Prometheus (2012/US)


Don’t look back in anger

Mungkin hanya generasi 90-an yang paham bahwa Ridley Scott adalah sutradara yang berhasil membuat dua film sci-fi-nya menjadi cult bagi kebanyakan orang. Tidak bisa dipungkiri, kehadiran Alien dan Blade Runner berhasil membuat orang terkesima pada cerita sci-fi yang penuh dengan unsur horor dan action yang kental. Ya, saya juga menyukai Blade Runner, tapi kalau Alien? Ya tidak begitu fanatik, hanya pernah tahu saja, dan itu juga belasan tahun yang lalu mungkin. Tapi ketika film Prometheus hadir di tahun 2012, banyak yang berspekulasi bahwa Ridley Scott kembali ke “ranahnya”, menyuguhkan film sci-fi yang seram dan diduga menjadi prekuel dari Alien, benarkah?

Bercerita tentang sekelompok manusia yang terdiri dari para ilmuwan pintar diantaranya adalah Shaw (Noomi Rapace) dan Holloway (Logan Marshall-Green), serta android pintar bernama David (Michael Fassbender) dan pemimpin kapal Prometheus yang disponsori oleh perusahaan Weyland (ring a bell?), Vickers (Charlize Theron). Mereka melakukan sebuah misi mencari planet yang diyakini Shaw dan Holloway adalah planet tempat pencipta mereka berada, yang mereka sebut “the engineers” (baca: Tuhan) tiba di planet tak bertuan, mereka bukannya menemukan sesuatu yang bisa menjadi “asal mula manusia” melainkan “akhir dari manusia”.

Too much for Alien prekuel? Bisa jadi, tapi di film Prometheus, Ridley Scott seperti membuka babak baru bagi kisah Alien yang ia buat kurang lebih 30 tahun yang lalu. Banyak yang berpikiran bahwa ini adalah prekuel dari film Alien, saya pun meyakini hal tersebut ketika melihat ending film ini. Tapi karena Ridley Scott bersikukuh bahwa ini adalah babak baru dari film sci-fi-nya, well, tidak ada salahnya kita mengamini sang sutradara yang telah membuat banyak film action dan kolosal yang lebih menghibur saya.

Anda harus mengasumsikan bahwa dunia di film Alien dan Prometheus itu sama, karena dua-duanya mempunyai beberapa plot yang identik seperti space jockey, xenomorph, peter weyland and so on. Tapi anggap saja ada dua event yang terjadi di dunia Alien milik Ridley Scott dimana pertama ada kisah Alien yang diatasi oleh Ripley dan event sebelumnya, yaitu Prometheus yang ditukangi oleh Shaw dkk. Jadi sebenarnya terserah anda menganggap film ini adalah prekuel dari film Alien, sah-sah saja, yang jelas Prometheus bisa menjadi film sci-fi stand alone tanpa harus mengingat betul apa yang sebenarnya terjadi di film Alien.

Ridley Scott justru mempertanyakan sesuatu yang krusial di film terbarunya ini. Apakah betul kita hidup sendiri di alam semesta ini, dan apakah semudah itu proses penciptaan manusia? Dijawab dengan opening scene yang indah, mengambil landskap Islandia nun jauh disana, seorang space jockey bunuh diri setelah meminum cairan hitam, sehingga menyebabkan tubuhnya dipenuhi darah dan susunan DNA manusia, asal usul kehidupan di bumi pun terbentuk. Tapi setelahnya, hampir dua jam, kita tidak akan menemukan pencerahan, melainkan teror dan kenyataan yang mengerikan bahwa seharusnya manusia itu punah ribuan tahun yang lalu, hanya saja alien bertubuh sebesar Hulk ini terhambat di planet transitnya oleh sesuatu yang lebih mengerikan, dan itu adalah? Anda akan tahu jawabannya ketika menonton film ini.

Overall saya tidak terlalu kecewa dengan film yang lumayan banyak mendapat kritik dari para fanatik saga Alien ini. Saya menikmati film sci-fi Ridley Scott yang dibungkus rapih dengan spesial efeknya yang memukau. Untuk plot ceritanya sendiri saya tidak bisa bilang terlalu istimewa, standar saja, tapi tidak masalah karena storyline Prometheus didukung penuh oleh para aktor yang bermain dengan apik. Salah satunya adalah Michael Fassbender yang memerankan David dengan sangat sempurna. Bisa dikatakan, David menjadi karakter yang dibenci sekaligus dicintai di film ini. Kehadirannya memerankan android tak berperasaan dan bernada datar sepanjang film makin membuat Prometheus menarik untuk ditonton.

Bahkan kehadiran Charlize Theron yang picik pun masih kalah jauh oleh kehadiran “si gadis bertato naga”, Noomi Rapace yang menjadi supergirl di film ini. Tidak aneh banyak yang mengatakan bahwa Shaw is the new Ripley, karena dirinya banyak berada di situasi yang tidak menguntungkan selama film berjalan, dan ia tetap selamat. Bravo! Lalu bagaimana dengan yang lain? Siapapun bisa menggantikan posisi Idris Elba yang menggunakan sarung didalam kapal Prometheus dan tentu saja Guy Pearce yang hanya “bermanfaat” di iklan viral film ini. Selebihnya anda hanya akan menyaksikan seorang Guy Pearce yang dibalut make-up super tebal yang bisa jadi orang tidak tahu jika belum menonton iklan viral film ini, bahwa kakek super tua renta itu adalah Guy Pearce.

Akhir kata, Prometheus tetap memberikan pengalaman menonton film sci-fi yang bernuansa “eerie” dan “mempertanyakan keyakinan”, siapa yang tidak pernah merenung seperti Ridley Scott? Siapakah pencipta kita ketika di alam semesta yang luas ini masih ada sesuatu yang berhubungan dengan kita umat manusia. Saya tidak sefrontal itu, tapi Prometheus bisa menjadi film pelepas dahaga bagi anda yang mencintai film-film sci-fi terkonsep, seram dan mengusung isu yang “serius”. Well enjoy the flight with Prometheus.

Rating: 3.5/5

2 thoughts on “Prometheus (2012/US)

  1. Pingback: Lucy (2014/France) | zerosumo

  2. Pingback: Exodus: Gods and Kings (2014/US) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s