Like Crazy (2011/US)


Love is not enough

Satu hal yang menarik dari film-film romantis seperti film yang baru saya tonton ini, Like Crazy, adalah cara penyampaian ceritanya yang berbeda dari film-film romantis mainstream ala Hollywood lainnya. Like Crazy dikemas dengan sunyi, sepi tapi bisa menggila (saya bakal menggunakan kata “menggila” lebih sering belakangan ini karena masih terngiang film The Raid, he-he) di waktu-waktu tidak terduga dan kembali sunyi, sepi lagi, ya film-film romansa seperti ini adalah film yang mengaduk-ngaduk perasaan penontonnya, dibikin kesal dan bisa saja emosi tinggi melihat hubungan percintaan dua karakter utama di film ini naik turun entah mau dibawa kemana.

Seperti judulnya, Like Crazy, bukan saja cinta yang digambarkan “gila” di film ini, tapi juga proses untuk merasakan cinta itu sendiri terbilang gila kalau di mata orang awam. Jacob (Anton Yelchin) dan Anna (Felicity Jones) jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi Jacob dan Anna dipisahkan jarak, karena Anna adalah warga negara Inggris yang telah melakukan suatu pelanggaran sehingga visa miliknya di black-list. Anda sudah bisa membayangkan bukan, long distance relationship atau yang bahasa gaulnya LDR terjadi diantara Jacob dan Anna yang sudah cinta mati (katanya), maka dalam waktu 90 menit, kita akan disuguhi cerita naik turun hubungan antara Jacob dengan Anna, baik itu dipisahkan oleh jarak sekalipun, apakah betul kesabaran adalah kunci dari hubungan jarak jauh? Anda akan menemukan jawabannya di film ini.

Jika berhubungan dulu dengan orang lain sementara karena terpisah jarak adalah “kesabaran” yang dimaksud? Saya pikir konyol juga mengingat film ini sebenarnya bukan membicarakan kesabaran, melainkan kepercayaan, apa yang terjadi jika dua insan yang saling jatuh cinta dipisahkan oleh jarak dan waktu, walau mereka sudah menikah sekalipun? Toh yang namanya perasaan tidak pernah bisa dibohongi, kita bakal tetap merasa sendirian dan membutuhkan kasih sayang “orang lain”. Sayang sekali dalam kasus ini, Jacob mendapatkan kasih sayang sang Katniss Everdeen sementara Anna mendapatkan kasih sayang pria british lain yang atletis.

Maka seperti yang saya katakan di awal, film ini benar-benar mengaduk-ngaduk perasaan penonton seperti saya, putus nyambung secara tidak langsung bergulir sepanjang film ini berjalan, dan untuk apa? Untuk membuktikan kalau ternyata idiom “life must go on” itu bohong total? Bahkan ikatan pernikahan suci sekalipun tidak bisa membuat sebuah pasangan benar-benar “terikat”. Kelakuan Jacob dan Anna silih ganti membuat saya muak apa yang sebenarnya mereka inginkan, tinggal bersama secepatnya tidak mungkin karena Anna harus menunggu visa-nya diproses ulang, tapi saling menikmati kehangatan dengan orang lain pun tidak sepenuhnya benar, karena Jacob dan Anna masih saling merindukan (khususnya Anna) dengan alasan yang sebenarnya klise.

Intinya, daripada saya jadi curhat beneran, film ini memang menjelaskan kalau perkataan Agnes Monica itu benar, cinta itu kadang-kadang tak ada logika, titik. Selain dari ceritanya yang bisa membuat saya gila karena cinta, kehadiran sepasang aktor muda ini lumayan memberi kesegaran dalam film-film romantisme muda mudi jaman sekarang, Anton Yelchin dan Felicity Jones memberikan penampilan terbaik mereka sebagai pasangan yang lebih “soft” dari pasangan di film Blue Valentine dalam menghadapi getirnya rumah tangga karena pernikahan dini, even Jennifer Lawrence yang hanya muncul sebagai pemanis sesaat saja terlihat biasa-biasa saja, sayang sekali, padahal saya lebih suka dia yang menjadi Anna, tapi Felicity Jones berhasil menggambarkan sikap seorang wanita yang “bingung” dan innocent secara bersamaan, sangat-sangat sempurna (dalam mengecoh kita para kaum pria, he-he).

Overall, film ini unik tapi mungkin tidak untuk semua orang, dan itu termasuk saya, percintaan mereka ditutup dengan ending yang “hampa” dan terlalu open ending, siapa pun bisa menterjemahkan ending film ini menjadi sesuatu yang lain sesuai keinginan penonton (apalagi bagi yang pernah merasakan hal sama). Life must go on but love’s still complicated right? Maybe, bagi anda yang mencari tontonan romantis yang bisa membuat anda intropeksi, sudahkan anda mencintai pasangan anda like crazy? Film ini cocok untuk ditonton anda, tapi jika anda tidak tahan dengan pahitnya sebuah hubungan, jangan sekali-kali menyentuh film ini, he-he. Just enjoy and have a nice day!

Rating: 3/5

2 thoughts on “Like Crazy (2011/US)

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s