The Perks of Being a Wallflower (2012/US)


The perks of being in a Vanity Fair cover

The perks of being in a Vanity Fair cover

Time for some indie rom-com! Tapi ini bukanlah film indie rom-com Amerika kebanyakan, The Perks of Being a Wallflower merupakan film yang menjadi buah bibir di akhir tahun kemarin, karena kesederhanaan dalam penyampaian ceritanya dan dengan tema yang sebenarnya lebih realistis daripada film-film rom-com anak muda kebanyakan. Diangkat dari novel best seller berjudul sama di tahun 1999, Stephen Chbosky yang merupakan penulis novel tersebut ambil bagian langsung untuk menyutradarai film ini, karena tentu saja yang paling tahu cerita film yang diadaptasi dari buku adalah si penulis bukunya sendiri, dan hal tersebut merupakan sebuah langkah tepat yang membuat The Perks of Being a Wallflower ini menjadi ‘sleeper hit’ di akhir tahun 2012.

Seorang remaja yang baru duduk di bangku SMA bernama Charlie (Logan Lerman) merupakan seorang remaja introvert yang mempunyai masa lalu kelam dalam kehidupannya. Menjadi seorang penyendiri di sekolahan merupakan suatu kutukan yang paling tidak mengenakkan, minimal menjadi korban bullying para senior merupakan satu hal yang sudah biasa, hingga akhirnya Charlie berkenalan dengan dua seniornya yang unik, yaitu Patrick (Ezra Miller) dan Sam (Emma Watson). Perkenalan Charlie dengan Patrick dan Sam membuat hidupnya yang super madesu berubah total, tidak ada lagi masa-masa galau dan tidak ada lagi yang namanya kesepian, karena bersama Patrick dan Sam, Charlie bertransformasi menjadi seorang remaja yang istimewa.

Sebuah cerita sederhana yang berkutat tentang hubungan pertemanan dan percintaan di jaman SMA, tapi dibumbui dengan beberapa latar belakang Charlie yang suram sehingga pada akhirnya, The Perks of Being a Wallflower tetap memberikan sebuah suguhan bermakna yang tidak hanya bercerita tentang kisah cinta monyet ataupun masa-masa bullying yang sepertinya selalu dibahas di film-film rom-com Amerika kebanyakan. Dengan setting super klasik, yaitu awal 90-an, penampilan Logan Lerman memerankan karakter Charlie yang menyimpan banyak masalah yang jarang dialami remaja seumurannya patut diacungi jempol! Tidak hanya menyandang predikat sebagai remaja terimut di sekolah, Logan Lerman berhasil menjadi remaja disfungsional pada saat-saat yang tidak diduga, dan effortnya untuk menjadi seperti itu terasa sekali lewat ekspresi-ekspresi wajahnya yang lebih banyak berbicara.

Kehadiran Logan Lerman yang memerankan karakter yang mempunyai masalah ‘negatif’ diimbangi dengan Ezra Miller yang berhasil menjadi penyemangat dan karakter paling menyenangkan di film ini selain Emma Watson yang memang sudah diplot menjadi love interest dari karakter Charlie. Ezra Miller berhasil memerankan remaja flamboyan yang ternyata mempunyai rahasia yang jauh lebih mengejutkan tapi tetap dibawakan dengan santai dan positif oleh dirinya. Tidak heran persahabatan ketiga remaja ini terlihat mengalir dari awal sampai akhir film, latar belakang berbeda yang di dukung dengan scoring musik 90-an yang memorable, The Perks of Being a Wallflower harus diakui berhasil menjadi film yang mengangkat permasalahan remaja SMA yang tidak biasa lewat sudut pandang yang tidak biasa juga.

Ini bukan tentang bagaimana anda kelabakan tidak punya teman kencan ke acara prom night, atau galau karena cinta anda ditolak mentah-mentah, tapi lebih kepada kejujuran bagaimana sebuah hubungan bisa terjalin dengan cara lain yang lebih menyenangkan, seperti belajar bersama sebelum ujian ataupun turut serta dalam pagelaran The Rocky Horror Picture Show bersama orang yang anda cintai. Di satu titik, semua hal menyenangkan tersebut berhasil menyisihkan pelan-pelan masa lalu kelam Charlie, tapi di sisi lain, mau tak mau Charlie harus belajar menghapus masa lalu kelamnya sendiri dan sadar bahwa life is go on, dimana Patrick dan Sam tidak akan selalu bersamanya terus. Ya, The Perks of Being a Wallflower adalah sebuah film indie rom-com yang mendefiniskan istilah rom-com ke tingkat selanjutnya, dimana nilai-nilai kedewasaan sudah mulai terlihat seiring dengan pengembangan karakternya yang terus bergerak maju dan tidak membosankan seperti di film-film setipe ini pada umumnya.

Overall, sebagai sebuah film yang menjadi hype di akhir tahun kemarin, The Perks of Being a Wallflower memenuhi ekspektasi saya, sebuah film manis yang menceritakan bahwa persahabatan dan percintaan di masa SMA itu tidak ada batasnya. Seperti yang Charlie katakan, right now we are alive and in this moment I swear we are infinite. Just go and watch this sweet movie guys!

Rating: 4/5

4 thoughts on “The Perks of Being a Wallflower (2012/US)

  1. Pingback: The To Do List (2013/US) | zerosumo

  2. Pingback: Jajaran Film Terbaru DC Movie Universe Terkuak! | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s