Savages (2012/US)


How dirty you are John?

Kembali lagi dengan review film suka-suka ala saya yang beberapa hari ini vakum karena entah kenapa saya tiba-tiba ketagihan main Torchlight II, padahal game itu sudah lama terinstal di PC saya, maka mau tidak mau, sekarang kerjaan saya dalam dunia digital bertambah, selain disibukkan oleh serial-serial favorit dan film-film blockbuster yang banyak terlewat, sekarang saya harus berurusan dengan karakter Berserker yang sedang struggle menaikan level di Torchlight II. Beruntung saya kemarin rehat sejenak dan menonton film terbaru garapan Oliver Stone yang berjudul Savages, salah satu film yang dinanti-nanti dan lumayan sesuai dengan ekspektasi saya sebagai film crime-action-thriller yang ringan dan menghibur.

Savages, sesuai dengan judulnya yang mempunyai artian ‘liar’ atau ‘tak beradab’ dibuka dengan scene tak beradab dari geng asal Meksiko yang doyan memisahkan kepala manusia dengan gergaji mesin. Rekaman tak beradab tersebut disaksikan oleh Chon (Taylor Kitsch) dan Ben (Aaron Taylor-Johnson) yang sehari-hari berprofesi sebagai wirausahawan yang bergerak di bidang obat-obatan ilegal (ganja, mariyuana dll) yang mempunyai kualitas tinggi dan sudah terkenal seantero Amerika. Chon dan Ben mau tak mau harus bernegoisasi dengan geng Meksiko tersebut, dipimpin oleh Elena (Salma Hayek) yang mempunyai kaki tangan dengan kumis brutalnya, Lado (Benicio Del Toro), pertikaian kedua entrepreneur ini memuncak ketika Ophelia a.k.a “O” (Blake Lively), pacar dari Chon dan Ben (ya betul, anda tidak salah baca) diculik oleh Lado. Maka genderang perang pun dimulai! Chon sebagai mantan tentara tentu saja mengambil langkah radikal daripada Ben yang cinta damai. Lalu siapa yang menang?

Tidak jauh-jauh dari game yang saya mainkan, film ini memegang teguh kata ‘savages’ dalam artian sebenarnya. Entah itu adegan brutalnya maupun adegan seksualnya, dari mulai tindak tanduk polisi kotor (yang diperankan dengan sangat gemilang oleh John Travolta), bakar-bakaran orang hingga adegan three-some yang absurd. Ya, bisa dibilang, jauh di lubuk hati, kita semua pada dasarnya adalah orang-orang yang tidak beradab jika tidak ada pembatasnya. Dan Ben adalah pembatas yang ‘semi-abu-abu’ di film liar ini, dimana ia lebih memilih filosofi Buddha dalam berkegiatan, damai tanpa kekerasan, sampai akhirnya ia harus bertindak brutal juga karena setiap manusia ada batasnya, dan Chon adalah pelatuk dari ‘pistol’ keberadaban menuju ketidakberadaban Ben.

Saya bukannya mau sok filosofis disini, tapi saya mengerti kenapa durasi film yang mempunyai plot sederhana ini bisa membengkak sebegitu lamanya untuk sebuah film action yang notabene ‘so-so’. Ya, Oliver Stone berusaha untuk mengulik latar belakang setiap karakter utamanya disini, terutama trio Chon, Ben dan O yang sebenarnya mempunyai hubungan yang tidak sehat karena kita tahu bahwa O juga ternyata berangkat dari keluarga yang tidak sehat. Sebaliknya justru Elena hadir sebagai tokoh yang bisa dibilang ‘game changer’ di film ini. Ya, Elena mewakili sisi ‘beradab’ dari para geng Meksiko yang gemar memenggal kepala orang.

Oliver Stone berhasil memperlihatkan sifat manusia yang paling dalam, apakah ia terlahir brutal atau terlahir polos tapi karena keadaan yang membuatnya brutal? Batasan-batasan seperti itulah yang membuat kita suka lupa, siapa sebenarnya orang yang paling ‘benar’? Bahkan karakter Esteban yang notabene penjahat pun bisa mempunyai sisi kasihan ketika melihat O disiksa terus-menerus.

Diluar semua itu, gaya penyutradaraan Oliver Stone untuk film-film genre seperti ini selalu enak dilihat, disesuaikan dengan tema ganja dan mariyuana plus narasi O yang seperti setengah giting dan visualisasi serta lanskap indah yang ditangkap oleh lensa kamera, Savages seperti film yang berimbang dari semua sisi. Sisi kekerasan yang ditampilkan dengan realistis dan juga sisi keindahan yang diwakili oleh pemandangan dan impian para karakter utama di film ini, tidak sedikit bukan kita mendengar trio Chon, Ben dan O yang ingin tobat dan pensiun di Indonesia? Setidaknya kita harus berbangga, karena Ben berniat untuk membantu para penduduk desa yang kekurangan air di Indonesia, walau dengan modal hasil penjualan mariyuana kelas satu, ha-ha.

Mungkin ending film ini yang membuat beberapa orang agak kurang sreg dengan tensi yang sudah dibangun sejak awal, entah kenapa bagi saya justru ending film ini seperti isyarat Oliver Stone pada penontonnya yang sejak awal menantikan ending yang bombastis, why so serious? Karena bagi saya, Savages tidak butuh ending yang bagus, tapi hanya butuh pengakuan, bahwa Oliver Stone berhasil menyampaikan apa yang ia maksud dengan ‘savages’. Dan jangan lupakan peran komikal John Travolta, sudah lama saya tidak melihat aksinya menjadi seorang douchebag, well, I like this movie and maybe you like it too, enjoy!

Rating: 4/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s