“5 cm” The Movie (2012/Indonesia)


Let's climb a mountain!

Let’s climb a mountain!

Bicara film adaptasi dari novel, saya tidak pernah banyak berkomentar, karena jujur saja, saya bukan pembaca novel dan buku tebal-tebal seperti yang orang banyak lakukan. Maka ketika fans Harry Potter banyak mengeluh ketika beberapa filmnya tidak sesuai novelnya, saya tidak ambil pusing, nikmati sajalah, karena novel dan film adalah dua medium yang berbeda dan cara memvisualisasikan dua medium itupun harus melalui pendekatan yang berbeda, dimana tentu saja daya imajinasi para pembaca novel tidak ada batasnya sedangkan para filmmaker mempunyai batas dalam mewujudkan sebuah film yang diadaptasi dari novel.

Lalu apa kaitannya basa basi saya diatas dengan film yang akan saya bahas secara singkat sekarang? Sebenarnya tidak ada kaitan yang terlalu penting, karena film Indonesia terbaru yang berjudul ‘5 cm’ ini juga merupakan adaptasi dari novel teenlit yang best seller beberapa tahun yang lalu, cerita novelnya sendiri menceritakan kisah persahabatan, nasionalisme dan tentunya percintaan klise yang biasa terjadi dalam tatanan sosial pemuda pemudi bangsa ini. Mau dibilang bagus atau tidak pun saya tidak bisa membandingkan, karena saya tidak pernah membaca novelnya yang kalau orang bilang novelnya sangat bagus, tapi ketika saya menonton filmnya, nampaknya tidak “sangat” bagus seperti dalam bayangan saya juga sih.

5 cm menceritakan persahabatan lima orang pemuda pemudi ibukota bernama Genta (Fedi Nuril), Zafran (Herjunot Ali), Ian (Igor ‘Saykoji’), Arial (Denny Sumargo) dan Riani (Raline Shah). Mereka adalah lima sekawan yang tidak bisa dipisahkan, hingga suatu hari rasa jenuh menyambangi hubungan pertemanan mereka, maka mereka memutuskan untuk tidak bertemu selama tiga bulan, tanpa komunikasi apapun hingga pada tanggal yang ditentukan, Genta sebagai leader dari lima sekawan ini merencanakan pertemuan mereka kembali setelah tiga bulan lamanya di suatu tempat yang tinggi yang tidak lain adalah puncak mahameru di gunung semeru. Bukan sekedar melepas kangen biasa, karena perpisahan selama tiga bulan banyak merubah kehidupan mereka, dari mulai arti persahabatan, hidup mandiri, rasa cinta yang sudah lama tidak diungkapkan hingga kecintaan mereka pada Indonesia raya ini, merdeka!

Film ini dibuka dengan narasi yang disuarakan oleh Zafran, tidak lupa beberapa lelucon ringan dan adegan lebay yang biasa terjadi dalam film televisi kembali tersaji di film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani ini. Oleh karena itu saya agak bingung, tone film yang ringan, humoris dan penuh canda dan kisah roman picisan ini tiba-tiba berbelok menjadi kisah persahabatan penuh nasionalisme yang tinggi. Walaupun masih jarang tema nasionalisme yang diusung oleh film-film anak muda sekarang, tapi saya pikir 5 cm tidak bisa menjaga konsistensi alur cerita, sepertinya Rizal Mantovani ingin memperlihatkan semuanya, dari persahabatan yang erat, nasionalisme yang erat sampai kisah romansa lima sekawan tersebut. Itulah yang membuat saya pribadi kurang menikmati keseluruhan alur cerita film yang diadaptasi dari novel karya Donny Dhirgantoro ini.

Hal tersebut diperparah dengan terlalu banyaknya scoring musik yang melapisi tiap adegan-adegan yang ada di sepanjang film ini, terlalu banyak musik dari Nidji, tapi entah kenapa kebanyakan orang menyukai hal tersebut, dimana sebuah film harus diramaikan dengan alunan musik yang tidak terhingga. Saya pikir hal tersebut malah membuat film ini jadi makin terlihat FTV-nya, padahal secara teknis dan visualisasi, Rizal Mantovani sudah menyuguhkan sesuatu yang berbeda, dimana pemandangan danau ranu kumbolo, puncak mahameru, barisan awan yang menyerupai ombak hingga sudut pandang dari langit yang memperlihatkan keindahan gunung semeru ditangkap dengan baik, tapi kenapa harus dirusak dengan penempatan scoring musik yang membuat film ini jadi terlihat bising? Kenapa?!

Saya tidak tahu bagaimana dengan novelnya, tapi kisah romansa yang mempunyai alur twist di 5 cm pun jadi tidak bisa tersaji dengan baik, karena pengembangan dari empat karakter utama plus Pevita Pearce kurang berjalan dengan mulus, karena itu dia, apa yang sebenarnya ingin difokuskan disini? Kisah persahabatan beserta kisah romansanya atau kisah nasionalisme yang ditunjukan dengan pendakian gunung secara nekat? Apapaun itu, semangatnya bisa saya rasakan, tapi untuk sebuah film yang katanya penjualan tiket hari pertamanya mengalahkan Skyfall, well saya tidak bisa berkata banyak, apakah 5 cm hanya sekedar hype saja?

Yang pasti, film ini tidak bisa dibilang kurang menarik secara keseluruhan, 5 cm masih menarik, masih enak untuk ditonton, apalagi banyak lanskap-lanskap indah ala Discovery Channel yang ditangkap oleh Rizal Mantovani, tapi selebihnya hanyalah cerita persahabatan dan romansa klise yang ditutup dengan kehadiran Happy Salma yang absurd, jadi itu pilihan anda mau menonton film ini di bioskop atau menunggu nanti diputar di televisi? Well, enjoy if you want.

Rating: 2.75/5

15 thoughts on ““5 cm” The Movie (2012/Indonesia)

  1. ky’y km perlu baca novelnya dulu deh gan , biar tahu gimana alur ceritanya, ttg tokohnya satu persatu… film ttg nasionalisme gak melulu harus dibikin serius or perang2an kan??? Bikin film yang mengangkat keindahan alam negeri sendiri dikritik. Bikin film hantu gentayangan atau pocong-pocongan, dicela. Bikin sinetron dicela juga. Ada boyband – Girlband, dicela juga. Doh! Kenapa ga ambil sisi postifnya aja sih. Semakin banyak karya, berarti semakin kreatif orang-orang Indonesia. Kalau adanya terus mencela, kapan mo bangga ma bangsa sendiri??? trus cuma film2 besutan sutradara2 hollywood aja yg dibilang baguss gitu?

    Like

    • Errr, emang udah baca semua review film hollywood saya? emang saya bilang semua film hollywood itu bagus? kayaknya harus baca ulang lagi deh.

      Mengenai 5cm, saya gak merasa nyela tuh, saya kan bilang di akhir filmnya tetap menarik untuk ditonton, tapi sayang template filmnya masih terlalu FTV, dan saya gak pernah ngeritik masalah keindahan alam yang ditangkep lensa kamera rizal mantovani disini, justru saya muji habis2an, baca nggak bagian “pemandangan ala discovery channel”? kalau ngga, berarti emang anda disitu udah emosi duluan sebelum menilai tulisan saya seutuhnya.

      Masalah nasionalisme harus selalu perang juga saya gak pernah bilang di review ini toh, siapa juga yang mikir nasionalisme itu harus selalu perang? maksud saya justru karakter di film ini kurang terdevelop kearah tema itu, kalau gak ngungkit2 masalah cinta tanah air sampai pake acara naek gunung semeru sih it’s ok, soalnya dari awal tone film ini udah ringan, dan penuh humor plus adegan lebay (slow mo pevita pearce? penting gak?), kalau cuma sebatas itu, ya it’s ok, tapi masalahnya ada isu yang mau diangkat ma mereka, yaitu isu persahabatan dan cinta tanah air yang jujur porsinya justru kecil banget di filmnya.

      Dan saya udah bilang diawal kalau saya bukan pembaca bukunya, even LOTR ataupun harry potter saya gak pernah baca tuh, jadi review saya disini murni buat filmnya, jadi gak ada hubungan sama sekali ma novelnya, karena saya tahu novelnya juga bagus, at least itu yang temen temen saya bilang, makanya saya pengen nonton film ini di bioskop, tapi ternyata ekspektasi saya terlalu tinggi.

      Jadi gak boleh dong bilang ke orang, harus baca novelnya dulu kalau pengen tau karakter tokoh2nya? nah kalo ada yang gak sempet baca novelnya gimana? masa harus maksain baca novelnya dulu? disitu justru bedanya dua medium ini, novel dan film, dan masih banyak orang yang keras kepala kalau novel ma buku harus sama, kalau misal gak bisa bikin pengembangan karakternya mulus kayak di novel, ya at least bisa dibikin dong versi sederhananya versi film.

      Makanya kisah cinta si genta ma si pevita pearce datar banget, walau dari awal saya udah ngeduga ntr mereka bakal jadian, tapi proses kesitunya sangat gak keliatan, beda halnya sama si juple dan riani.

      But anyway thanks udah mau mampir dan komen, ditunggu loh komentarnya lagi, asal lain kali baca dulu review saya secara keseluruhan sebelum ngomentarin plus ngehakimin saya, karena ini udah mau tahun 2013, mau bangga ma film negeri sendiri? ya naikin dong kualitas filmnya, jangan terus aja kayak FTV yang worth it ditonton di rumah, bukan di bioskop. Thanks🙂

      Like

  2. setuju di bagian paling akhir adalah absurd ada happy salma…dan emang sih cerita cinta dan persahabatannya klise….novel indonesia emang mirip2 juga sih
    tapi yang bisa diacungi jempol adalah teknik pengambilan gambarnya, baru saya liat di film indonesia (jarang nonton film indonesia juga sih)
    but overall…seluruh orang di bioskop tepuk tangan setelah film berakhir, seperti ada kelegaan di mereka, akhirnya ada film indonesia yang layak tonton setelah the raid

    Like

    • Yep, soal sinematografi emang udah ada peningkatan, tapi sayang aja kenapa gak semua aspek dimaksimalin, jadinya nanggung gitu, sayang banget, ketika satu aspek udah level film bioskop, yang lain malah tetep stay crunchy kayak FTV… yah, soal layak tonton sih pasti layak, lagian penonton film ini udah sama kaya penonton the raid, diatas satu juta penonton. setidaknya itu yg bikin lega, masih ada yg mau nonton loh, coba kalau nggak, hehe.

      semoga sih keuntungan yang besar ini diimbangi buat bikin karya yang lebih baik dan emang layak tonton di bioskop bukan di televisi, thanks udah mampir dan sedikit berkomentar😀

      Like

  3. To Zerosumo…u r so talented. Saya sudah muak dengan review copy paste yang bertaburan di blogspot. Akhirnya bener-bener hanya ulasan Anda yang cerdas dan tidak lebayyyy, well done !!!

    Like

    • Terima kasih bnyk apresiasinya mba😀 saya cuma ingin menyampaikan apa yang saya rasakan aja, dan yang penting sih jgn terlalu kebawa hype dulu, tonton dulu secara objektif baru dinilai sih, percuma mau dukung film indo juga kalo masih bnyk aspek yg belum dimaksimalinnya🙂

      Anyway, thanks udah mampir, semoga sering2 mampir lagi aja deh😀 hehe

      Like

      • Sippp…saya juga mau open up tentang banyak sekali keganjalan di film Rizal Mantovani, semisal di Air Terjun Pengantin (ada reviewnya nggak yah di blogspot Anda?). Sangat mengganggu bagi saya sekelompok manusia yang akan mengadakan perjalanan jauh melalui perairan ke suatu pulang, melintasi hutan dan semak belukar…tapi kok dandanannya seperti mau ke mall, warna-warni, baju juga seperti baju online shop feminim banget, bahkan sepatu yang dikenakan sangat tidak proper untuk medan yang terpampang jelas di film tersebut. Mungkin diperlukan tim khusus untuk kostum / pakaian yang akan dikenakan yang serasi dengan jalan cerita. Bahkan yang bikin saya kecewa dengan film ini, habis-habisan mandi di shower di bekas gudang penyimpanan ikan atau es (kalau tidak salah ya), kok keluar dari gudang tersebut, rambut pemerannya pada kering semua serasa habis diblow dry??? Mas Rizal…ayo donk lebih jeli lebih realistis…don;t be just a scene cather😀

        Like

      • Hahaha, saya nonton kok air terjun pengantin, dan jujur perasaan saya sama kayak mba, makanya saya gak nulis reviewnya, karena udah terlalu banyak flaw nya, dan bener bgt, scene shower di gudang bekas itu sangat sangat absurd :)) itu scene paling absurd yang saya inget ampe skrg😀

        Like

  4. @Rintant : beneran deh kayaknya kamu perlu baca baik-baik review zerosumo sebelum comment karena banyak yang Anda komentari itu bahkan tidak exist di review di atas, mungkin Anda terlalu cepat berkata-kata sebelum mendengar atau sebelum membaca yah? Peace….

    Like

  5. hmm..ga pasang widget untuk follow blognya ya? btw, saya pun ngeliat trailer filmnya 5 cm ga tertarik untuk nonton (baca bukunya jg belum). udah terlihat ‘kurangnya’ dalam pengembangan karakter. reviewnya bagus. thanks

    Like

    • Hehe, ya itu dia agak males sih kalau harus baca bukunya dulu, toh saya juga cuma pgn liat filmnya, tapi ya mungkin bukunya emg bagus, but gak jamin ketika diadaptasi ke film jadi bagus, cuma pendapat aja sih…

      kalo pengguna wordpress bisa lgs follow mungkin lewat tools yg ada di dashboard, nah kalo buat yg lain emg gak pernah ngulik, hehe, subscribe doang paling, but thanks berat dah mau mampir😀

      Like

  6. Pingback: Sagarmatha The Movie (2013/Indonesia) | zerosumo

  7. Pingback: Supernova: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh (2014/Indonesia) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s