Rock of Ages (2012/US)


Love is not enough, huh?

Ada satu film yang mengingatkan saya pada film musical rock yang baru saya tonton ini, yaitu Hairspray (bukan Glee!). Hairspray dan Rock of Ages sama-sama diisi oleh banyak bintang Hollywood berkelas, bedanya hanya di genre musik yang mereka usung saja. Tentunya saya lebih condong ke rock, oleh karena itu, Rock of Ages lebih berkesan karena banyak lagu-lagu rock bombastis tahun 80-an yang lebih memorable daripada lagu-lagu dance pop tahun 70-an. Intinya, Hairspray dan Rock of Ages adalah dua film musikal yang sama bagusnya, tapi entah kenapa, I just love rock n roll baby!

Seorang wanita dari ndeso, bernama Sherrie (Julianne Hough) datang ke Hollywood mengadu nasib demi mewujudkan impiannya menjadi penyanyi ternama. Tanpa sengaja Sherrie bertemu dengan Drew (Diego Boneta), seorang pegawai bar sebuah klub rock ternama, The Bourbon, yang ditukangi oleh Dennis (Alec Baldwin) dan teman (kekasih) prianya yang loyal, Lonny (Russell Brand). Tidak usah menunggu waktu lama, Sherrie dan Drew jatuh cinta, tapi cinta mereka harus diuji seiring kedatangan seorang rockstar bernama Stacee Jaxx (Tom Cruise) yang akan menggelar konser terakhir bandnya, Arsenal, di The Bourbon. Bersamaan dengan konser terakhir Arsenal, ada seorang jurnalis The Rolling Stone bernama Constance (Malin Akerman) yang penasaran dengan kehidupan sebenarnya Stacee Jaxx, dan ada seorang politisi wanita bernama Patricia (Catherine Zeta-Jones) yang nampak benci sekali kepada Stacee. Semua problematika tersebut terbungkus dan tersaji lewat untaian nada-nada tinggi serta distorsi rock ala 80-an yang kental dan khas.

Seperti yang saya sampaikan di awal, I just love rock n roll, no matter why. Walau hampir separuhnya lagu yang dinyanyikan para aktor dan aktris berkelas Hollywood ini bukan lagu favorit saya. Tapi semangat rock era 80-an benar-benar terasa, apalagi dengan banyaknya lagu-lagu rock yang di mash-up sedemikian rupa, membuat saya makin menikmati jalan cerita film yang ternyata mempunyai durasi lebih dari 120 menit ini! Ya, durasi sepanjang itu memang tidak aneh di sebuah film musikal, apalagi kalau film musikalnya melibatkan musik rock, oh yeah, saya betah menonton film ini dari awal hingga akhir.

Beberapa kaum hipster mungkin banyak yang menyangka bahwa film ini adalah copycat dari serial musikal paling ngetrend belakangan ini, Glee, dikarenakan ada lagu “don’t stop believing”-nya, bitch please! Bukan Rock of Ages namanya kalau aransemen don’t stop believing disini jadi makin catchy dan makin nendang dari pendahulunya di Glee. Sebagai pecinta musik rock, sebagus apapun itu lagunya, akan lebih bagus jika lagu tersebut diberi hentakan drum dan distorsi gitar yang bising, kalau tidak percaya, dengarkan lagu “more than words” yang dinyanyikan Sherrie dan Drew di film ini. Seakan-akan saya lupa kalau Extreme membawakan lagu ini hanya dengan gitar akustik mereka.

Sebenarnya tidak ada yang begitu spesial dari jalinan cerita Rock of Ages yang linear dan standar ini. Hanya saja penekanan kata ‘rock’ sangat ditonjolkan disini, apalagi ketika melihat Tom Cruise yang berperan menjadi seorang rockstar fiktif nan flamboyan dan super douchebag, serasa melihat tiga vokalis rock besar super douchebag bersatu ketika melihat Tom Cruise menjadi Stacee Jaxx disini. Hal itu juga yang membuktikan bahwa pria berumur 40-an ini ternyata masih bisa membuat para wanita mimisan, bahkan saya juga tidak percaya ketika melihat Tom Cruise menjadi Stacee Jaxx disini, apa dia tidak pernah bisa tua?! Please Tom! Why don’t you fucking grow old!

Selain Tom Cruise yang super mesmerising sedari awal, masih ada dua pemeran utamanya yang lumayan menyita perhatian saya, tidak lain dan tidak bukan adalah Diego Boneta dan Julianne Hough, yang memerankan Drew dan Sherrie, dan mereka bisa bernyanyi, bahkan bernyanyi lebih baik dari Russell Brand. Tapi memang dibutuhkan talenta seperti mereka untuk mengisi film-film musikal seperti ini, dan untungnya Diego dan Julianne adalah talenta yang cocok untuk mewakili musik rock bagi para penonton yang satu generasi dengan mereka.

Ya, terima kasih untuk Adam Shankman yang berhasil menyutradarai film ini seperti yang dia lakukan dengan Hairspray dulu, tidak terlalu alay, tapi masih bisa membuat saya ingin mendengarkan lagu-lagu Bon Jovi lagi setelah “wanted dead or alive” disenandungkan di film ini. Apalagi film ini menyimpan banyak cameo dari para rockstar/musisi asli yang lagu-lagunya ada sepanjang 120 menit berjalan, hingga sutradara tukang jagal, Eli Roth, sempat-sempatnya muncul menjadi cameo sutradara boyband jayus! Silly yet funny.

Pada akhirnya, jawaban dari maksud film ini dibuat hanyalah satu, cinta. Ya, pada akhirnya, cinta lagi yang membuat kita bersatu dan saling menghargai, beruntung, Rock of Ages berhasil membuat definisi cinta lebih liar dan lembut di waktu yang bersamaan. So, kalau anda suka musik rock, apalagi anda termasuk angkatan 80-an, saya pikir anda tidak mungkin tidak suka dengan film ini, enjoy and keep rock n roll baby!

Rating: 4/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s