Silent Hill: Revelation 3D (2012/US)


Arghhh, my story was so awful!

Arghhh, my story was so awful!

Sudah hampir enam tahun semenjak kemunculan film pertamanya, Silent Hill kini hadir lagi dengan tren 3D yang sudah menjadi hal yang paling klise yang bisa kita temui di dunia perfilman tahun ini. Berjudul Silent Hill: Revelation 3D, saya sebenarnya tidak mau ambil pusing dengan teknologi 3D-nya, oleh karena itu saya menonton versi biasa saja, karena jujur saya bukan penggemar game yang satu ini, tapi film pertamanya tahun 2006 silam lumayan membekas di kepala saya, apakah sequelnya bisa lebih asyik dari pendahulunya?

Ceritanya sederhana saja, Heather (Adelaide Clemens) sebagai gadis yang baru berusia 18 tahun harus menyelamatkan ayahnya, Harry (Sean Bean) yang diculik oleh sebuah perkumpulan sesat yang bersemayam di Silent Hill. Silent Hill sendiri adalah kota mati yang dikuasai oleh kutukan Alessa yang ternyata adalah bagian yang hilang dari Heather. Maka dengan bantuan Vincent (Kit Harington) yang masih ada hubungan darah dengan pemimpin perkumpulan sesat yang menantikan tuhan baru, Heather harus berjuang melawan makhluk-makhluk aneh yang bersemayam di Silent Hill.

Jadi kalau mau menjawab pertanyaan saya di awal, saya kira sequel Silent Hill ini tidak lebih asyik dari film pertamanya, tapi entah buat para penggemar gamenya, karena yang saya baca dari berbagai sumber, Silent Hill: Revelation termasuk sukses memuaskan para penggemar gamenya, karena banyak sekali referensi yang diambil langsung dari gamenya. Seperti pria besar yang memakai topeng piramid dan membawa golok yang lebih besar dari tangannya mungkin. Hal tersebut sah-sah saja, tapi sebagai penikmat film, saya kurang bisa menikmati keseluruhan filmnya dikarenakan alur ceritanya terlalu bertele-tele.

Padahal dari awal, aura horor yang dibangun sudah lumayan bagus, tapi mulai paruh kedua film ini, adegan-adegan yang terjadi malah bersifat repetitif, dimana Heather harus terus menghindar dari kejaran makhluk aneh sampai akhirnya ia bertemu dengan Alessa dan bersatu kembali, dan sudah, begitu saja? Belum lagi pertemuan Heather dan ayahnya ditutup dengan duel makhluk besar yang saya ceritakan sebelumnya, yang sebenarnya tidak begitu berarti.

Silent Hill: Revelation mungkin tidak sepenuhnya memuaskan saya, karena mau dibilang film horor juga tidak begitu horor, mau dibilang film gore juga tidak begitu gore, dan mau dibilang film adaptasi game juga saya tidak mengikuti gamenya. Jadi dari segi kualitas, walau aktris utamanya lumayan lucu dan imut, Silent Hill: Revelation kurang memuaskan, tapi mungkin berbeda bagi para penggemar gamenya, karena bisa jadi saat menonton film yang disutradarai oleh Michael J. Bassett ini, mereka mungkin serasa sedang berasa di dalam gamenya, menjelajahi bukit sunyi yang berkabut.

Ya, apapun alasannya, maaf sekali, Silent Hill: Revelation kurang asyik, visualisasinya memang bagus tapi alur ceritanya tidak nyaman untuk diikuti, atau mungkin selera horor saya saja yang kampungan, apapun itu, silakan buktikan sendiri. Happy watching!

Rating: 2/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s