Life of Pi (2012/US)


Listen the eye of the tiger kid!

Listen to the eye of the tiger kid!

Bagi anda yang mencari tontonan berkualitas minggu ini, saya sarankan untuk sedikit menjauh dari film romansa vampir berkilau yang telah menginjak seri terakhirnya dan mulai mendekat ke sebuah film yang posternya memperlihatkan seorang anak yang berdiri di sebuah perahu ditemani seekor macan. Film yang saya maksud adalah Life of Pi, diadaptasi dari novel best seller berjudul sama karangan Yann Martel, kini petualangan Pi Patel, seorang remaja yang terombang ambing di lautan bersama seekor macan selama 227 hari ini dapat anda saksikan lewat medium film, dan sangat diwajibkan menonton film ini dalam format 3D, kenapa? Anda akan tahu sendiri jawabannya nanti ketika menonton film yang disutradarai oleh Ang Lee ini.

Ceritanya sederhana, mengisahkan seorang anak bernama Pi Patel (Suraj Sharma) yang lahir dan besar di Pondicherry, India. Sejak kecil, Pi selalu penasaran dengan apa yang dilakukan orang-orang, termasuk keyakinan yang dianut oleh orang-orang di sekitarnya. Maka tidak aneh, Pi kecil sudah mempraktekan tiga agama yang ditemuinya sehari-hari. Kontan ia mendapat kecaman dari orang tuanya yang skeptis dan lebih percaya pada ilmu pengetahuan daripada keyakinan pada tuhan.

Sampai suatu waktu, ketika Pi sudah beranjak remaja, ia harus pindah bersama keluarganya ke Kanada, tidak lupa seluruh hewan yang menghuni kebun binatang milik ayahnya dibawa. Tapi musibah besar terjadi, kapal yang dinaiki Pi dan keluarganya karam terhantam badai, hanya Pi yang berhasil menyelamatkan diri, terdampar di sebuah perahu penyelamat kecil bersama seekor macan bernama Richard Parker. Maka mau tidak mau, Pi harus berusaha bertahan di tengah lautan luas bersama Richard Parker yang belum tentu jinak di dekatnya. Disitulah ujian terberat dalam hidup Pi datang, dan disitu juga keyakinan Pi pada tuhan mulai dipertanyakan.

Saya sendiri belum pernah membaca novelnya, tapi ketika review positif berdatangan belum lama setelah film ini rilis, saya harus menontonnya langsung, dan memang terbukti, Life of Pi bukanlah film yang mengisahkan kisah survival biasa layaknya film Cast Away yang mempunyai premis hampir mirip-mirip dengan film yang naskahnya ditulis oleh David Magee ini.

Suraj Sharma yang memerankan Pi ketika remaja benar-benar mengeluarkan potensi maksimalnya disini, perannya sebagai seorang remaja yang tersesat di lautan luas pasifik sangat meyakinkan, bisa dibilang setara dengan kegilaan yang dialami Tom Hanks ketika terdampar di pulau seorang diri. Karakternya berkembang secara bertahap dan selalu bisa membawa penonton ikut merasakan penderitaan yang dialaminya di tengah laut, apalagi ketika harus berurusan dengan Richard Parker yang tidak bisa ditebak perangainya.

Situasi yang dialami Pi dan Richard Parker di tengah laut makin menarik karena dukungan teknologi 3D yang memukau. Ang Lee selaku sutradara tahu betul dimana adegan-adegan yang worth it untuk ditampilkan dalam format 3D, bahkan opening scene dari film ini dibuka dengan visualisasi 3D yang luar biasa memanjakan mata. Spesial efek yang digunakan dalam film yang tadinya akan disutradarai oleh M. Night Shyamalan ini terbilang maksimal, bahkan penggambaran Richard Parker sebagai macan bengali juga sangat mulus, saya hampir tidak bisa membedakan dengan macan yang asli. Ya, teknologi 3D di Life of Pi bukanlah ‘alat’ untuk menambah pundi-pundi uang semata, tapi memang untuk mendukung kedalaman cerita yang dialami Pi. Tragis tapi tetap cantik untuk disaksikan.

Hingga akhirnya, ending film ini akan membawa anda bertanya-tanya apakah Pi ‘menemukan’ tuhan selama masa ‘pengasingannya’ di lautan? Ya, setelah memukau mata saya selama kurang lebih dua jam, kita akan dihadapkan dengan pertanyaan besar tentang keyakinan, dan cerita Pi dari awal sampai akhir memang merepresentasikan maksud dari tujuan si penulis, apakah anda percaya tuhan? Atau anda lebih ‘memilih’ untuk percaya tuhan daripada tidak sama sekali? Maka cerita dari Pi Patel akan membantu anda untuk menemukan jawaban dari semua pertanyaan tersebut.

Life of Pi bisa jadi pesaing kuat di ajang penghargaan Academy Awards tahun depan, cerita yang sederhana tapi didukung dengan kekuatan akting karakter utamanya, visualisasinya yang “bercerita” dan bisa membuat mata anda berkaca-kaca dibalik kacamata 3D yang kaku itu. Tunggu apalagi, anda sedang galau? Dan butuh diyakinkan? Langsung saja tonton Life of Pi, dan harus 3D! Wajib hukumnya, enjoy!

Rating: 4/5

2 thoughts on “Life of Pi (2012/US)

  1. kebetulan kemarin sy nontonnya yang 2D mas, itu pun sangat mencengangkan! bagus bener ceritanya, pengambilan gambarnya, cgi sampe detil yang kecil juga dibuat total. Desember saatnya film berkualitas oscar hehe

    Like

    • Yup, spesial efeknya mulus gila, wah coba kalo nonton 3D, gak tau deh harus ngomong apa lagi gw, kalo ada kesempatan lg nonton saya rekomenin banget cobain 3D-nya, it’s a must!😀

      Like

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s