The Three Musketeers (2011/Remake/US)


Team up for once and all again

Ketika film bagus diremake, jawabannya hanya ada dua, yaitu menjadi makin bagus atau malah makin jelek dari film aslinya. Untuk film The Three Muskeeters yang baru saya tonton ini, mungkin tidak dua-duanya, tapi harus saya akui, film remake ini tidak bisa menyaingi kualitas film aslinya yang sudah entah berapa tahun lamanya saya terakhir menonton di televisi. Film garapan Paul W.S. Anderson ini malah menjadi show-off untuk ajang 3D yang sedang trend, sayang sekali, padahal film ini dibintangi jajaran cast yang luar biasa lengkap.

Sama seperti film aslinya terdahulu, D’Artagnan (Logan Lerman) pergi ke Perancis untuk bergabung bersama tiga musketeers yang tidak lain adalah Athos (Matthew Macfadyen), Porthos (Ray Stevenson) dan Aramis (Luke Evans). D’Artagnan datang di saat yang tepat ketika Athos dkk sedang melawan tindakan pemberontakan “diam-diam” yang dilakukan Kardinal Richelieu (Christoph Waltz) terhadap Raja Louis XIII (Freddie Fox). Richelieu tidak sendiri, ia dibantu oleh agen ganda seksi, Milady (Milla Jovovich) yang telah melukai hati Athos di masa lalu dan juga Duke of Buckingham (Orlando Bloom) yang ingin menyerang Perancis dengan kapal perang canggihnya. Seperti biasa, film ini adalah film penuh aksi dan adegan pertempuran ringan yang ditutup dengan slogan abadi The Three Musketeers, one for all and all for one!

Secara keseluruhan, film ini sebenarnya merupakan film yang enak ditonton jika saja penyakit Paul W.S. Anderson tidak kambuh seperti yang terjadi di film Resident Evil garapannya, terlalu banyak efek 3D dan gerakan slow motion yang merusak nuansa peperangan pedang jadul ala The Three Musketeers yang sudah melegenda. Apalagi kehadiran Milla Jovovich yang (terlalu) lincah dan jago bertarung membuat saya bertanya-tanya, siapa yang sedang saya tonton sebenarnya? Milady atau Alice di film Resident Evil?

Pantas saja film ini mendapat banyak kritikan, karena The Three Musketeers ini menjadi film action renyah seperti film-film action yang bersetting peperangan jaman dulu. Tidak terlalu spesial dan humornya tidak terlalu “menggigit” seperti yang saya ingat di film aslinya dulu. Bahkan Orlando Bloom yang berperan menjadi penjahat disini tidak begitu mengubah keadaan, hadapi saja kenyataan, mau sampai kapanpun, sang Legolas tidak bisa berperan menjadi orang jahat, he-he.

Penuh aksi dan penuh intrik, satu-satunya humor yang paling mengena di film ini hanyalah celotehan Raja Louis XIII yang super linglung dan mimik Christoph Waltz yang seperti biasa agak sedikit menyebalkan, selebihnya, film ini adalah ajang pamer efek 3D dan slow motion ala seri Resident Evil terakhir yang dibalut dengan cerita klasik The Three Musketeers dan pertarungan kapal balon raksasa di atas langit dan bagi anda penggemar aktris muda Juno Temple, nikmatilah film ini, karena satu-satunya yang bisa dinikmati selain adegan berkelahinya, yaitu penampakan para wanita blonde cantik didalamnya, salah satunya adalah Juno Temple.

Bagi anda yang kangen film The Three Musketeers, mungkin remake yang satu ini bisa melepas rasa kangen tersebut. Tapi jangan berharap lebih terhadap film barunya ini, karena menurut saya pribadi, film ini biasa-biasa saja, enak ditonton dan mudah dilupakan. Well, enjoy the show, but only on Tuesdays… and whenever beautiful women are involved.

Rating: 2.75/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s