Leap Year (2010/US)


Shut up and kiss him already!

Sekarang saya mengerti kenapa sinetron dan FTV di Indonesia selalu mempunyai cerita romantis yang berulang-ulang, klise dan mudah ditebak, karena ternyata mereka meniru juga dari film-film rom-com Hollywood yang sebenarnya sama-sama mempunyai cerita romantis yang berulang-ulang, klise dan mudah ditebak, sama halnya dengan film rom-com berjudul Leap Year yang baru saja saya tonton. Dari awal hingga akhir, bukannya saya sok jago, tapi saya tidak usah menjadi peramal untuk tahu jalan cerita dari tiap adegan yang ada di film yang disutradarai oleh Anand Tucker ini.

Ceritanya sangat simple, dimana kita akan bertemu Anna (Amy Adams), seorang gadis yang sangat berharap bahwa kekasihnya, Jeremy (Adam Scott) mau melamarnya untuk naik ke pelaminan. Tapi hal tersebut tak kunjung tiba karena kesibukan Jeremy yang tak kenal waktu. Maka Anna inisiatif untuk melamar Jeremy yang sedang berada di Dublin, Irlandia, karena menurut tradisi Irlandia, di setiap tahun kabisat (leap year) khususnya tanggal 29 Februari, jika seorang wanita melamar seorang pria maka si pria harus menerima lamaran tersebut.

Memang terdengar konyol dan bodoh, hal tersebut diamini oleh Declan (Matthew Goode), seorang pria desa yang kebetulan bertemu Anna yang kesulitan mencari tumpangan ke Dublin, maka seperti kisah cinta dan jutaan film rom-com yang sudah-sudah, sepanjang perjalanan menuju Dublin, Anna malah terpikat dengan kepolosan Declan yang memang diplot seperti itu, dan untuk endingnya sendiri, langsung saja saya katakan, happy ending! Karena tidak mungkin dalam seribu tahun kedepan, film semacam ini mempunyai sad ending atau twist ending.

Sebenarnya film ini tidak begitu membosankan secara keseluruhan, at least film ini masih didukung dengan setting landscape Irlandia yang indah walau beberapa diantaranya dibantu dengan efek komputer, tapi sayang seribu sayang, cerita film ini membuat saya seperti dejavu untuk kesekian kalinya, karena banyak sekali film rom-com yang intinya adalah bahwa hubungan lama dengan pacar anda tidak menjamin kalau pacar anda nanti bakal bertemu orang lain yang lebih puitis, ganteng dan realistis dari anda yang sudah mati-matian tampil sempurna di depan pacar anda. Disitulah anda akan menemukan twist ending bagi kehidupan pribadi anda, tapi tidak bagi saya, karena saya sedang melihat dari sisi rom-com yang mempunyai konsep cerita yang terlalu usang.

Bahkan Matthew Goode yang dulu sempat memerankan super villain favorit saya di Watchmen, Ozymandias, mengakui bahwa Leap Year adalah film terburuknya tahun itu, dia mengambil peran di film ini hanya agar dirinya bisa pulang ke London di akhir pekan, ouch! Ya, seburuk-buruknya film rom-com Hollywood yang pasaran, untungnya masih ada aspek lain yang menonjol, seperti aspek sintog yang saya singgung sebelumnya, itulah yang membuat film-film seperti ini masih ada “kans” untuk ditonton, tidak seperti FTV yang sering diputar di televisi kita, yang terlalu monoton dan terlalu mengulang-ngulang cerita tanpa ada perbaikan teknis sama sekali.

Saya memang bukan seorang scriptwriter, tapi tolong, untuk cerita yang tersaji di film ini, saya hanya bisa geleng-geleng kepala, tidak ada kejutan lagi, dan adegan dramatisirnya tidak terlalu menyentuh saya yang sudah menahan kencing semenjak film ini dimulai. Overall, film ini sangat klise, sangat, sangat, sangat klise, tapi tetap bisa menjadi tontonan ringan di waktu senggang anda, sekedar untuk menemani anda yang belum bisa tidur, Leap Year adalah pilihan yang cocok untuk menina-bobokan anda. Just enjoy the landscapes guys.

Rating: 2.5/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s