Premium Rush (2012/US)


Well, don’t miss my action at the closing credit guys!

Ditengah hiruk pikuk New York yang super padat, ada seorang kurir yang ternyata mempunyai skill mumpuni dalam bersepeda, tanpa rem dan tanpa ragu-ragu, ia adalah kurir sepeda terbaik di New York saat itu. Setidaknya itulah premis yang bisa ditangkap ketika menonton film terbaru Joseph Gordon-Levitt (JGL) yang berjudul Premium Rush ini. Lima belas menit pertama film ini berjalan kita akan diberitahu bagaimana seluk beluk pekerjaan seorang kurir sepeda yang harus berjibaku dengan lalu lintas New York yang super padat dan kadang mematikan, sampai akhirnya Wilee (JGL) harus mengantar sebuah paket yang ternyata diincar juga oleh seorang polisi korup New York bernama Bobby (Michael Shannon) yang sedang terlilit hutang besar kepada perkumpulan orang (gangster) Cina.

Film ini lumayan mendapat perhatian besar karena sosok JGL sedang panas-panasnya di layar lebar, setelah penampilan sederhana tapi mematikan di The Dark Knight Rises (dan Looper yang akan datang), JGL kembali lagi dalam film aksi sederhana yang ditukangi oleh sutradara David Koepp. Premium Rush adalah salah satu film aksi sederhana yang dieksekusi dengan sangat baik, didukung oleh dua aktor yang bermain dengan sangat baik pula, bisa dikatakan film ini bisa membuat anda seperti berada di arena balap sepeda, he-he.

Penampilan JGL yang charming dan serius di The Dark Knight Rises tidak begitu menular ke film ini, disini ia memerankan seorang pria yang sangat cinta berada di jalanan (freedom!) dengan sepeda usang tanpa remnya (baca: sepeda fiksi modif). Hidupnya seperti ditakdirkan untuk menjadi seorang penggowes sepeda sejati, sampai akhirnya ia harus mengantarkan paket dari temannya, Nima (Jamie Chung), tapi entah mengapa si wanita Asia ini menyimpan rahasia hingga paket yang ia berikan pada Wilee diincar Bobby yang setengah sinting. Maka kejar-kejaran menelusuri kepadatan Manhattan pun dimulai, mobil versus sepeda!

Dengan visualisasi yang lucu, berbau GPS campur Google Maps (entah Bing), David Koepp benar-benar memberikan kepuasan kepada para penonton yang hobi bersepeda. Scoring musik yang menggebu-gebu dan long shot balapan sepeda melalui jalanan super padat ditampilkan dengan sangat bersih dan (terlampau) rapih malahan. Tapi dari segi cerita sebenarnya tidak begitu spesial, bisa terbilang biasa saja, hanya saja David Koepp menyajikan cerita gowes Wilee dalam alur maju mundur ala film-film era Memento jaman dulu, membawa penonton untuk memahami jalan cerita Wilee secara bertahap, kenapa ia bisa sampai terlibat kejar-kejaran dengan polisi gila.

Selain itu, tidak ada yang spesial, kecuali kekuatan akting Michael Shannon yang gemilang. Memerankan karakter antagonis polisi korup yang kurang ajar, Michael Shannon berhasil membuat penonton dan saya pribadi jengkel karena kelakuannya yang agak menyebalkan sekaligus tolol. Sebagai lawan JGL, saya tetapkan dua insan ini adalah pasangan lawan-kawan yang menarik sepanjang film ini berjalan, sementara pemeran lain hanya menjadi pemanis semata, tapi jangan lupakan jasa polisi bersepeda dan persaingan Wilee dengan Manny (Wolé Parks) yang menjadi sumber tawa lain di film yang berdurasi kurang lebih 90 menit ini.

Well, untuk sebuah film yang memompa jantung (dan hasrat para wanita!) anda ketika melihat JGL mengayuh sepedanya, Premium Rush bisa menjadi tontonan yang mengasyikan. Seberapa standarnya cerita yang disajikan di film ini, saya tetap terhibur dari awal sampai akhir, karena David Koepp tidak melupakan elemen hiburan lainnya dalam sebuah film. So, tunggu apalagi, anda suka gowes? Belum afdol kalau belum menonton film ini, enjoy the ride!

Rating: 3/5

 

 

 

3 thoughts on “Premium Rush (2012/US)

  1. setuju,scoringnya juara pisan,suka musik2nya gw.ini film juga tanpa cela.apalagi yang ga nonton credit scene pasti rugi,ada si JGL liatin luka pas dia syuting.kok keren banget ya si joe ini,udah jago akting,main sepeda jago juga, bikin social media hitrecord.org lagi.gw banget (maunya).hahahahahaha

    Like

    • gw juga mau kaya dia mah za, hahaha, ya gpp lah, namanya juga bintang film, diwajibkan untuk bisa segala hal sih, hehe😛 sepanjang dia tetep maen di film film yang menghibur gw mah, it’s fine with me😀

      Like

  2. Pingback: Mari Lari (2014/Indonesia) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s