FISFiC (Fantastic Indonesian Short Film Competition) (2011/Indonesia)


Six ways to enjoy Indonesian indie movie

Catatan terakhir dari perjalanan saya mengarungi INAFFF minggu kemarin di Blitz Megaplex yang terlihat ramai sesak oleh pengunjung yang tidak seperti biasanya. Film pertama yang ditunggu-tunggu tentu saja kompilasi film indie FISFIC (Fantastic Indonesian Short Film Competition) yang mengedepankan genre thriller, fantasi, horror dan apapun itu yang bisa membuat anda jantungan ketika menonton film ini di layar lebar. Well, ada enam film, tapi saya akan mengurutkan dimulai dari posisi film terbawah versi saya, bukan berarti jelek, tapi saya tidak sreg saja ketika menonton filmnya, here we go!

Reckoning (Rating: 2/5)

Film ini mempunyai premis yang lumayan menarik, sebuah keluarga yang rumahnya diinvasi oleh tiga orang misterius, mereka bukan perampok, lalu siapakah mereka? Funny Games! Itulah yang terlintas di benak saya ketika melihat sekilas premis film yang disutradarai dan ditulis oleh Zavero G. Idris dan Katharina Vassar. Ternyata bukan Funny Games sama sekali, melainkan sebuah thriller mencekam bilingual tentang pesugihan di jaman modern. Padahal teknik pengambilan gambarnya sudah terlihat mumpuni di awal film, black and white menjadi andalan untuk menyajikan visual “gila” pada penonton. Tapi sayang cerita yang seharusnya berjalan singkat menjadi sangat lama dengan dialog yang terlalu “jelas” menceritakan situasi di film tersebut, terutama dengan dialog bahasa Inggris-nya yang terlalu “maksa”, bukan saya tidak mengerti, tapi terasa aneh saja, penderitaan pun ditutup dengan ending yang sangat standar plus galau, ah, semoga film selanjutnya lebih menghibur.

Mealtime (Rating: 2.75/5)

Ada Ian Salim dan Elvira Kusno, tim sukses yang sempat membuat film thriller indienya booming awal tahun ini, Yours Truly, kembali lagi dengan thriller barunya yang bisa dibilang sudah berkonsep bagus tapi saya rasa terlalu sebentar untuk diceritakan dalam durasi kurang lebih 20 menit. Tidak ada kejutan sama sekali layaknya Yours Truly yang berdurasi delapan menit tapi mematikan. Tertolong oleh lelucon renyah yang super singkat, film ini seperti film thriller kebanyakan studio besar Hollywood, survival di antah-berantah yang pada akhirnya saya tahu bahwa tidak ada happy ending di film yang mengisahkan manusia pemakan otak ini, well, enough said.

Rengasdengklok (Rating: 2.5/5)

Sebuah alternate story dari proses pengungsian Soekarno ke Rengasdengklok oleh para prajurit yang harus diserang oleh zombie prajurit Jepang yang sudah tewas. Toh tampak konyol dan kurang meyakinkan, film ini hadir sebagai film yang paling menghibur di antara film yang seharusnya menegangkan waktu itu. Ditulis oleh Yonathan Lim dan disutradarai oleh Dion Widhi Putra, saya serasa menonton film-film “grindhouse” yang memang sengaja dibuat seperti itu. Prajurit zombie yang tidak ada habisnya dan aksi “dual-gun” Soekarno ala film John Woo dan sedikit kalimat pembangkit semangat yang efeknya melebihi ucapan Mario Teguh, well, this movie is fuckin hillarious! No need to think, just sit and enjoy the slaughter in the middle of woods!

Effect (Rating: 3/5)

Ini merupakan film yang membuat saya berkonsentrasi penuh selama kurang lebih tiga perempat durasi film ini. Seorang wanita karir yang muak dengan atasannya dan mulai menuliskan nama atasannya di sebuah website aneh yang mempunyai pertanyaan konyol, “apakah ada seseorang yang ingin kamu sakiti?” Justru yang membuat menarik adalah bagaimana cara atasan si wanita tersebut mati. Ya, saya disuguhi rekontruksi kematian versi “ringan” Final Destination dengan sangat rapih dan tertata baik. teknisnya sangat diperhitungkan sekali oleh sang sutradara Adriano Rudiman yang dibantu Leila Safira dalam penulisan naskah ceritanya. Sangat indie dan sangat berkualitas, tapi sayang sekali, endingnya sangat-sangat tidak saya suka, terlalu konyol dan tidak menimbulkan rasa penasaran lagi setelah ending film ini bergulir di depan mata, well, tapi harus diakui, film ini sangat “rapih”, well done!

Rumah Babi (Rating: 4/5)

Hanya film ini yang bisa membuat seisi audi 5 Blitz Megaplex Bandung hening sementara. Ya, Rumah Babi merupakan film horor paling sempurna di FISFIC kemarin, tidak salah film ini terpilih, dengan muatan semi-dokumenter di dalamnya, film ini berhasil menyajikan film horor klasik sejati yang sudah lama tidak saya lihat di layar besar Indonesia. Tepuk tangan tertuju pada Alim Sudio dan Harry Setiawan yang sukses menggarap film horor yang bisa membuat penonton terus bertanya-tanya sekaligus ketakutan setiap detiknya. Kontroversial karena melibatkan etnis tertentu didalamnya? Tidak masalah bagi saya, karena tujuan film ini jelas sekali untuk membuat kita bergidik karena nuansa horornya yang sangat-sangat spooky! Anda harus tonton sendiri film ini, percayalah, tidak ada film horor Indonesia sebaik Rumah Babi tahun ini, tidak butuh 90 menit, 20 menit dari Rumah Babi cukup membuat saya merinding!

Taksi (Rating: 3.75/5)

Tidak aneh jika film ini menjadi film terbaik FISFIC tahun ini. Well, saya melihat sebuah kesempurnaan dari jajaran cast hingga masalah teknis film ini. Setting yang sangat bagus, mixing suara yang rapih, akting yang mumpuni, salah satunya adalah Shareefa Daanish yang memerankan seorang wanita yang harus pulang malam dan mau tidak mau menaiki taksi yang dikendarai supir yang mencurigakan, hingga anda bisa menebak di akhir, bahwa sesuatu yang tidak beres akan terjadi di taksi tersebut. Bisa ditebak sebenarnya, tapi karena alurnya yang mengalir hingga enak ditonton membuat film ini menjadi film paling sempurna malam itu. Ah, tidak adil, bagi saya Taksi bagaikan film pendek yang dibuat oleh sineas profesional tanah air. Tapi semoga Arianjie AZ dan Nadia Yuliani, kedua orang dibalik cerita thriller singkat malam hari ini bisa berkembang dan menyuguhkan karya-karya lainnya yang saya yakin pasti tidak kalah bagusnya dengan film Taksi ini, well done guys!

Perjalanan menonton FISFIC dan acara INAFFF sudah selesai. Tinggal menanti event tahun depan yang entah bakal diisi dengan film-film yang lebih brutal dan mantap. Sebenarnya ada satu yang ingin saya sampaikan, semoga panitia INAFFF bisa memberikan porsi yang adil kepada para penontonnya di Bandung, karena mau tidak mau, animo kita sebagai penonton film di Bandung juga tidak kalah antusias dengan yang di Jakarta, kok jadi curhat? Biasalah, masih iri saja kepada yang sudah nonton The Raid duluan, he-he. but, the night still young, enjoy the rest of the day guys!

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s