Iron Sky (2012/Finland)


Okay, now I’m fucked!

Jika Ridley Scott membawa kita mengarungi luar angkasa yang luas untuk mempertanyakan apakah Tuhan kita benar-benar ada? Maka kali ini seorang sutradara yang juga vokalis band black metal asal Finlandia, Timo Vuorensola akan membawa anda ke dark side of the moon dimana disana bersemayam sisa-sisa pasukan Nazi Jerman milik Adolf Hitler, menanti pembalasan untuk kembali menginvasi bumi. Itulah sedikit premis dari film sci-fi comedy action konyol yang berjudul Iron Sky. Tapi tidak seperti film kelas B lainnya yang benar-benar tidak punya “kerangka pemikiran” dalam membuat film menyenangkan (baca: Piranha 3DD) Iron Sky hadir dengan segala kekurangannya yang tetap seru untuk ditonton.

Tahun 1945 adalah tahun dimana Jerman kalah dalam Perang Dunia II, tapi puluhan tahun kedepan (near future), ketika Amerika dipimpin oleh presiden wanita yang sedang mengadakan kampanye di bulan dengan cara mengirim astronot kulit hitam pertama bernama James Washington (Christopher Kirby), disitu juga si astronot menemukan markas rahasia Nazi yang berada di sisi gelap bulan. Dipimpin oleh penerus Adolf Hitler, Wolfgang Kortzfleisch (Udo Kier) dan komandan kepercayaannya, Klaus Adler (Götz Otto). Mereka berniat untuk melakukan invasi ke bumi setelah mengetahui bahwa senjata pemusnah massal mereka, Götterdämmerung ternyata bisa menyala setelah diberi tenaga dari iPhone milik James Washington yang telah menjadi orang kulit putih (ras arya) karena disuntik obat aneh milik seorang profesor yang mirip Einstein.

Jangan tertawa dulu saudara-saudara sekalian! Tidak cukup disitu, ternyata Klaus Adler melakukan pemberontakan dengan pergi ke bumi bersama (bakal) calon istrinya, Renate Richter (Julia Dietze) yang baru sadar bahwa selama ini ia didoktrin oleh film cult Charlie Chaplin yang memerankan Adolf Hitler yang sedang menari-nari sambil memegang globe bumi. Film ini boleh memiliki premis super konyol dan lebih mustahil dari film Piranha 3DD, tapi percayalah, eksekusi yang dilakukan Timo Vuorensola 100 kali jauh lebih bagus dan lebih berisi daripada film ikan pemangsa wanita topless tersebut.

Berangkat dari proyekan yang semula hanya ide viral marketing biasa saja, ternyata film ini bisa selesai juga, dan itu tidak lepas dari peranan para fans yang ingin melihat film ini terealisasi. Ya, lebih dari sepuluh persen dana film ini berasal dari sumbangan para fans. Belum lagi film ini mendapat dukungan dari orang-orang dibalik suksesnya film Inglourious Basterds yang memberi nasehat tentang masalah logistik, bagaimana caranya membawa pakaian para tentara Nazi masuk ke Jerman.

Dari segi teknis, bisa dibilang film ini tidak main-main seriusnya, apalagi ketika masuk ke segi spesial efek yang benar-benar menjadi sorotan utama dalam membuat film sci-fi, apalagi sci-fi yang melibatkan tentara Nazi di bulan. Spesial efeknya tidak begitu buruk, masih enak dilihat dan tidak begitu menganggu, hanya saja setting kotanya tidak terlalu “Amerika banget”, karena memang sebagian besar film ini syuting di Frankfurt.

Yang jelas film ini berhasil meledek habis-habisan Amerika sebagai negara adidaya yang sok tahu dan super konyol, digambarkan dengan karakter presiden wanita (yang menyerupai Sarah Palin) yang gemar menggunakan tagline milik Barrack Obama dan penasihatnya yang sok tahu, Vivian Wagner yang diperankan dengan sangat tolol oleh Peta Sergeant. Bahkan scene legendaris Adolf Hitler mengamuk di bunkernya yang ada di film Downfall turut dicitrakan oleh Peta Sergeant, super konyol dan kocak! Dari jajaran pemain, saya sebenarnya puas, karena Timo Vuorensola memilih aktor-aktor yang memang orang Jerman dan tetap konsisten dengan menggunakan bahasa Jerman asli jika memang yang sedang berbicara adalah para tentara Nazi (yang notabene orang Jerman!), apalagi dengan kehadiran Udo Kier yang merupakan aktor senior di Jerman. Makin terasa bahwa ini adalah proyek ambisius sang sutradara yang memang suka membuat cerita humor berlatar belakang Nazi dan Jerman (entah benci), terbukti proyek film mendatangnya berjudul “I Killed Adolf Hitler” dengan masih menggunakan konsep sci-fi, wow!

Tapi sayang ada beberapa latar belakang cerita yang masih miss, seperti kenapa tentara Nazi bisa berada di bulan selama itu tanpa mengetahui sudah terjadi perubahan drastis di bumi (bahkan mereka kaget bahwa iPhone bisa menyalakan pesawat induk yang bisa melubangi bulan dengan sekali tembak). Andaikan plotnya sedikit “diulik” sehingga lebih “masuk akal” (walau mustahil juga) saya yakin film ini akan mempunyai banyak fans. Karena siapa sih yang tidak merindukan film peperangan antara Nazi dan dunia di era modern ini, he-he.

Bagaimanapun juga, effort sang sutradara untuk merealisasikan film ini harus diacungi jempol (apalagi ide film ini datang dari mimpi sang penulis script-nya). Idenya memang liar, tapi dari segi teknis, akting hingga scoringnya, film Iron Sky sudah lumayan keren. Tidak melupakan unsur-unsur Nazi yang otentik, lagu motivasi berbahasa Jerman, sieg heil dan semacamnya hingga beberapa adegan “disturbing” seperti ketika seorang negro menjadi seorang kulit putih dan akhirnya berciuman dengan Renate Richter (argh!) yang menjadi wanita blonde super seksi, no shit! Hanya minus cerita dan leluconnya yang kurang banyak (karena sebagian agak “garing”) saya tetap lebih menikmati film ini dari film-film kelas B lainnya yang memang seperti tidak niat dibuat. Well, untuk hiburan ringan dan konyol, film ini cocok jadi pilihan anda. Sieg heil!

Rating: 2.5/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s