Liberal Arts (2012/US)


Sometimes students make the best teachers

Sometimes students make the best teachers

Bicara soal masa-masa kuliah yang bertransisi ke masa-masa kerja dan akhirnya bertransisi ke masa-masa membosankan dalam hidup, yaitu ketika anda ingin sebebas dan sebahagia seperti saat kuliah tapi tidak ingin seboring seperti saat bekerja, percayalah, itu adalah masa-masa yang akan kita lewati semua kecuali jika anda termasuk keturunan konglomerat yang tidak pernah tahu getirnya kehidupan dan fase-fase transisi yang menyebalkan tapi layak untuk dikenang tersebut. Usia saya besok akan menginjak angka 26, dimana angka tersebut merupakan angka yang sudah cukup besar untuk seorang pria yang belum banyak melakukan hal besar dalam hidup ini. Faktor usia, kalau kata orang bilang, usia memang menjadi momok mengerikan bagi pria seperti saya, saya sudah mulai menua, saya sudah tidak bisa begadang semalaman bermain bersama teman-teman, saya sudah tidak bisa menghadiri konser-konser musik dan menyatu dengan para penonton lain yang jauh lebih enerjik dari saya, tapi mungkin saja itu karena saya tidak bisa menghadapi kenyataan bahwa saya sudah tua, saya tidak bisa menerima kenyataan karena ternyata yang lebih muda dari saya jauh lebih kreatif, atau itu hanya ada dalam pikiran saya? Sampai akhirnya saya menonton film berjudul Liberal Arts, film kedua yang disutradarai dan ditulis oleh Josh Radnor atau yang biasa kita kenal dengan nama Ted Mosby dalam serial How I Met Your Mother.

Jesse (Josh Radnor) adalah seorang pria berumur 35 tahun yang sedang mengalami masa-masa paling membosankan dalam hidupnya, setelah putus dari pacarnya, kesialan terus menghampirinya, sampai akhirnya peruntungan Jesse berubah ketika menghadiri acara perpisahan dosen favoritnya di kampusnya yang dulu. Kembali lagi ke kampus tercinta membuat Jesse lebih bersemangat, dimana ia bisa merasakan kembali rasanya menjadi seperti mahasiswa baru yang penuh semangat untuk menimba ilmu, seperti yang dialami Zibby (Elizabeth Olsen), mahasiswi cantik yang dikenalkan oleh Profesor Hoberg (Richard Jenkins), dosen favorit Jesse. Pertemuan Jesse dengan Zibby yang mempunyai selera berkelas membuat Jesse jadi semangat lagi untuk menjalani hidup, kesukaan Zibby pada dunia literatur yang hampir mirip dengan Jesse makin membuat kedua insan ini yakin bahwa mereka telah menemukan pasangan hidup sejatinya. Tapi pada akhirnya, Jesse sadar bahwa usianya berbeda jauh dengan Zibby, ia sadar bahwa perasaanya pada Zibby hanyalah sebuah tindakan ‘denial’ bahwa dirinya sudah menjalani hidup yang jauh membosankan daripada mahasiswa mahasiswi di kampus lamanya. Tapi di kampus itulah Jesse belajar untuk bertingkah sesuai dengan usianya, apalagi setelah ia bertemu dengan Dean (John Magaro), seorang mahasiswa yang sama sekali tidak bersemangat untuk kuliah karena terlalu banyak masalah pribadi yang dialaminya, dan Nat (Zac Efron), seorang mahasiswa yang berpikiran serba terbuka dan bebas, hingga Profesor Fairfield (Allison Janney), dosen wanita favorit Jesse selama ia kuliah dulu. Pertemuan Jesse dengan lima karakter yang berbeda-beda di kampus lamanya benar-benar mengubah cara pandangnya dalam menjalani kehidupan, dan tentunya merubah cara pandang saya ketika selesai menonton film drama comedy romantis ini.

Tidak bisa disangka, Josh Radnor yang terkenal dengan pria yang sedang berusaha mencari soulmate di serial How I Met Your Mother ini bisa menulis sebuah script film drama comedy yang romantis sekaligus menyentil beberapa aspek-aspek dalam kehidupan. Film ini terasa personal sekali bagi saya karena apa yang dialami Jesse mungkin dialami oleh saya juga, dimana saya tidak bisa menemukan ‘tempat’ di usia saya sekarang, tapi saya selalu bahagia ketika kembali ke lingkungan kampus saya terdahulu, walau belum setua Jesse di film ini, tapi saya merasakan hal tersebut, perasaan seperti orang ‘tersesat’ di dunia nyata tapi bisa menemukan jati diri ketika bergaul dan berkumpul dengan orang-orang yang usianya jauh dibawah saya. Ya, saya masih merasakan hal tersebut sampai sekarang, tapi berkat Liberal Arts, Josh Radnor mengajak saya untuk membuka mata lebar-lebar, bahwa harapan kita tidak pupus begitu saja setelah kita lulus kuliah. Kehidupan pasca kuliah memang kadang tidak pernah sesuai bayangan, tapi disitulah kehidupan sebenarnya yang selalu kita idam-idamkan ketika masih kuliah, kita hanya berusaha menghindar saja ketika ada hal-hal pahit yang menimpa kita, karena setelah kuliah, kita sendirian di dunia yang kejam ini.

Film ini bukanlah film drama tentang anak-anak kuliah yang sedang jatuh cinta pada umumnya, keseriusan Josh Radnor terlihat dari karakter-karakter kunci yang diperankan dengan sangat sempurna oleh jajaran cast film yang berdurasi kurang lebih 90 menit ini. Profesor Hoberg, seorang pria tua yang sadar bahwa selama ini ia tidak pernah bisa pergi dari area nyamannya, Nat, mahasiswa open minded yang tahu betul bahwa hal-hal keren di sekitar kita belum tentu membuat kita keren, Dean, tipikal mahasiswa depresif yang benci segalanya tapi menjadi sebuah teman yang banyak memberikan pelajaran berharga bagi Jesse, Zibby, mahasiswi muda yang tidak menyukai hal mainstream tapi masih mempunyai perasaan yang mainstream seperti mahasiswi baru kebanyakan, dan Profesor Fairfield, dosen favorit Jesse yang ternyata tidak seinspiratif yang ia bayangkan.

Semua karakter tersebut perlahan-lahan membentuk pribadi Jesse yang masih ‘tersesat’ dalam hidupnya untuk keluar dan menghadapi kehidupan nyata, membentuk cara ia bertingkah layaknya seorang pria 35 tahun yang tidak takut untuk bertambah tua, lebih berani mengeksplor hal baru, bertemu orang baru dan merasakan pengalaman baru, usia bukanlah hambatan, dan masa muda adalah masa-masa dimana semua orang seperti kita merasa seperti dalam kapabilitas yang paling maksimal, bisa melakukan segalanya, bisa menjadi apapun yang kita mau dan tentunya masa-masa tidak boleh dijadikan bayangan tapi tetap layak untuk dikenang.

Dengan gaya drama yang menitikberatkan pada karya-karya sastra ternama, Liberal Arts menjelma menjadi sebuah drama komedi romantis bercita rasa indie yang bisa dinikmati oleh siapapun yang sudah bosan dengan drama komedi romantis yang terlalu klise. Berkomunikasi dengan surat tulisan tangan, mendengarkan lagu-lagu klasik hingga perdebatan tentang novel vampir romantis dan literature romantis klasik yang dijadikan suatu bahan pertengkaran yang serius, well, Josh Radnor benar-benar menunjukan kapasitasnya sebagai seorang aktor yang sudah lama berkecimpung di serial drama komedi romantis, tidak cheesy tapi juga tidak berusaha untuk terlihat mewah, tapi tetap mempunyai tone yang bisa dinikmati oleh semua orang.

Liberal Arts secara tidak langsung menjadi film ‘mood booster’ personal saya yang menunjukan bahwa usia bukanlah sesuatu yang menahan kita, sesuatu yang membuat kita hilang harapan, hilang rasa cinta, tapi jadikanlah usia sebagai tolak ukur, bahwa kita masih bisa lebih baik dari masa-masa menyenangkan ketika sekolah atau kuliah dulu, mungkin Charlie dalam The Perks of Being a Wallflower mengatakan dengan jelas ketika masa-masa sekolahnya, right now we are infinite. Dan buat anda yang sudah tidak semuda Charlie lagi, jangan takut untuk bertambah usia menjadi tua, just be more creative, be more infinite because being old is cool, grow old and die old, it’s a better arc. Kudos to Josh!

Rating: 5/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s