di film-film drama standar lainnya yang menceritakan suka, duka dan kepastian tentang sang pencipta.

Ketika detik pertama film ini dimulai anda akan menyaksikan sebuah ayat yang berbunyi “Where were you when I laid the foundations of the Earth, when the morning stars sang together, and all the sons of God shouted for joy?”. Ya, pertanyaan itulah yang sebenarnya dijawab oleh Terrence Malick di adegan spektakuler penciptaan alam semesta, jawaban atas pertanyaan Jack yang selalu bertanya pada sang pencipta dimana diri-Nya ketika saudaranya harus kehilangan nyawanya.

Keluarga O’Brien bagaikan sebuah contoh dari konektivitas kehidupan yang ada di alam semesta ini, mati dan hidup itu pasti selalu terjadi di belahan dunia manapun, sama halnya ketika Tuhan menciptakan alam semesta, ada kehidupan yang baru dan ada kehidupan yang harus berakhir. Di mata saya, film ini seperti mengajarkan seseorang untuk tidak pernah kehilangan keyakinan pada sang pencipta dimana hal tersebut diwakili oleh karakter Jack yang tidak pernah bisa tenang pasca kematian saudaranya walau sudah puluhan tahun lalu lamanya peristiwa kematian saudaranya terjadi.

Penuh makna dan jujur lebih enjoyable dari juara Palme d’Or tahun lalu yaitu Uncle Boonme Who Can Recall His Past Lives. Sinematografi yang disuguhkan tidak sembarangan, bahkan dari beberapa sumber yang saya baca, lokasi syuting rumah keluarga O’Brien sampai menggunakan tiga set rumah yang berbeda, tujuannya agar sinar matahari selalu pas masuk lewat jendela rumah keluarga O’Brien. Gila!

Sedangkan narasi para karakternya yang seolah-olah kita mendengarkan kata hati mereka memang sudah menjadi trademark dalam film Terrence Malick yang lebih menekankan “suara hati” karena efeknya lebih dalam dan lebih emosional di kuping penonton yang mendengar kata hati tiap karakter di film ini, terlihat berlebihan bukan? Tapi jujur hal tersebut dapat dikatakan bekerja bagi saya sendiri yang menonton film ini di bioskop langsung yang hanya dihuni oleh delapan orang penonton termasuk saya sendiri.

Butuh mood yang tepat untuk menonton film yang banyak orang puji dan caci ini. Maka saya tekankan sekali lagi, film ini bukanlah sebuah film seutuhnya, lebih ke sebuah karya seni ambisius Terrence Malick selama bertahun-tahun lamanya. Pengambilan gambar ala channel National Geographic ditambah sedikit muatan iklan susu Nutrilon bisa menjadi gambaran singkat tentang film ini seperti apa jika anda belum sempat menontonnya.

Uniknya penggalan ayat di awal film ini (yang sudah saya tuliskan sebelumnya) diambil dari surat Job di kitab Bible. Ya, Jack O’Brien (J-O-B) sebuah trivia yang menarik bukan? Dan dari sumber yang saya baca juga, ayat Job tersebut menjelaskan tentang seorang manusia yang mendapat cobaan dari Tuhan ketika dirinya kehilangan harta, keluarga dan kesehatannya, mirip dengan yang dialami oleh keluarga O’Brien bukan?

Tidak bisa berkata banyak lagi, yang jelas, The Tree of Life memiliki banyak muatan yang bermakna, religius sudah pasti, spektakuler sudah jelas dan enjoyable untuk ditonton dalam mood yang pas, jadi saya sarankan anda harus meluangkan waktu khusus untuk menonton The Tree of Life ini. Tidak boleh ada gangguan, nikmati saja film ini dan rasakan sensasinya, ya bagaikan pengalaman spiritual baru ketika menonton The Tree of Life ini, apalagi yang menontonnya di layar besar alias bioskop.

Walaupun bukan Brad Pitt, Sean Penn ataupun Jessica Chastain yang memerankan karakter-karakter di film ini, film ini tetap bakal menyuguhkan kualitas dan dampak yang sama pada penontonnya. Sekali lagi, nikmati saja film ini, walau penuh dengan simbolisasi yang hampir separuhnya saya belum begitu paham, saya tetap bisa menikmati film ini. So, take your time, prepare your seat, and enjoy the movie.

4 thoughts on “The Tree of Life (2011/US)

  1. Pingback: Joe (2014/US) atau drama kehidupan desa (it rhymes!) | itsmydestiny

  2. Pingback: Joe (2014/US) | zerosumo

  3. Pingback: Joe (2013/US) | zerosumo

  4. Pingback: Lucy (2014/France) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s