Pieta (2012/Korea)


What is life?

What is life?

Dari deretan film-film Korea terbaik, bertambah lagi satu film Korea yang berhasil mencuri hati saya. Film yang saya maksud berjudul Pieta, film ke-18 dari sutradara auteur Kim Ki-duk ini berhasil menjadi film drama paling brutal sekaligus menyentuh versi saya. Tidak bisa dipungkiri, satu-satunya film Korea Selatan yang berhasil menggondol penghargaan tertinggi di Venice Film Festival ini bisa dibilang salah satu film drama terbaik tahun 2012, dengan tema yang tidak jauh-jauh dari film Amour, dimana keluarga adalah elemen penting yang berusaha dieksploitasi oleh Kim Ki-duk disini, kita akan disuguhi sebuah hubungan radikal diantara seorang anak yang bertemu dengan wanita yang mengaku ibunya.

Lee Kang-do (Lee Jung-jin) adalah seorang debt collector terkeji yang pernah saya lihat di sebuah film, dimana bukan nyawa yang ia ambil ketika seseorang gagal membayar hutang, melainkan kesempurnaan fisik, yaitu membuat cacat si pemilik hutang hingga tidak sedikit diantara mereka yang memutuskan bunuh diri karena sudah tidak tahan hidup sebagai orang cacat. Hingga suatu hari, kehidupan ultra violence Lee Kang-do terusik, dimana ada seorang wanita hadir di depan pintu rumahnya, bernama Jang Mi-sun (Jo Min-su) dan mengaku sebagai ibunya yang sudah lama pergi. Maka sifat brutal Lee Kang-do luluh perlahan-lahan ketika ia sudah kembali bersama dengan ibunya dan saat itu juga ia mulai sadar esensi dari pentingnya seorang keluarga dalam kehidupan seseorang.

Film ini merupakan film drama paling brutal yang pernah saya tonton, tidak hanya brutal secara psikologis tapi dalam penggambaran visualisasinya pun bisa dibilang kontroversial. Dari mulai memakan bagian tubuh terkecil, memasukan tangan kedalam alat vital hingga sebuah handjob yang dilakukan seorang ibu ke anaknya membuat Pieta menjadi sajian drama yang eksplosif dari setiap aspek penceritaanya. Walau tema balas dendam di paruh kedua film ini sudah mulai terbaca, tapi hal tersebut makin menguatkan esensi cerita yang diangkat oleh Kim Ki-duk, dimana uang, keluarga dan nyawa adalah hal yang mudah didapat sekaligus mudah hilang seketika.

Menyorot kawasan industri kumuh Korea, Kim Ki-duk menyajikan pemandangan realistis sebuah cerita yang rata-rata dialami oleh keluarga berekonomi rendah, dimana semua orang bisa berhutang kepada rentenir, bahkan ada sebagian yang sengaja meminjam uang banyak demi keluarganya sendiri tanpa peduli harus kehilangan bagian tubuhnya. Ya, scene tersebut menjadi scene paling intense, ketika Lee Kang-do sebagai seorang eksekutor melihat kepasrahan kliennya yang tidak peduli kehilangan tangannya asal ia bisa meminjam uang lebih banyak lagi, maka disitu pula timbul banyak pertanyaan yang menyinggung gejala sosial masyarakat dunia pada umumnya, what is money? What is death?

Park Chan-wook mungkin harus waspada, karena film trilogi balas dendamnya mendapat tandem berat tahun ini, bagaimana tidak, Pieta tersaji dengan drama lebih memilukan daripada Oldboy, dimana uang menjadi sebuah pemicu dan Lee Kang-do adalah sang penarik pelatuknya, tapi kita tahu bahwa semua perbuatan pasti ada konsekuensinya, dimana hal tersebut tersaji di akhir film ini, menyayat sekaligus menyedihkan. Sebuah momen dimana saya hanya bisa terdiam, sebuah momen dimana kita semua tahu bahwa reaksi semua orang berbeda-beda ketika orang kesayangannya direbut secara tidak wajar dari sisinya.

Well, hubungan anak dan ibu dalam Pieta menjadi sajian berkualitas tinggi yang penuh dengan pesan moral yang secara tidak langsung menyindir bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya yang hanya berpaku pada uang. Pieta adalah jawaban absolut bagi anda yang suka dengan drama Korea berkualitas tinggi, kali ini datang dari tangan Kim Ki-duk yang sudah dikenal di dunia perfilman internasional, dan berhasil merebut hati saya ketika menonton film terbarunya ini, what can I say? Must a see drama of the year, enjoy!

Rating: 4/5

6 thoughts on “Pieta (2012/Korea)

    • Haha, setiap negara pasti ada jagoannya, dan Korea dipegang sama orang2 yg bikin kayak Pieta inilah, segmennya ya untuk penikmat film aja, gak ada yg gak bermutu sih karena pada dasarnya semua diserahkan ke penonton, kalo suka ya kenapa nggak, tp mungkin jarang terekspos aja film2 model gini, sayang banget padahal, hehe.

      btw thanks dah mampir nih, sering2 aja yah lewat ke blog sederhana ini, gw follow juga ya blognya, keren euy banyak review film-film arthousenya😀

      Like

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s