Hugo (2011/US)


Secretly plotting world domination with Hitgirl

Sebenarnya agak lucu, karena beberapa hari lalu saya baru menonton penampilan Ben Kingsley dan Sacha Baron Cohen di film gila, The Dictator. Tiba-tiba saja saya tertarik untuk menonton film yang memenangkan lima piala Oscar tahun ini, dan bukan film bisu hitam putih yang saya maksud. Hugo adalah film yang saya maksud, dua aktor yang memerankan karakter stres dan agak stres di The Dictator ternyata sebelumnya beradu peran di film yang diadaptasi dari buku Brian Selznick yang berjudul The Invention of Hugo Cabret. Walau tidak sepenuhnya beradu peran, Ben Kingsley, dan Sacha Baron Cohen khususnya, bisa menjadi karakter yang agak annoying diawal tapi menjadi lovable diakhir. Ya, walau tidak ada adegan-adegan headshot dan bacok-bacokan kampak ala film-film Martin Scorsese, Hugo tetap menjadi sebuah film yang memberikan pengalaman sinematik luar dalam, secara tak langsung Martin Scorsese berbicara pada kita, bahwa inilah cara kita para sutradara membuat mimpi menjadi kenyataan, dan film ini adalah salah satu bentuk apresiasi sutradara berumur 70 tahun itu.

Hugo Cabret (Asa Butterfield) adalah seorang bocah yang tinggal di stasiun kereta kota Paris, sehari-harinya ia bekerja memperbaiki jam-jam besar yang ada di sepanjang stasiun kereta. Tapi di waktu senggang ia berusaha memperbaiki sebuah automaton (menyerupai robot) yang merupakan peninggalan ayahnya yang meninggal belum lama ini. Hugo percaya bahwa automaton itu menyimpan pesan terakhir dari ayahnya, tapi untuk bisa memperbaikinya, Hugo membutuhkan onderdil tua, yang kebetulan ia curi dari sebuah toko mainan yang dimiliki seorang kakek tua pemarah bernama Georges (Ben Kingsley) dan anak asuhnya Isabelle (Chloë Grace Moretz). Ketahuan mencuri, Georges menghukum Hugo untuk bekerja di tokonya, tak ada pilihan lain, daripada menjadi sasaran inspektur Gustav (Sacha Baron Cohen) yang pincang tapi galak, Hugo kemudian bekerja di toko Georges hingga akhirnya ia menemukan kenyataan bahwa Georges bukanlah seorang kakek penjaga toko biasa. Pertemuan Hugo dan Georges ternyata membangkitkan kenangan lama, apalagi ternyata automaton yang sedang diperbaiki Hugo menyimpan pesan untuk keduanya.

Tidak ada clue sama sekali ketika saya menonton film ini, padahal film ini merupakan pesaing berat The Artist di awal tahun ini dalam ajang Oscar. Jujur waktu itu saya belum tertarik menonton film ini, karena saya sudah terbiasa dengan film-film thriller action seru milik Martin Scorsese, jadi saya pikir Hugo bukan sebuah tontonan yang harus disegerakan ditonton. Tapi setelah menonton film berdurasi 120 menit ini, saya mengerti kenapa film ini mendapatkan lima Oscar, tidak disangka, dibalik petualangan Hugo memperbaiki sebuah automaton, ia juga berhasil memperbaiki kehidupan seseorang yang sudah lama terpuruk, dan bagi saya, film apapun yang menyelipkan tema kenangan dan diolah sedemikian rupa dengan sangat indah, itu sudah cukup bagi saya memberikan bintang empat dari lima untuk film ini.

Alur film ini memang berjalan cukup lambat, tidak begitu cepat, tapi Martin Scorsese suka dengan detail-detail film ini yang terus dipertontonkan dari awal hingga akhir film, apalagi film ini dirilis dalam format 3D, saya melihat kepiawaian Martin menyuguhkan pemandangan stasiun kereta Paris dengan sangat detail, penuh warna, penuh karakter dan memorable. Dari mulai Hugo dan aksi kucing-kucingannya dengan inspektur Gustav, saya melihat film ini seperti menyajikan banyak cerita kecil didalamnya, yang pada akhirnya menuju suatu konklusi besar dimana petualangan Hugo menjelajah stasiun kereta tersebut berujung pada pertemuan pentinganya dengan Georges.

Walau settingnya tahun 30-an di Paris, saya tetap bisa menikmati film ini, tidak terkesan modern tapi terkesan seperti film fantasi yang memang berdasarkan dari sebuah buku, padahal sebenarnya tidak ada sama sekali unsur fantasi di film ini. Tapi itulah indahnya film ini, karena membuat sebuah film itu membutuhkan daya imajinasi yang tinggi, sebuah harapan, impian dan fantasi. Martin Scorsese berhasil menangkap semua itu, karena proses pembuatan film adalah sebuah proses mewujudkan mimpi dan seharusnya hal tersebut selalu dikenang, bukan dilupakan. Itulah pesan moral yang hampir membuat saya berurai air mata, tidak bisa disangkal, walau terlihat sederhana, tapi pesan film ini benar-benar tersampaikan.

Well, untuk sebuah film keluarga, Hugo merupakan tontonan yang tepat, tapi jangan harap film ini adalah sebuah film fantasi, karena walau ada sentuhan-sentuhan fantasi, film ini masih tetap film realis yang menyimpan banyak pesan moral. Terlebih lagi, Hugo adalah film yang menunjukan kepada kita semua bahwa hasil karya itu bukanlah sesuatu yang sepele, seperti film. Ya, kita akan belajar mengapresiasi sebuah karya film lewat petualangan Hugo Cabret, dimana unsur komedi, drama bahkan romantisme menyatu di film ini. Tunggu apalagi, tonton saja langsung!

Rating: 4/5

2 thoughts on “Hugo (2011/US)

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s