The Hobbit: An Unexpected Journey (2012/US)


Well, here we go again!

Well, here we go again!

There and back again, setelah sekian lama, akhirnya rasa kangen saya akan film The Lord of the Rings Trilogy (LOTR) terobati, apalagi kalau bukan karena rilisnya film The Hobbit: An Unexpected Journey. Bagi penggemar LOTR pasti akrab dengan The Hobbit, dikarenakan buku karangan J. R. R. Tolkien ini masih berada dalam satu universe dengan LOTR, ceritanya sendiri mengisahkan petualangan Bilbo Baggins, paman dari Frodo Baggins, yang ternyata sudah pernah mengalami petualangan menegangkan bersama 13 kurcaci untuk merebut kembali tanah kelahiran mereka dari sang naga jahat, Smaug.

Masih dengan nuansa nostalgia ala film LOTR, disini Bilbo Baggins (Martin Freeman) tidak sendiri, ia ditemani Gandalf (Ian McKellen) yang masih berwarna abu-abu dan 13 teman barunya, yaitu para kurcaci (dwarf) yang dipimpin oleh Thorin (Richard Armitage), kemudian Balin (Ken Stott), Dwalin (Graham McTavish), Bifur (William Kircher), Bofur (James Nesbitt), Bombur (Stephen Hunter), Fili (Dean O’Gorman), Kili (Aidan Turner), Oin (John Callen), Gloin (Peter Hambleton), Nori (Jed Brophy), Dori (Mark Hadlow) dan Ori (Adam Brown). Teman yang lumayan banyak bukan? Jangan khawatir, lambat laun anda pasti akan mengenal mereka, karena petualangan Bilbo dan para kurcaci di film pertamanya ini dibungkus rapih dan sedetail mungkin dibalik lensa kamera Red terbaru yang disyut dengan format 48 fps yang mencengangkan oleh Peter Jackson.

Petualangannya sendiri mudah dinikmati dan tidak rumit sama sekali, untuk sebuah film berdurasi hampir tiga jam dan mendapat banyak kritik yang beragam ketika pemutaran perdananya, saya sama sekali tidak terganggu, saya menikmati semua rangakaian petualangan Bilbo yang diawali dengan penuh kekonyolan hingga diakhiri dengan tingkat heroisme tinggi yang keren. Alur memang lumayan berjalan lambat dari menit pertama film ini dimulai, tapi ciri khas Peter Jackson dalam mengenalkan peristiwa apa saja yang mungkin akan dihadapi oleh Bilbo dan para kurcaci ini tidak pernah luput, sama halnya dengan film LOTR pertama, 15 menit pertama dalam The Hobbit kita akan tahu kenapa Thorin dkk berusaha merebut kembali Erebor, tanah kelahiran mereka dari naga jahat, Smaug yang disuarakan oleh rekan Martin Freeman dalam serial Sherlock di BBC, Benedict Cumberbatch.

Dari situ, tensi petualangan mulai dinaikan perlahan-lahan, dari mulai adegan lucu dengan para troll gunung, yang saya ingat sekali ketika membaca bukunya, hingga pertarungan di bawah gunung dengan para orc jahat dan tidak lupa pertemuan pertama kali Bilbo dengan Gollum (Andy Serkis) yang menjadi katalis kenapa rangkaian peristiwa di LOTR bisa terjadi. Nostalgia manis bermula dari adegan paling awal dimana Bilbo sedang menulis petualangannya di buku harian tepat di siang hari, dimana hari itu ia akan merayakan ulang tahunnya yang ke-111 dan Frodo (Elijah Wood) akan menjemput Gandalf yang sedang on the way menuju Shire. Ya, Peter Jackson berhasil membangkitkan memori manis itu, Shire yang indah dan semua hal menarik yang ada di dalamnya.

Belum cukup dengan kehadiran Frodo, kita akan bertemu banyak karakter penting dari LOTR seperti Lord Elrond (Hugo Weaving), Lady Galadriel (Cate Blanchett) hingga Saruman (Christopher Lee) yang masih malu-malu kucing. Beberapa karakter baru selain para kurcaci pun muncul, seperti Thranduil (Lee Pace), ayah dari Legolas hingga teman Gandalf, Radagast the brown (Sylvester McCoy) dan jangan lupakan musuh besar Thorin disini, orc berwarna biru pucat yang lumayan annoying, Azog (Manu Bennett).

Beda halnya dengan LOTR yang tiap filmnya mempunyai petualangan yang terpisah, dimana grup Frodo, grup Aragorn dll mempunyai kesibukan masing-masing, dalam The Hobbit kita akan menyaksikan non stop petualangan yang dialami Bilbo dan 13 kurcaci tersebut, dengan rintangan dan hambatan yang berbeda di tiap segmennya, jujur saja, tiga jam tidak terasa oleh saya ketika menonton film yang tadinya ingin ditangani oleh Guillermo del Toro ini, bahkan saya menonton film ini dua kali, yang kali keduanya saya mencoba menonton film ini dalam format 3D HFR (high frame rate) 48 fps, hasilnya? Luar biasa gila!

Teknologi HFR yang diterapkan kamera Red teranyar Peter Jackson memang merupakan sebuah terobosan revolusioner dalam sejarah perfilman, gambar yang tersaji bisa dibilang tanpa cela sedikitpun karena kualitas yang kita nikmati hampir sama dengan apa yang kita rasakan ketika melihat langsung suatu objek dengan mata telanjang, itu kira-kira yang saya rasakan ketika menonton The Hobbit dalam format 3D HFR 48 fps. Tapi kalau boleh berpendapat, saya lebih memilih format 2D biasa, karena bagi saya, ketajaman gambar yang ada dalam format HFR seperti ‘mengikis’ esensi sebuah film yang mempunyai gambar ‘unreal’, karena itulah film, sebuah medium yang merealisasikan imajinasi penontonnya, dan seharusnya mungkin tetap seperti itu, imajinatif dan unreal.

Terlepas dari keindahan dan kedetailan gambar yang tersaji tiga kali lipat lebih baik dari LOTR, The Hobbit tetap menjadi sebuah film penutup tahun yang paling manis, nyanyiannya, petualangannya, leluconnya, semua tersaji dan dibawakan dengan sangat sempurna oleh setiap jajaran castnya yang harus saya akui bahwa keputusan Peter Jackson untuk menyisihkan para kandidat pemeran Bilbo Baggins itu benar adanya. Martin Freeman menjadi karakter kunci yang lebih menarik perhatian walau ia jarang sekali bertempur. Gestur-gestur komikal dan polosnya sebagai jagoan mendadak dari para kaum hobbit benar-benar terasa oleh saya, tidak menye-menye ala Frodo yang sepertinya ‘selalu’ depresif di tiga film LOTR, disini, Martin Freeman membawakan karakter Bilbo dengan penuh sukacita dan penuh harapan tentunya.

Sempat pesimis tadinya ketika tahu The Hobbit dibagi menjadi tiga film, karena saya pernah membaca bukunya dulu, dan jujur bukunya tidak lebih dari 400 halaman, tapi ternyata hasilnya memuaskan, tidak ada pemanjangan-pemanjangan cerita yang tidak perlu, semua sesuai tempatnya dan porsinya, semua dirangkum dengan pas dan mengalir. Makanya saya bingung kenapa banyak orang yang bilang film ini membosankan? Entahlah, tapi yang jelas, kalau anda penikmat LOTR, The Hobbit: An Unexpected Journey ini tidak boleh sampai anda lewatkan, setidaknya sampai dua tahun kedepan yang ditutup oleh The Hobbit: There and Back Again. Enjoy the most cinematic adventure of this year!

Rating: 4/5

10 thoughts on “The Hobbit: An Unexpected Journey (2012/US)

  1. Setuju dengan ulasannya, cuman mungkin yang agak sedikit mengganggu adalah kok bisa ya para kurcaci sama si hobit-nya itu nggak hancur badan sama mukanya, padahal udah berapa kali kebentur atau terkena batu yang tajem banget …….. apalagi pas si Bilbo jatuh dari ketinggian yang lumayan tinggi dan membentur batu yang tajam berapa kali, ternyata pas nyampe tanah, hampir gak ada ekspresi kesakitan yang berlebihan atau muka sama badan yang rusak akibat jatuh tersebut.

    Like

    • Hahaha, blooper yg emang sering terjadi, ya namanya juga film fantasi, mungkin secara magical mereka bisa selalu sembuh karena ada gandalf di sekelilingnya (apa pula ituuu) haha ;P

      Like

  2. Pingback: The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013/US) | zerosumo

  3. Itu bukunya dlm bentuk satu buku atau tiga buku kayak film-nya? Kira2 di toko buku gampang nyarinya gak?
    makasih sebelumnya…🙂

    Like

    • Ini bukunya cuma satu, cuma 300-an halaman, gak ampe tiga buku kok, haha, wah kalo soal nyarinya kayaknya ada deh di Gramedia, saya juga baca bukunya udah lumayan lama, pas masih jaman kuliah awal2, haha😀

      Like

      • Oke.. makasih ya..
        soalnya kemaren saya iseng nyari2 buku Hobbit ga ketemu di Gramed..
        Tapi mudah2an kali ini ketemu ya..🙂

        Like

      • Soalnya gw kayak pernah liat gitu, The Hobbit yang dirilis ulang gara2 filmnya lagi maen di bioskop, silakan cari lagi, kalau masih gak dapet, cari online aja😉

        Btw, thanks udah mampir yah😀

        Like

  4. Pingback: Judul Baru Trilogi Film “The Hobbit” | zerosumo

  5. Pingback: The Hunger Games: Mockingjay – Part 1 (2014/US) | zerosumo

  6. Pingback: The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014/US) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s