Kill List (2011/UK) (Spoiler Alert!)


Some kill, goes wrong (or worse)

Percaya atau tidak, film berjudul Kill List yang baru saya tonton ini tadinya berjudul Get Jakarta. Lucu juga melihat film yang masuk Festival INAFFF 2011 kemarin ini kalau jadi menggunakan judul Get Jakarta, unsur horornya bakal terdengar seperti film horor picisan lain karya KKD dan antek-anteknya. Tapi sudahlah, saya tidak mau membahas film horor Indonesia yang stagnan, saya lebih memilih untuk menonton Kill List yang bisa dibilang film yang agak mind-fucked ini.

Mind-fucked! Istilah tersebut bisa keluar dari mulut seseorang ketika selesai menonton film yang ternyata membuat ia terkagum-kagum atau jengkel atau bisa dua-duanya. Kill List adalah film yang membuat saya mengeluarkan dua ekspresi tersebut, kagum karena film ini tidak terlihat seperti judulnya dan jengkel karena ceritanya yang super “aneh”. Bagi kamu yang belum menonton, saya sarankan berhenti sampai disini karena setelah paragraf ini mungkin banyak bertebaran spoiler!

Film ini dibuka dengan gambar simbol aneh (yang saya sudah duga dari awal simbol satanik) kemudian dilanjutkan ke scene sebuah keluarga dimana ada Jay (Neil Maskell) dan Shel (MyAnna Buring) yang selalu bertengkar. Mereka bertengkar karena Shel kesal Jay tidak mencari pekerjaan setelah delapan bulan menganggur, padahal mereka sudah mempunyai seorang anak yang tidak mungkin tidak akan tumbuh dewasa.

Jay sendiri adalah mantan tentara bayaran yang berpengalaman, tapi karena pekerjaan terakhirnya, Jay berhenti dan menjadi bulan-bulanan Shel. Datanglah sahabat Jay, yaitu Gal (Michael Smiley) rekan setimnya dahulu yang menawarkan pekerjaan baru untuk membunuh tiga orang asing dengan bayaran yang tinggi dari klien mereka yang “misterius”. Tanpa pikir panjang, Jay dan Gal mengambil pekerjaan tersebut, tugas mereka membunuh tiga orang sebenarnya bisa berjalan dengan lancar, tapi entah kenapa, setelah dua target mereka habisi, tugas mereka menjadi semakin absurd.

Absurd adalah kata yang tepat untuk menggambarkan misi Jay yang seharusnya bisa berjalan mulus. Makanya film ini bergenre horor daripada action, dan masuk ke jajaran film horor lain di INAFFF, film Inggris yang disutradarai oleh Ben Wheatley ini ternyata menyimpan “kengerian” di sepuluh menit terakhir film ini akan berakhir.

Plot ceritanya sedikit aneh, membosankan di awal, menegangkan di tengah-tengah tapi mulai membingungkan di akhir. Dari plot pembunuhan berubah menjadi plot pemuja setan yang tidak pernah diterangkan (setidaknya diberi petunjuk) dari awal. Satu-satunya petunjuk adalah simbol aneh yang digambar di awal film dan di tengah-tengah film serta korban-korban Jay yang berkata “aneh” setiap mau dibunuh oleh Jay.

Mind-fucked! Ya, ekspresi itulah yang membuat saya ingin melemparkan monitor setelah melihat ending film ini yang sebenarnya sudah bisa ditebak tapi kenapa harus seperti itu? Saya seperti menonton dua film berbeda yang disambung diam-diam dengan film lain ditengah-tengahnya, atau memang saya tidak bisa menangkap konsep “horor” dari Ben Wheatley yang membuat film ini hanya kurang dari satu bulan? Entahlah, sampai tulisan ini turun pun saya masih bingung dan pusing apa maksudnya film brutal horor ini?

Padahal saya sudah sangat tertarik dengan pengembangan karakter di awal film ini berjalan, dialog demi dialog terus bergulir, entah itu dialog sarkas, depresif dan aneh. Apalagi film ini menggunakan gaya Tarantino dengan memakai scene-per-chapter ketika Jay mau membunuh para targetnya. The priest, the librarian, the MP (entah apa itu maksudnya) dan the hunchback. Tapi what the fuck! Scoring musiknya yang “eerie” menjadi terlihat “cheesy” ketika film ini akan berakhir!

Kekerasan yang ditampilkan benar-benar akurat, pure brutal! Scoring musik sangat horor sekali, teknik sinematografi sangat mumpuni, membuat kita seolah-olah selalu berada di dekat jay, dan plot pemujaan setan di akhir membuat segalanya buyar. Saya pikir, plot cerita “assassination turning into satanism” ini lebih absurd dari tindakan Harold menembak sinterklas dengan shotgun-nya di film Harold & Kumar, maka saya lebih heran lagi kenapa film ini digadag-gadag sebagai film yang wajib ditonton di INAFFF kemarin? I totally disagree, the plot is ruin everything. Well, enough said, silakan tonton sendiri dan silakan sharing pendapat anda disini, enjoy!

Rating: 2.5/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s