Machine Gun Preacher (2011/US)


Sam Childers: Faith in humanity restored!

Daripada anda mencari tahu kebenaran video viral Kony 2012 yang belakangan ini booming di Youtube, saya sarankan anda tonton saja film yang baru saya tonton ini, berjudul Machine Gun Preacher dan ada hubungannya dengan video Youtube yang saya singgung sebelumnya. Tidak sepenuhnya berhubungan, tapi lebih baik anda menonton film yang dibintangi raja Sparta ini, karena Machine Gun Preacher setidaknya memberikan informasi tentang kenyataan pahit yang terjadi di benua hitam nun jauh disana. Lebih serunya lagi, film ini didasarkan pada kehidupan nyata Sam Childers yang sampai detik ini masih berada di Sudan untuk melindungi para anak-anak terlantar yang diburu oleh Joseph Kony, sang pemimpin dari gerakan Lord’s Resistance Army (LRA).

Sam (Gerard Butler) adalah seorang mantan napi, pemabuk sekaligus pemadat yang baru keluar dari penjara. Kaget melihat keluarganya sudah menemukan “Tuhan”, Sam akhirnya tobat dan menjalani kehidupan baru sebagai pria baik, jujur dan pekerja keras. Didukung oleh istrinya, Lynn (Michelle Monaghan) dan putrinya, Paige (Madeline Carroll), Sam menemukan hidup baru sesuai dengan jalan Tuhan. Hingga akhirnya Sam tergerak melihat keadaan yang terjadi di Afrika, tepatnya di Sudan.

Berawal dari sekedar membantu membuat panti asuhan bagi anak-anak yang selamat dari penculikan antek-antek Kony, Sam dengan bantuan Deng (Souleymane Sy Savane) bergerak melindungi anak-anak tersebut dari serangan tentara Kony, dan terkadang memburu tentara Kony tanpa kompromi. Ya, Sam bukan hanya seorang pengkhotbah yang telah membantu menyelamatkan para anak terlantar di Sudan, tapi ia merupakan pelindung bagi mereka, seorang sukarelawan yang rela mengorbankan segalanya demi kedamaian di Sudan.

Saya tidak akan mengaitkan film garapan Marc Forster dengan isu Kony 2012 yang kontroversial belakangan ini, saya tidak tahu siapa yang duluan, yang jelas faktanya adalah, peperangan di Afrika sana, khususnya Uganda, Sudan, Kony dan LRA, semuanya itu nyata. Motif dibelakangnya saya tidak mau tahu dan tidak akan kaget jika memang ada “niatan” dibalik aksi video Kony 2012 di Youtube yang sudah ditonton puluhan juta orang. Tapi yang jelas, Machine Gun Preacher memberikan gambaran paling nyata dari seorang Sam Childers yang masih berjuang untuk para anak-anak di Sudan hingga saat ini, dan hal tersebut disajikan apik oleh Marc Forster di film ini.

Machine Gun Preacher tidak hanya berbicara tentang seorang yang tergugah hatinya ketika melihat penderitaan yang dialami para anak-anak di Sudan, tapi juga membicarakan bahwa keteguhan hati seorang Sam Childers juga bisa diuji ketika dirinya harus memilih, apakah para anak-anak yang dia lindungi atau keluarganya sendiri yang harus diutamakan. Ya, film ini sarat dengan drama dan nuansa religius yang tidak hanya membicarakan tentang “redemption” seorang Sam Childers, tapi juga membicarakan apakah usahanya berjuang untuk perang yang bukan untuk dirinya adalah sesuatu yang benar di mata Tuhan?

Selama dua jam film ini berjalan, saya menyaksikan sebuah perjalanan singkat transformasi dari Sam yang dulu hidupnya bertolak belakang hingga menjadi inspirasi semua orang khususnya para korban kebiadaban Kony yang diselamatkan dirinya. Gerard Butler sebagai pemeran utama film ini berhasil memberikan gambaran akurat bagaimana seorang pria keras kepala yang emosional menjadi seorang pria yang disebut sebagai white preacher oleh para anak-anak terlantar yang diselamatkannya.

Film ini memang tidak begitu istimewa dari segi teknis, tapi saya menikmati setiap menit film ini berjalan, lanskap gurun pasir yang gersang hingga korban-korban penyiksaan yang dilakukan para tentara Kony yang digambarkan dengan sangat nyata membuat saya makin suka dengan film ini. Plotnya pun sederhana, tidak terlalu bertele-tele, oleh karena itu transformasi Sam dari mulai nol hingga menjadi seperti ini disajikan dengan alur yang lumayan cepat, karena saya yakin, durasi film ini bisa membengkak jika kisah Sam diceritakan secara detail dari mulai keluar penjara hingga dirinya bisa berada di Sudan, tapi itulah hebatnya Jason Keller, orang yang berada di balik pembuatan screenplay film ini, tanpa penjelasan yang detail, saya tetap bisa menikmati film ini hingga selesai.

Well, mungkin memang betul pemerintah Amerika mempunyai maksud terselubung dengan berkoar-koar lewat video viral Kony 2012 di Youtube, tapi yang ingin saya sampaikan adalah, ancaman yang terjadi disana itu nyata, dan kita sebagai manusia yang hidup di belahan lain bumi ini seharusnya lebih mensyukuri hidup jika dibandingkan dengan apa yang dialami anak-anak disana, well, jika anda lebih simpati, tidak ada salahnya berbuat seperti Sam Childers, panggilan hati yang sangat mulia dan kisah hidupnya memang layak dijadikan sebuah film, agar orang bisa tahu bahwa yang namanya manusia itu harus saling membantu. Some inspiring movie from this day, hope you’ll enjoy it guys!

Rating: 3.5/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s