Cosmopolis (2012/France)


Okay, just aim that gun to Bella!

Jika anda penggemar Twilight, sebaiknya lewatkan film terbaru David Cronenberg berjudul Cosmopolis ini, karena saya sebagai yang ‘bukan’ penggemar Twilight saja masih kurang menikmati film ambisius yang dibintangi oleh Robert Pattinson ini. David Cronenberg bukanlah sineas sembarangan, film buatannya yang mempunyai ciri khas “brutal dan kekerasan yang realistis” berhasil membuat saya suka pada beberapa karyanya, sebut saja Videodrome, A History of Violence dan Eastern Promises yang memukau. Tapi ternyata di film terbarunya ini, David Cronenberg mengadaptasi novel karya Don DeLillo ke dalam layar lebar, bukan kekerasan fisik lagi yang diangkat di film ini, melainkan kekerasan ‘ideologi’ yang entah saya sendiri tidak begitu paham, ha-ha.

Eric Packer (Robert Pattinson), seorang pria berumur 28 tahun yang (sangat) super kaya memutuskan untuk pergi mengunjungi tukang cukur langganan ayahnya dengan menggunakan limosin putih miliknya. Ditemani bodyguardnya, Torval (Kevin Durand), Packer berkeliling kota yang sedang didera banyak masalah, dari mulai krisis ekonomi, kedatangan presiden, kematian rapper terkenal, Brutha Fez (K’Naan), hingga demonstrasi anti kapitalisme. Selama perjalanan, Packer menemui banyak orang di limosinnya, dari istrinya yang dingin, Elise (Sarah Gadon), Analisnya, Shiner (Jay Baruchel) dan Chin (Philip Nozuka), selingkuhannya, penasehatnya, hingga orang yang ingin membunuhnya, Benno (Paul Giamatti). Perjalanan Packer dari awal hingga akhir memproyeksikan bahwa hidupnya akan habis ketika hari itu berakhir. Dan saya masih belum bisa menangkap maksud perjalanan ‘spiritual’ Packer menuju kematiannya sejak tagline “a rat became the unit of currency” muncul di opening scene.

Berdasarkan tagline tersebut, saya menyimpulkan bahwa film ini bakal banyak mengungkit masalah-masalah ekonomi yang sangat rumit, apalagi dengan simbol tikus yang banyak ditampilkan di layar dan celotehan Packer bahwa dia tidak bisa mengukur Yuan, saya menyimpulkan bahwa kekayaan Packer yang entah seperti tidak ada batasnya itu didapat dari hasil trading atau pasar saham dan sejenisnya. Dan disaat Packer tidak bisa bermain di mata uang Yuan, ia frustasi, karena biasanya ia adalah orang yang bisa melihat peluang. Maka perjalanan Packer menuju tukang cukur langganan ayahnya hanyalah sebuah pelarian dari obrolan-obrolan anehnya dengan karakter-karakter yang ditemui di setiap persimpangan, apalagi istrinya yang dingin, dimana sepertinya seks adalah hal yang vital bagi Packer.

Dari semua celotehan-celotehan ‘berat’ yang entah berbobot atau entah memang saya tidak bisa menangkapnya, Cronenberg nampaknya ingin menyampaikan sesuatu lewat novel karya Don DeLillo ini, sesuatu yang berhubungan dengan keserakahan dan bagaimana uang telah menjadi batasan bagi manusia. Dalam scene obrolan Packer dengan penasihat teori ekonominya or whatever, sekarang orang menolak untuk melihat masa depan, karena hal tersebut justru akan membuat pergerakan kita terukur dan terprediksi. Dari celotehan tersebut saya sedikit mengerti kenapa Packer ‘goes rampage’ di paruh akhir film ini, tapi tetap tidak bisa menjelaskan apa niatan asli Packer untuk mengkonfrontir orang yang membunuhnya setelah ia menyingkirkan bodyguardnya sendiri, dan lucunya orang yang ingin membunuhnya adalah mantan pegawainya sendiri, yang entah bekerja dimana (The Complex?).

Absurd? Bisa jadi, tapi mungkin ada novel yang seharusnya tidak pernah diangkat menjadi film, dan mungkin Cosmopolis adalah salah satunya, dimana dialog-dialognya terlalu sulit untuk dicerna, padahal saya menyukai sekali sinematografi yang dipertunjukan Cronenberg, dan scoring musiknya yang benar-benar mendukung, benar-benar sebuah pemandangan masa depan yang mengerikan.

Jadi, apakah anda sudah menonton film ini? Film yang masuk nominasi di Cannes Film Festival dan film yang katanya salah meng-casting Robert Pattinson sebagai pemeran utamanya. Bagi saya pribadi, saya tidak begitu terganggu dengan kehadiran Robert Pattinson, karena saya melihat ia sangat berusaha keras untuk menunjukan bahwa dirinya bisa menjadi the next Leonardo DiCaprio maybe. Tapi mungkin untuk film yang seberat dan seambisius David Cronenberg ini, saya pikir Robert Pattinson harus tetap berada di jalur vampir yang mempunyai kulit berkilau.

Well, ini bukan film untuk semua orang, dan jelas bukan film untuk saya juga, walau saya tidak bisa menikmati plot cerita dari Cosmopolis, saya masih tetap terhibur dengan visualisasi ala Cronenberg yang memang selalu tanpa cela, dan scoring musiknya yang sangat mendukung. Take it or leave it, enjoy this movie if you want to.

Rating: 2/5

 

 

 

2 thoughts on “Cosmopolis (2012/France)

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s