The Dark Knight Rises (2012/US)


The best fist fight ever in superhero movies!

Tujuh tahun yang lalu, karakter paling populer dari komik DC, Batman, dibuat ulang oleh Christopher Nolan yang terkenal dengan film psychological-thriller-nya, Memento. Tanpa diduga, Nolan berhasil menghadirkan karakter Batman yang lebih realistis dan lebih kelam. Dengan tema “fear” di film pertamanya, Nolan bergerak selangkah lebih maju dengan menghadirkan sekuel epiknya di The Dark Knight tiga tahun kemudian. Tentu saja faktor Joker yang diperankan dengan sempurna oleh almarhum Heath Ledger berhasil membius banyak penonton, bisa dibilang porsi Batman sendiri nyaris “terkubur” diantara humor-humor sadis dan rencana superior Joker dalam meluluh-lantahkan Gotham waktu itu, “chaos” adalah nama belakang Joker ketika itu. Kini, dengan setting delapan tahun setelah tragedi gila Joker yang mengakibatkan kematian Harvey Dent, Nolan menyuguhkan akhir yang epik dari perjalanan sang superhero yang sama sekali tidak mempunyai kekuatan super, The Dark Knight Rises.

Delapan tahun setelah peristiwa memilukan, dimana Batman dituduh menjadi orang yang bertanggung jawab atas kematian Harvey Dent, kini Gotham sedang mengalami masa-masa damai. Tidak ada kejahatan terorganisir, tidak ada mafia, dan tidak ada penegak hukum jalanan yang memakai topeng dan sayap. Bruce Wayne (Christian Bale) sudah pensiun dari tugasnya menjadi Batman, semangat hidupnya hilang, ia tidak bisa meneruskan hidup setelah kematian Rachel (Maggie Gyllenhaal). Kini ia hidup penuh dengan rasa sakit, hanya ditemani Alfred (Michael Caine) yang selalu setia menjaga keluarga Wayne turun temurun. Tapi bukan hanya Bruce Wayne yang menderita karena masa lalu yang pahit, seorang tentara bayaran bernama Bane (Tom Hardy) muncul dan meneror Gotham dengan pasukannya yang terlatih. Ya, motifnya sederhana, untuk menuntaskan pekerjaan mentornya yang dahulu dibunuh oleh Batman, Ra’s Al Ghul (Liam Neeson), yaitu menghancurkan Gotham. Maka Bruce Wayne kembali menjadi Batman untuk terakhir kalinya, dibantu beberapa karakter berlatar belakang “misterius” seperti Selina Kyle (Anne Hathaway) dan seorang polisi amatir anak buah Jim Gordon (Gary Oldman), John Blake (Joseph Gordon-Levitt).

How do I look?

Sebuah perjalanan panjang sampai akhirnya saya bisa menyaksikan film penutup dari trilogi Batman karya Nolan, dan bisa dibilang, The Dark Knight Rises adalah film penutup yang paling epik untuk mengakhiri kisah Batman. Berkutat dengan tema yang diusung dari awal “pain”, kita sebagai penonton akan diajak untuk melihat rasa sakit yang dialami dua karakter utama film ini, Batman dan Bane. Dua-duanya mempunyai latar belakang kelam dan mengalami pelatihan yang sama, tapi sayang hanya salah satu dari mereka yang mempunyai dendam membara, dan kita tahu orang tersebut bukanlah Batman.

Berbeda dengan The Dark Knight, Nolan nampaknya ingin mengakhiri kisah Bruce Wayne dengan membawa banyak elemen dari film pertamanya. Batman Begins menjadi landasan kenapa Batman itu ada dan kenapa Batman bisa bertahan sampai saat ini, maka Nolan memberikan ujian baru kepada Batman, dimana ia harus menghadapi musuh yang seimbang baik itu secara fisik maupun intelektualitasnya, seperti Ra’s Al Ghul. Disini, Bane adalah musuh yang mengemban dasar-dasar filosofis Ra’s Al Ghul, rencana yang tersusun matang dan eksekusi yang tidak berlebihan.

Harus diakui mungkin banyak yang terlalu berharap tinggi setelah melihat penampilan luar biasa Joker di The Dark Knight. Tapi perlu saya ingatkan, bahwa ini adalah film yang berbeda, situasi yang berbeda dan musuh yang berbeda. Joker adalah orang gila yang bisa membuat kekacauan dimana-mana dengan rencananya yang acak, tapi Bane adalah seorang penjahat yang mempunyai rencana terorganisir, sumber daya mumpuni dan berani menghadapi Batman secara langsung. Pendapat saya pribadi, baik Joker maupun Bane sama jahatnya dan sama hebatnya, tapi memang Joker lebih memorable, karena dia agak “gila” bukan? He-he.

The emotional and touching scene ever!

Justru yang paling saya suka di film terakhir ini adalah karakter Batman dan hubungannya dengan Alfred yang digali lebih dalam dan ditonjolkan seimbang dengan jumlah aksi dan kekacauan yang terjadi di Gotham. Salut kepada Nolan yang berhasil menyajikan adegan sarat drama yang sangat menyentuh, dan itu jarang ditemui di film superhero manapun, bahkan The Avengers sekalipun. Tidak terlalu ‘Joker-sentris’ seperti The Dark Knight, kita bisa menyaksikan dengan jelas bahwa Batman pun bisa tua dan bisa kalah, dan yang terpenting ia bisa bangkit! Christian Bale sekali lagi menunjukan kemampuannya memerankan karakter milyuner eksentris yang suka keluar malam, apalagi beberapa adegan Bruce Wayne yang berusaha bangkit dari “keterpurukan” mengingatkan saya akan usahanya untuk bisa bertahan hidup ketika masa pelariannya di Batman Begins, menyentuh sekaligus memotivasi.

Tapi harus diakui bahwa yang mencuri perhatian dari film berdurasi 165 menit ini adalah Anne Hathaway yang memerankan Selina Kyle alias Catwoman dengan sangat meyakinkan. Aksinya sebagai seorang pencuri dan penipu ulung menjadi daya tarik tersendiri terlepas dari pertikaian “kecil”nya dengan Batman. Sama halnya dengan Joseph Gordon-Levitt (JGL) semenjak penampilan penuh aksinya di Inception, JGL terus memberikan performa terbaiknya sebagai pahlawan ‘tanpa’ topeng ketika Gotham sedang diduduki Bane dan pasukannya. Mendampingi komisaris Gordon yang sudah tidak selincah dulu lagi, JGL benar-benar memberikan warna baru sebagai ‘good guy’ di film penutup epik ini. Jangan lupakan Miranda Tate yang diperankan oleh Marion Cotillard, bagaikan Mal di Inception, porsi kehadirannya tidak sebanyak karakter lain tapi menjadi unsur penting yang menjadi ‘penghubung’ antara Bruce Wayne dan karakter vital lainnya.

Don’t ever trust a beautiful woman!

Hey! Where is Summer?!

Terakhir tentu saja suguhan spesial efek dan aksi skala besar yang dihadirkan sempurna oleh Nolan. Diiringi oleh scoring mumpuni yang membangkitkan semangat ala Hans Zimmer, kita akan terus dibuat terpaku sepanjang film ini berjalan. Dari mulai parade teknologi baru Batman, The Bat, hingga senjata EMP yang dibuat dalam berbagai bentuk, kemudian pertarungan tangan kosong Batman dan Bane yang membuat bulu kuduk saya berdiri hingga peperangan epik di setengah jam terakhir film ini, Nolan menyuguhkan semuanya dalam skala yang luar biasa megah.

Ya, waktu 165 menit tidak terasa panjang, banyak karakter baru dan banyak permasalahan baru, tapi penuturan Nolan tetap mulus, sangat tertata, mungkin beberapa orang menilai storyline di The Dark Knight Rises terkesan terburu-buru, tapi tidak bagi saya, apalagi kalau anda sudah terbiasa menonton film-film karya Nolan, karena ini adalah ciri khasnya. Walau cerita dan latar belakang para karakter berlapis-lapis, tapi semuanya memiliki benang merah, bahkan masih ada hubungan erat dengan Batman Begins dan sedikit The Dark Knight, apalagi ketika adegan flashback Thomas Wayne yang berusaha menolong Bruce Wayne di dalam sumur dan mengatakan “Bruce, why do we fall?” Ya, quote yang sudah berumur tujuh tahun lamanya tersebut berhasil menggema lagi di otak saya ketika menonton The Dark Knight Rises, brillian!

Kenangan tidak selamanya indah, bahkan ada kenangan yang didasarkan pada kebohongan. Intinya, The Dark Knight Rises memberikan sebuah ujian berat bagi Batman, bahwa masa lalu adalah masa lalu, tidak ada yang bisa diperbuat untuk memperbaikinya, yang ada hanyalah bagaimana caranya melawan rasa takut yang sudah mengurung jiwa dan raga ini. Ujian terakhir bagi Batman di film ini adalah ujian terberat, dimana Batman harus bangkit setelah terpuruk delapan tahun lamanya, terkubur oleh kenangan pahit serta rasa takut untuk menghadapi musuh yang seimbang dengan dirinya.

Financial revolution!

Diluar segala kekurangannya seperti suara Bane yang terlalu ‘jernih’ dan terlalu besar dan tetek bengek lainnya yang tidak terlalu krusial terhadap jalinan cerita yang sudah dibangun dengan sangat rapih dari awal sampai akhir, sekali lagi, Nolan menyuguhkan sebuah tontonan blockbuster yang mempunyai kedalaman cerita dan aksi dalam skala besar yang seru untuk ditonton.

The Dark Knight Rises adalah penutup trilogi Batman yang epik, ditutup dengan endingnya yang manis dan akan membuat anda mempunyai pertanyaan baru setelah film ini selesai. Sekali lagi, Nolan menutup ending film ini dengan ciri khasnya yang sederhana tapi memorable. So, film ini sangat-sangat-sangat-sangat sayang untuk dilewatkan, apalagi bagi anda yang sudah menonton kebangkitan Batman sejak Batman Begins. Oh boy, you are in for a show tonight, son! Enjoy!

Rating: 5/5

NB: Turut berduka cita kepada para korban penembakan massal yang terjadi ketika premiere The Dark Knight Rises di Colorado, Amerika. Khususnya kepada beberapa korban luka-luka yang berasal dari Indonesia. Semoga kasus penembakan massal ini bisa segera diusut tuntas oleh pihak yang berwajib disana.

9 thoughts on “The Dark Knight Rises (2012/US)

  1. gw kira ras al gul itu karakter yang baru muncul di versi film😀

    trus si selina kyle seinget gw ga menyebut diri cat woman. dia ada sebagai selina kyle, tokoh wanita yang licin. cat

    womannya paling ada di kuping kucing yang terbentuk pas kacamatanya dilipat. awalnya gw underestimate, apaan cat woman

    begitu. tapi pas liat si anne dirias begitu, dan ditampilkan sebagai selina, bukan menyebut diri cat woman, tokoh itu jadi

    keren

    eh,senjata tu EMP apaan bro?😀

    juara di review ini adalah quotation lo ini:
    Kenangan tidak selamanya indah, bahkan ada kenangan yang didasarkan pada kebohongan. Intinya, The Dark Knight Rises

    memberikan sebuah ujian berat bagi Batman, bahwa masa lalu adalah masa lalu, tidak ada yang bisa diperbuat untuk

    memperbaikinya, yang ada hanyalah bagaimana caranya melawan rasa takut yang sudah mengurung jiwa dan raga ini.

    widih, nilainya 5/5. tapi emang iya sih, hampir ga ada cela ni film. karakter batmannnya juga humanis, logis lagi. perlu

    waktu lama buat sembuh, bisa sakit, dll. great movie

    Like

    • ra’s al ghul itu udah ada dari batman begins, makanya itu yg bikin gw suka sama TDKR karena nolan setia ma konsep trilogi batmannya, jadi mau nonton back to back tuh kerasa banget, mirip kayak LOTR deh kalo di film, hehe… trus EMP itu electronic magnetic pulse, senjata batman yg di terowongan, yg buat matiin alat elektronik, kayak kamera, trus mesin motor anak buahnya si bane sampe buat ngecegah sinyal bom nuklirnya…
      nilai segitu sih udah sewajarnya, TDK juga gw kasih rating sama, apalagi TDKR ini, gw suka karena banyak nguak masa lalu alias kenangan😀 ya tipikal film film nolan dah😀 dan yang terpenting, ini film superhero adaptasi komik loh😉 ada gak film adaptasi komik semanusiawi ini selain batmannya nolan dan watchmen? hehe😉

      Like

  2. Pingback: Locke (2014/UK) | zerosumo

  3. Pingback: Pilih Mana? Gotham, Constantine Atau The Flash? | zerosumo

  4. Pingback: Trailer Film Terbaru Christopher Nolan: Interstellar | zerosumo

  5. Pingback: Gary Oldman Mempunyai Aksen yang Mengganggu? | zerosumo

  6. Pingback: Trailer Terbaru Interstellar | zerosumo

  7. Pingback: Review Awal Interstellar | zerosumo

  8. Pingback: Ketika Christian Bale Cemburu Pada Batman Baru | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s