Looper (2012/US)


Still have time to learn France huh?

Ceritanya tahun 2044, dimana ternyata dunia masih sama buruknya dengan tahun ini, banyak gelandangan ditodong senjata (ditembak malahan) oleh orang-orang yang lebih keren, yang membedakan hanyalah alat nyiram ladang gandum yang bisa terbang dan motor terbang, sisanya sama-sama chaos. Tapi beruntung di tengah keboringan masa depan ada sekelompok orang yang mempunyai profesi seru sebagai looper, yang ditugaskan oleh bosnya di masa depan, tepatnya 30 tahun setelah 2044, untuk membunuh orang-orang yang dibenci di tahun 2044, biar tidak ada jejak dan musnah dari peradaban umat manusia. Mungkin itu segelintir premis tentang film Looper, film terbaru dari Joseph Gordon-Levitt (JGL) (lagi) yang berduet dengan Bruce Willis. Di film yang ditangani oleh Rian Johnson ini, JGL memerankan versi mudanya Bruce Willis, lengkap dengan make up yang hampir membuat wajahnya seperti orang yang kena kram. Tapi bukan Hollywood namanya kalau tidak otentik (sejak kapan?).

Joe (JGL) yang bertugas menjadi looper gagal melakukan tugas terakhirnya, karena orang yang dikirim dari masa depan untuk dibunuh adalah dirinya sendiri! Panik karena takut berurusan dengan bosnya Abe (Jeff Daniels), yang dulu berprofesi sebagai anchor (salah fokus), Joe berusaha untuk membunuh dirinya sendiri yang sedang mengejar seorang bocah yang disinyalir bakal menjadi bos mafia paling mengerikan 30 tahun mendatang yang mempunyai julukan ‘the rainmaker’, atau dengan kata lain, tukang jagal para looper! Jika seorang looper gagal membunuh dirinya sendiri, di scene awal anda akan diperlihatkan bagaimana sahabat Joe, Seth (Paul Dano) disiksa oleh Kid Blue (Noah Segan) tanpa harus susah payah mengejar Seth yang datang dari masa depan. Untungnya Joe pandai, dia bersembunyi di rumah seorang single mother bernama Sara (Emily Blunt) yang mempunyai bocah berumur 10 tahun yang berlagak seperti remaja sok tahu, Cid (Pierce Gagnon). Ya who knows, Sara dan Cid adalah jawaban dari masalah Joe, tapi ternyata?

Tapi ternyata film ini didukung dengan script yang tidak catchy untuk sebuah film sci-fi action yang melibatkan time travel sebagai hidangan utamanya. Dari awal kita sudah dipaksa ngos-ngosan dengan serentetan aksi dan ringkasan singkat tentang apa itu looper dan mengapa para looper harus tampan-tampan? Tapi setelah pertemuan Joe dengan dirinya yang sudah botak, kita akan diseret ke sebuah film drama action yang sedikit cengeng sampai pertengahan film. Entah kenapa semangat saya menonton film ini tiba-tiba lenyap begitu saja, karena saya sudah tahu sedari awal siapa Sara dan Cid, lalu mengapa penonton dibawa mondar mandir mengikuti jalinan cerita Joe dan janda yang mempunyai kekuatan telekinetik tersebut.

Rian Johnson menurut saya sutradara yang masih terlalu dini untuk mengeluarkan film yang mempunyai tema sekompleks ini. Harus diakui idenya memang brillian, tapi sayang sekali eksekusinya tergolong lambat dan anti klimaks untuk sebuah film time travel, bahkan ditutup dengan ending yang terlalu “mudah” di kalangan para pecinta film time travel. Bahkan, Hot Tub Time Machine pun mempunyai plot yang lebih seru untuk ditonton, padahal filmnya hanya mengumbar ketololan para karakternya saja. Apalagi kalau dibandingkan dengan The Butterfly Effect, walau endingnya terlihat senada, tapi alur cerita dari awal selalu memberikan kemungkinan-kemungkinan yang membuat penonton terpaku pada layar monitor, apa yang terjadi kalau ini, kalau itu, dll.

Apapun kata orang, untungnya saya tetap terhibur dengan aksi Bruce Willis yang setia menodongkan senapan otomatisnya ke para penjahat (entah para polisi korup) di paruh akhir film ini, brutal dan asyik. Walaupun dibutuhkan empat jam untuk membuat wajah JGL agar menyerupai Bruce Willis, saya tetap agak risih dengan penampilan JGL di film ini, penampilan fisiknya, apalagi melihat bagian mulutnya yang menonjol. Tapi mungkin itu tergantung selera, ada yang suka, ada yang kurang sreg, tapi wajah sintesis itu tidak mengurangi performa akting JGL yang makin terasah dan makin mumpuni.

Ya, tahun ini adalah tahunnya JGL, tapi Looper bukan pilihan saya untuk film terbaik JGL tahun ini. Untuk film yang bertema time travel, saya masih menunggu rilisnya Safety Not Guaranteed yang mempunyai premis menarik, semoga saja bisa lebih baik dari Looper. But for some action and entertainment, Looper is your choice, enjoy!

Rating: 3/5

One thought on “Looper (2012/US)

  1. Pingback: Predestination (2014/Australia) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s