Demi Ucok (2013/Indonesia)


A film by a mother of rempong

A film by a mother of rempong

Tahun 2012 memang tahun keemasan bagi dunia perfilman Indonesia, karena tidak sedikit film Indonesia yang rilis tahun 2012 menjadi ‘raja’ di negeri sendiri, bahkan ada beberapa film Indonesia yang berhasil meraup dua juta penonton dalam waktu yang tidak lama. Tidak sedikit juga film baru yang menjadi sorotan tahun itu, salah satunya adalah film Demi Ucok yang berhasil masuk delapan nominasi Festival Film Indonesia (FFI) tahun kemarin (termasuk nominasi Film Terbaik). Datang dari Sammaria Simanjuntak yang pernah membuat film Cin(t)a tahun 2009 silam, Demi Ucok kini telah tayang secara luas di bioskop-bioskop Indonesia.

Gloria Sinaga (Geraldine Sianturi) adalah seorang wanita berumur 29 tahun yang sedang menghadapi dilema, dimana ia sedang berusaha untuk mewujudkan ambisinya membuat sebuah film tapi di sisi lain ia didesak untuk menikah oleh ibunya yang cerewet, Mak Gondut. Apalagi Mak Gondut mengisyaratkan bahwa Glo harus menikah dengan seorang batak, desakan ibunya malah membuat Glo pusing sendiri hingga ia meminta saran dari beberapa temannya seperti Niki (Saira Jihan) yang sedang hamil dan A Cun (Sunny Soon), mantan aktor di film pertama Glo. Ya, Demi Ucok adalah sebuah cerita sederhana dimana impian dan kasih sayang orang tua bukanlah sebuah hambatan dalam mewujudkan cita-cita kita.

Secara garis besar, Demi Ucok mengeksplorasi budaya batak dari sisi yang lebih jenaka, lebih uniknya lagi, Demi Ucok adalah film yang jujur, dimana cerita film ini adalah ‘curhatan’ langsung dari Sammaria Simanjuntak yang berusaha mewujudkan filmnya dengan cara mencari 10.000 coProduser yang bersedia menyumbang Rp 100.000 untuk terealisasinya film berdurasi kurang lebih 90 menit ini. Disitulah letak menariknya, karena secara tidak langsung kita sebagai penonton akan melihat bagaimana susahnya para sineas berkualitas untuk membuat film di Indonesia yang pasarnya masih dipegang oleh film-film yang kurang bermutu.

Di sisi lain, Demi Ucok memperlihatkan cerita kedaerahan dan adat orang Medan yang kocak dan kadang suka tidak logis. Tapi jauh di dalam itu, Demi Ucok sebenarnya mengeksplorasi hubungan ibu dan anak yang mempunyai pemikiran yang bertolak belakang, dimana Mak Gondut adalah seorang ibu-ibu tipikal orang batak dan Glo adalah seorang wanita batak modern yang tidak mau hidup membosankan seperti ibunya yang doyan menjodohkan Glo ke pria-pria batak yang ditemuinya. Tapi seperti pepatah yang sering diucapkan berulang-ulang di film ini, kasih ibu hanya memberi, tak harap kembali (tanpa “terms and conditions apply”) itu benar adanya, karena seburuk-buruknya orang tua, mereka hanya ingin yang terbaik untuk anaknya.

Tidak bisa dipungkiri, Mak Gondut yang memang ibu kandung sang sutradara menjadi daya tarik film ini, kehadirannya sebagai seorang ibu batak yang annoying menjadi magnet tersendiri bagi orang-orang yang ingin tahu seperti apa lucunya orang batak asli, bukan orang biasa yang disuruh menjadi seperti orang batak. Bahkan Mak Gondut mengakui bahwa dirinya tidak pernah belajar akting sama sekali, karena selama hidupnya ia selalu berakting, dunia ini memang panggung sandiwara bukan? He-he. Tidak heran Mak Gondut bisa mengalahkan Meriam Bellina dalam nominasi Best Supporting Actress di FFI kemarin, aktingnya sebagai ibu-ibu batak yang rewel sangat natural dan tidak sedikit mengundang tawa.

Secara keseluruhan, Demi Ucok merupakan film drama komedi teringan yang pernah saya tonton di bioskop, tapi mungkin terlalu ‘sederhana’ untuk masuk menjadi film bioskop, bukan berarti tidak bagus, Demi Ucok tetap menghibur dan berhasil menonjolkan salah satu kekuatan negeri tercinta ini, yaitu keragaman budaya yang unik. Walau sebagian besar film ini menyorot budaya batak, jangan lupakan setting film ini yang sebagian besar berlokasi di Bandung membuat Demi Ucok makin berwarna, apalagi ditambah dengan kehadiran beberapa cameo ternama seperti Joko Anwar dan Ridwan Kamil. Well, film terbaik versi majalah Tempo tahun 2012 ini adalah film yang paling cocok kamu tonton bersama ibu tercinta. Yes, Demi Ucok is a film by a mother, a daughter and (for) you, enjoy!

Rating: 2.75/5

3 thoughts on “Demi Ucok (2013/Indonesia)

  1. Pingback: Selamat Pagi, Malam (2014/Indonesia) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s