Love (2011/US)


Where were you when i listen “anxiety” alone?

Masih dari acara INAFFF kemarin, saya menyempatkan diri untuk menonton film ambisius Tom Delonge dan kawan-kawan se-band-nya Angels & Airwaves yang berjudul sama dengan judul album terakhir Angels & Airwaves yang dibagi menjadi dua bagian yaitu Love. Kenapa saya katakan film ini film ambisius? Terlihat dari konsep filmnya yang saya yakin bukan film untuk semua orang, belum lagi film ini murni dibuat dari merogoh kocek dari para personil Angels & Airwaves itu sendiri.

Saya sebenarnya penasaran dengan film Love ini, karena film ini telah digembar-gemborkan sejak Tom Delonge dkk merilis album keduanya. Hingga akhirnya film yang awalnya berjudul I-Empire ini rilis di tanggal cantik tahun ini, 11-11-11, bertepatan dengan rilis album Love Part II Angels & Airwaves. So, seberapa ambisiusnya film yang dibintangi oleh Gunner Wright ini?

Tanpa sinopsis yang begitu jelas dan tanpa subtitle saya menonton sebuah film yang secara garis besar menceritakan tentang pengalaman seorang astronot yang hilang kontak dengan bumi dan harus bertahan hidup sendiri di luar angkasa yang dingin selama kurang lebih enam tahun, lalu astronot yang bernama Lee Miller (Gunner Wright) ini mulai merasakan fase depresi di luar angkasa seorang diri dan mulai berhalusinasi.

Karena tidak ada subtitle, saya masih kurang paham hubungan scene perang sipil yang ditampilkan di awal film dengan cerita Lee yang harus berjuang melawan rasa kebosanan dan kesepian di luar angkasa. Tapi dari yang saya tangkap, cerita ketika perang sipil berhubungan secara tidak langsung dengan Lee ketika ia sedang membaca buku catatan milik tentara yang ada di perang sipil ratusan tahun yang lalu jauh sebelum peristiwa Lee mengarungi ruang angkasa seorang diri.

Selain itu, ada beberapa scene dokumenter yang melibatkan tiga pria berbeda profesi yang mengutarakan tentang rasanya hidup seorang diri dan perjuangannya untuk merubah keadaan ketika sudah tidak ada lagi yang bisa menolong, dari seorang penulis, seorang skater hingga seorang pria yang menderita penyakit kronis. Dari situlah saya mulai merasakan ada koneksi antara cerita Lee yang malang melintang seorang diri di luar angkasa.

Secara tidak langsung kita disuguhi film “semi-dokumenter” yang mempunyai pesan moral bahwa kita harus bisa mengontrol keadaan kita sendiri, hidup seorang diri bukan berarti kita harus menyerah dan melepaskan semuanya begitu saja, hidup seorang diri bukan berarti kita tidak punya rasa cinta. Entah benar atau tidak, setidaknya itulah yang saya tangkap dari film yang mengandalkan teknik sinematografi yang memukau mata ini.

Berterimakasihlah pada William Eubank yang memang baru kali pertama menjadi seorang sutradara di film Love ini. Sebelumnya ia adalah seorang sinematografer yang doyan bermain dengan format high-definition untuk iklan merek terkenal seperti Mikasa dan Honda. Maka kalau ditanya tentang seberapa otentiknya pemandangan luar angkasa yang disuguhkan di film Love ini, anda harus menontonnya sendiri agar bisa menikmati pemandangan luar biasa yang disuguhkan William Eubank.

Setengah film Moon, setengah film The Tree of Life, mungkin itu yang bisa saya simpulkan dari film yang setting pesawat luar angkasanya ternyata dibangun sendiri di halaman belakang rumah orang tua sang sutradara tanpa menggunakan nail gun alias manual! Cerita seorang astronot kesepian ala Moon dan sedikit sintog flashback dan jagat raya yang indah serta cerita yang “minim” informasi ala The Tree of Life.

Tidak lupa scoring musik yang pastinya diaransemen langsung oleh Angels & Airwaves. Beberapa scoring musiknya mungkin familiar di kuping anda jika anda penggemar berat band yang beraliran space rock ini. Dari intro dan outro beberapa lagu dari semua album Angels & Airwaves dan closing credit yang ditutup dengan lagu Soul Survivor dari album Love Part II cukup menggambarkan seisi film ini.

Pretentious atau bahasa gampangnya, ambisius? Ah tidak juga, bagi saya film ini seperti “grand project” dari band yang kalau dipikir-pikir tidak ada lagi band di dunia ini yang membawakan lagu-lagu seperti lagu-lagu yang dimainkan oleh Tom Delonge dkk. Padahal film ini dibuat dengan budget seminim mungkin tapi saya seperti menyaksikan Discovery Channel versi rock n roll, megah!

Tidak bisa berkata banyak lagi soal film ini, yang jelas jika bajakannya nanti keluar (lengkap dengan subtitle tentunya) saya akan menonton film ini kembali, tapi walau anda menonton film ini di bioskop dan kurang paham dengan ceritanya juga tidak masalah, at least kita tetap disuguhi pemandangan high-definition yang benar-benar memanjakan mata. Tapi, sekali lagi, film ini belum tentu sesuai dengan selera orang kebanyakan even orang tersebut adalah die-hard fans-nya Angels & Airwaves, so take your own risk, he-he. Enjoy the adventure guys!

4 thoughts on “Love (2011/US)

    • hehe, thanks berat dah mampir dan membaca sekelumit review simple saya nih bos😀 saya juga penggemar band tom delonge yg satu ini, makanya saya penasaran dari dulu pgn tahu kayak apa filmnya, dan ternyata ya tidak begitu mengecewakan, padahal saya nntn gak pake subtitle loh, hehe😀

      Like

    • yup betul, istilahnya eyegasm! hehe, saya juga masih cari bajakan film love ini yang udah HD dan ada subtitle lengkapnya😛 soalnya masih penasaran pengen nonton ulang😀

      Like

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s