Mama Cake (2012/Indonesia)


 

So what if i love AADC so much?!

Mama Cake, sekilas tidak ada yang begitu memperhatikan film ini dibalik terjangan film romansa Indonesia yang sudah dimulai dengan Perahu Kertas, Test Pack, Radio Galau FM hingga sekuel Perahu Kertas yang rilis bulan Oktober nanti. Tapi entah kenapa akhirnya saya menonton film Mama Cake, yang notabene tidak ada keyword “romansa” yang terlalu di ‘highlight’ dibandingkan film Indonesia lainnya. Setelah meet and greet dengan sutradara dan para pemainnya, Anggy Umbara sutradara film ini menjelaskan dengan singkat kenapa ia membuat Mama Cake, tidak lain adalah untuk menumpahkan unek-uneknya pada kondisi sosial masyarakat kita sekarang, khususnya para anak muda saat ini. Ya, dibalik perawakan sangar Anggy Umbara, ia menyiratkan banyak makna dan pesan lewat filmnya yang berdurasi 137 menit ini.

Rakha (Ananda Omesh), Willy (Boy William) dan Rio (Arie Dagienkz) adalah tiga orang sahabat yang sedang melakukan perjalanan ke Bandung dari Jakarta. Rakha harus membeli brownies Mama Cake langsung dari pusatnya di Bandung karena neneknya yang sedang sekarat di rumah sakit meminta hal tersebut. Tapi entah mengapa, perjalanan yang seharusnya mudah menjadi susah ketika mereka menemukan banyak hal selama perjalanan Jakarta-Bandung. Banyak pertentangan yang tiba-tiba terjadi, dari mulai masalah sepele hingga masalah ideologi, dapat dikatakan perjalanan mereka membeli brownies bagaikan perjalanan untuk menghadapai ujian terberat dalam hidup mereka sekaligus untuk mendapatkan pencerahan bagi mereka masing-masing.

Anggy Umbara, DJ di band metal Purgatory yang banyak menyisipkan ‘dakwah’ di tiap musiknya kini bergerak ke media yang lebih universal, film. Langkah tersebut bisa dibilang tepat, karena secara tak langsung, dakwah yang disampaikan oleh Anggy lewat Mama Cake lebih mengena dari film-film religius Hanung Bramantyo sekalipun. Anggy Umbara berhasil menusuk ke hati yang terdalam para penontonnya, termasuk saya, lewat pesan religiusnya yang sangat mengena. Dibalik sindiran-sindirannya pada kondisi sosial saat ini, dari mulai gaya hidup anak muda hingga konsep “you are what you eat”, saya yakin masih banyak yang ingin Anggy sampaikan.

Hal tersebut didukung oleh para pemerannya yang menurut saya bermain cukup gemilang, dari mulai Omesh, Boy William hingga Arie Dagienkz berhasil merepresentasikan gambaran anak muda saat ini, prinsipil, tidak terikat sekaligus womanizer. Jangan lupakan visualisasi film ini yang dibungkus menarik sedari awal, didukung angle-angle kamera yang ‘radikal’ untuk ukuran film Indonesia, nampaknya Anggy senang mengeksplorasi setiap sudut mati yang ada di layar. Alhasil hal tersebut menarik perhatian saya dari awal film ini dimulai, dan bisa dikatakan teknik editingnya memang eye-catching. Well dari segi teknis, saya cukup puas, even perubahan warna hijau ke biru yang masih terlihat kasar, saya tetap puas dengan apa yang ingin disuguhkan Anggy dari awal, konsisten dan sempurna.

Tapi dibalik semua itu, saya tertarik sekali dengan penyampaian cerita dari Mama Cake ini, didukung jajaran pemeran pembantu yang walau hanya tampil secuil-secuil tapi tetap menjadi sumber tawa tersendiri. Apalagi 80% film ini bersetting di Bandung, which is my beloved hometown, sehingga leluconnya sangat ‘kena’ banget. Dari mulai penampilan Candil yang ngagebray sampai aksi Joe ‘Project P’ yang mengerikan tapi konyol. Film ini seperti film Snatch tapi bayangkan geng gipsi Brad Pitt diganti dengan geng Sunda. Hal tersebut mungkin bisa menjadi flaw tersendiri buat orang yang bukan orang Sunda, apalagi tanpa ada subtitle untuk bahasa-bahasa tertentu, mungkin bisa menjadi masalah bagi beberapa kalangan, tapi untungnya tidak bagi saya yang sangat menikmati percakapan-percakapan bodoh antara Rakha dan Willy yang kemampuan bahasa Inggris-nya selevel dengan Cinta Laura. Ya, sindiran dimana-mana, anda harus buka mata dan telinga lebar-lebar ketika menonton film ini, karena itulah kebenaran yang harus anda ketahui.

Jelas sekali Mama Cake bukan film untuk semua orang, tapi film seperti inilah yang dibutuhkan orang-orang saat ini, tidak seperti menggurui tapi dibalik pesan moralnya, saya tersentil, atau lebih tepatnya saya tergampar keras oleh kelezatan brownies Mama Cake ini.

So, good job and well done Anggy Umbara, Mama Cake adalah film yang mungkin menjadi film cult tersendiri nantinya, and I like every minute of it. Bagi anda yang suka film yang menitikberatkan pada dialog antar karakternya, saya jamin dua jam setengah tidak akan terasa ketika menonton film ini, buktikan sendiri and enjoy the brownies.

Rating: 3.75/5

 

 

 

 

6 thoughts on “Mama Cake (2012/Indonesia)

  1. Pingback: Comic 8 (2014/Indonesia) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s