Serbuan Maut/The Raid: Redemption (2011/Indonesia)


Watch out! We got a badass over here!

Setelah cukup lama berkeliling dari satu festival ke festival lain di belahan benua lain dan membawa pulang penghargaan People’s Choice Award dari ajang bergengsi Toronto International Film Festival, akhirnya film Serbuan Maut yang mempunyai judul internasional The Raid: Redemption “pulang kampung” ke Indonesia dengan membawa segudang pujian dari berbagai pihak Jumat (23/3) kemarin. Diputar serentak di semua bioskop Indonesia, tanpa tunggu lama, The Raid langsung menjadi film paling banyak ditonton dan banyak dibicarakan di akhir pekan ini.

Tidak ada lagi yang bisa meragukan, The Raid adalah film action yang paling ditunggu tahun ini, bukan hanya di Indonesia saja, tapi di semua negara yang telah menyaksikan kehebatan The Raid yang selalu menjadi perbincangan para kritikus di setiap festival film yang telah dilaluinya. Berangkat dari sineas yang telah memperkenalkan bela diri silat menjadi lebih garang dari thai boxing di film Merantau, Gareth Evans kembali lagi dengan film keduanya dengan menggunakan formula sama, aktor utama yang sama dan pertarungan yang lebih brutal!

Pagi itu, Rama (Iko Uwais), anggota tim khusus polisi, beserta rekan-rekannya dibawah komando Sersan Jaka (Joe Taslim) bertugas untuk menggerebek apartemen “sarang” penjahat yang dikuasai oleh seorang bos mafia brutal bernama Tama (Ray Sahetapy). Misi “bunuh diri” ini terus dilanjutkan dengan cara menguasai tiap lantai apartemen berlantai 30 tersebut. Tapi sayang kedatangan Rama dkk diketahui oleh Tama, maka tak ayal lagi, penggerebekan berubah menjadi pertarungan hidup dan mati antara kubu Rama melawan kubu Tama yang dipimpin oleh kedua anak buah terpercayanya, Mad Dog (Yayan Ruhian) dan Andi (Doni Alamsyah), dan tentu saja jumlah anak buah Tama jauh lebih banyak dari para polisi tersebut, let the chaos begin!

Tanpa ba-bi-bu, kita langsung disuguhi aksi “tembak kepala” tanpa ampun yang dilakukan Tama setelah menyantap semangkok mie instan di ruangan apartemennya yang kumuh. Tidak menunggu lama dari kejadian tersebut, anda bisa menyaksikan pertarungan non stop selama kurang lebih 100 menit yang terjadi di tiap lantai apartemen tersebut. Sebuah ajang bela diri indah dipertontonkan oleh Iko Uwais yang memang atlet pencak silat nasional yang tidak usah diragukan lagi kemampuannya. Mungkin Oh Dae-Su dalam film Oldboy harus menyembunyikan martilnya ketika melihat kebrutalan aksi Rama di lorong apartemen dengan hanya menggunakan pistol, pisau, stik kayu dan semua peralatan yang tercecer di lantai dalam melumpuhkan lawan-lawannya.

Aksi Iko Uwais didukung oleh lawan yang sepadan, Yayan Ruhian, yang bersama Iko Uwais dan Gareth Evans menjadi koreografer bela diri di film ini, memerankan karakter penjahat dengan rambut gondrong yang mengerikan sekaligus membuat jiper siapapun yang akan bertarung dengannya. Lihat saja aksi Yayan “Mad Dog” Ruhian yang lebih memilih adu jotos dengan Sersan Jaka, karena menurutnya, “kalau cuma pencet pelatuk, kurang greget”, oh, saya jamin scene tersebut akan terbayang-bayang terus di otak para penonton The Raid.

Lain halnya dengan Yayan Ruhian yang berprinsip “talk less do more”, Ray Sahetapy lebih memilih mengeluarkan aksi psikologis lewat dialog-dialog mematikannya, “selamat bersenang-senang” mungkin adalah perkataan dari seorang Tama yang bakal diingat oleh para penonton The Raid, dan jangan lupakan kata “anjing”, “babi” dan “kampret” yang menjadi lebih enak didengar ketika Ray Sahetapy yang mengatakannya. Siapa yang tidak jiper ketika melihat Tama membunuh anak buahnya dengan santai setelah memakan semangkok mie instan? Oh Dae-Su, you must sit and enjoy this massacre!

The Raid pun ditutup dengan pertarungan indah antara “guru” dan “murid” plus Doni Alamsyah. Ya, pertarungan Mad Dog dengan Rama dan Andi adalah pertarungan paling indah yang ditampilkan di film ini, lupakan duel Iko Uwais dan Yayan Ruhian di dalam lift dalam film Merantau, duel mereka di dalam ruangan tertutup ini adalah duel paling mematikan yang tidak pernah terbayangkan oleh siapapun, saya jamin anda akan menahan nafas ketika melihat duel three-some di scene ini, don’t close your eyes!

The Raid menjadi lebih seru karena didukung oleh teknik editing dan pengambilan angle-angle “radikal” yang dilakukan oleh Gareth Evans. Tidak pernah ada film aksi yang bisa memberi saya kepuasan untuk melihat kebrutalan dan keindahan bela diri dari sudut-sudut yang tidak terduga. Gareth Evans melakukan semua itu nearly perfect! Tiga kali lipat lebih asyik daripada Merantau jika bicara masalah teknis film ini, padahal hampir semua adegan dalam film The Raid berada di dalam ruangan, tapi saya tetap bisa menyaksikan semua pukulan, tendangan hingga tusukan yang dilakukan Iko Uwais dengan leluasa dari semua sudut tanpa ketinggalan satu pukulan pun, bravo!

Jangan lupakan scoring musik yang diaransemen oleh Aria Prayogi dan Fajar Yuskemal, alunan musik industrial layaknya album Ghosts milik Nine Inch Nails yang mengutamakan hentakan drum dan distorsi gitar secara simultan berhasil membuat emosi saya dan semua yang menonton The Raid naik turun. Lupakan scoring yang dibuat Mike Shinoda dan Josh Trapanese, saya pikir scoring buatan Aria dan Fajar sudah sangat world-class untuk film yang memulai aksi brutalnya sebelum jam delapan pagi ini, totally eargasm!

Satu hal yang mengganjal dari film ini hanyalah masalah dialognya yang kurang lugas. Entah karena faktor script yang ditulis oleh Gareth Evans yang notabene bukan orang Indonesia, sehingga dialog yang ada di film ini seperti dialog bahasa Inggris yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Hal tersebut membuat kata “aku” menjadi konyol jika diucapkan pembunuh berdarah dingin, tapi hal positifnya adalah, dari dialog yang “agak” baku tersebut, justru malah menjadi sesuatu yang kocak di telinga penonton. Saya pun menganggap karakter yang diperankan Yayan Ruhian terlalu “bagus” jika dinamakan “Mad Dog”, harusnya sesuatu yang lebih membumi dan mencerminkan premanisme ala Indonesia, sehingga rasa Indonesia-nya lebih terasa.

Tapi diluar itu semua, The Raid berhasil memuaskan dahaga saya (dan saya yakin seluruh penonton di Indonesia) akan film aksi asli Indonesia yang mengedepankan bela diri pencak silat yang menggunakan pisau dan tangan kosong dalam setiap pertarungannya, bagai mimpi yang jadi kenyataan, The Raid adalah sebuah pencapaian luar biasa yang pernah ada di industri film Indonesia, tidak pernah saya melihat satu isi studio bioskop penuh tanpa ada bangku kosong sekalipun ketika film The Raid diputar, dan itu adalah studio yang memutar film I-N-D-O-N-E-S-I-A, luar biasa!

Jadi, tunggu apalagi? Mengutip kicauan yang dilontarkan Empire Magazine di Twitter, “Go and see it (The Raid), or we’ll send Iko Uwais after you”. Enjoy guys! Must-see movie!

Rating: 5/5

10 thoughts on “Serbuan Maut/The Raid: Redemption (2011/Indonesia)

  1. Setuju, dialognya agak keteteran..kurang garang liat penjahat ngomongnya “aku”.
    kaget juga ada anggota p project ikutan maen..hehehe.

    Like

    • yoi, wajarlah, orang bule yang nulis skripnya, jadi mungkin emang masih kaku, hehe… si Iang p project itu, bener2 cameo dahsyat :P… sering2 mampir hab😛

      Like

  2. Kalo buat gue itu dia sisi lain yang buat film ini ga monotone.

    Ada sisi lucu, ada sisi serius, dll

    Si ambon dengan muka garangnya saat ngomong pake logat ambon lucu suaranya..

    Ya memang seharusnya sebuah film seperti itu gan, tetap berada pada jalur tapi ga menyuguhkan hal yang monotone.

    Like

    • yoi, beruntung masyarakat indonesia yg majemuk bisa diambil sisi kocaknya, bahakan bisa bikin kita ketawa menggila, emang enjoyable the raid, ngos2an liat berantemnya, lgs disuguhi dialog dialog yg kdg bisa mancing tawa, hehe…

      btw thanks dah mampir dan baca baca review sederhana ini😀 sering sering aja ya😛

      Like

  3. Pingback: The Raid 2: Berandal (2014/Indonesia) | zerosumo

  4. Pingback: Lima Adegan Film Laga Favorit Gareth Evans | zerosumo

  5. Pingback: The Expendables 3 (2014/US) | zerosumo

  6. Pingback: 5 Deleted Scene Tambahan The Raid 2: Berandal | zerosumo

  7. Pingback: Pendekar Tongkat Emas (2014/Indonesia) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s