3SUM (2013/Indonesia)


Fresh from the oven!

Fresh from the oven!

Industri perfilman Indonesia kembali menggeliat di tahun ini, masih dengan euforia gila film Habibie & Ainun yang katanya sudah melebihi empat juta penonton! (wow) kali ini saya akan mereview sebuah film omnibus terbaru Indonesia yang disutradarai oleh para sutradara muda Indonesia yang berbakat. Film tersebut berjudul 3SUM, memang terdengar seperti ‘threesome’, tapi ya memang film ini adalah film keroyokan tiga sutradara yang menampilkan tiga cerita yang berbeda genre, dari mulai thriller, drama dan action. So, apa yang menjadikan film 3SUM patut ditonton oleh anda semua? Tidak lain adalah karena semangat indie yang mereka usung untuk menampilkan sajian alternatif di ranah perfilman Indonesia mainstream yang di dominasi oleh film-film bergenre “main aman”, kenapa saya katakan “main aman”? Karena anda harus lihat sendiri, film-film Indonesia yang laku belakangan ini tidak jauh-jauh dari film adaptasi novel terkenal atau biografi tokoh terkemuka terkenal atau sajian dangkal sisanya yang bermain di genre horor dan komedi amburadul. Ya, maka tidak aneh saya sangat menyambut film-film yang menyajikan sisi hiburan dari sudut pandang alternatif karena saya pribadi adalah seseorang yang menyukai film-film indie, yang mungkin tidak bisa dikonsumsi penonton pada umumnya. Tapi apakah film yang mempunyai semangat indie bisa mendapat tempat di industri perfilman Indonesia yang di dominasi oleh pihak-pihak yang itu-itu saja? Well, film 3SUM mematahkan pendapat tersebut, at least inilah sajian alternatif yang tidak boleh anda lewatkan sebagai penggemar film. So, apakah tiga cerita yang berbeda genre di film 3SUM memuaskan saya? Overall, memuaskan!

Dimulai dari cerita pertama berjudul Insomnights, disutradarai oleh sutradara debutan Witra Asliga dan sutradara yang sudah malang melintang di dunia perfilman indie, Andri Cung. Bercerita tentang seorang pria bernama Morty (Winky Wiryawan) yang tidak dapat tidur dengan nyenyak setiap malam. Ada perasaan mengganjal yang membuat Morty kesulitan tidur, beberapa perasaan yang mengganjalnya tersaji dalam alur flashback yang ditampilkan tidak utuh, random dan memang dibuat seperti perasaan orang yang susah tidur, total random. Sebagai penonton film sejati, anda pasti akan dengan mudah menebak mau dibawa kemana cerita Morty sang pria insomniac ini, karena jujur, dari segi cerita, saya sudah tidak terkejut lagi dengan ending twist yang ditampilkan di film yang sebagian besar bersetting di kamar tidur tersebut. Tapi usaha untuk menampilkan situasi mencekam dari awal hingga akhir film patut diacungi jempol, bahkan pemilihan warna yang mencolok di film ini menurut saya pribadi merupakan treatment yang tepat untuk menambah nuansa “eerie” di cerita pertama yang mengandalkan akting Winky Wiryawan seorang diri ini. Bahkan dari segi editing yang katanya banyak dikritik orang pun bukan menjadi masalah utama bagi saya, fast paced editing yang terlihat seperti kurang mulus dan pergerakan kamera yang tidak stabil, menurut saya hal tersebut tidak begitu mengganggu. Bagi saya pribadi, mungkin adalah ceritanya yang terlalu ‘draggy’, terlalu lama untuk mencapai klimaks, jika saja dibuat sedikit lebih ringkas dengan membuang beberapa scene yang terbilang repetitif, mungkin akan membuat banyak orang lebih shock ketika mereka menyaksikan ending cerita ini, but overall, untuk sebuah debutan, Insomnights tidak mengecewakan.

Masuk cerita kedua, kita akan berkenalan dengan orang-orang yang tinggal di daerah Rawa Kucing pada tahun 80-an, dimana ada seorang wanita kaya bernama Ayin (Aline Adita) yang sedang mempunyai masalah keluarga, hingga akhirnya ia bertemu dengan seorang gigolo bernama Welly (Natalius Chendana), hidup Ayin pun mulai berubah. Rawa Kucing merupakan sebuah cerita drama percintaan yang paling ringan dan mungkin paling bisa dinikmati oleh penonton film bioskop (Indonesia) pada umumnya. Berkat kepiawaian sang sutradara, Andri Cung, ia berhasil mengemas Rawa Kucing menjadi sebuah mesin waktu untuk melihat arti dari cinta sejati sesungguhnya. Yang lebih mencengangkan adalah bahwa cerita di Rawa Kucing memang di adaptasi dari cerita nyata dan memang sengaja di dramatisir untuk menambah klimaks film ini supaya lebih menyentuh. Well, it’s works, dengan dukungan visual yang menampilkan keotentikan suasana tahun 80-an dan dukungan para aktor dan aktris lainnya yang bermain dengan sangat baik (all hail Ronny P. Tjandra!) Rawa Kucing bisa dibilang cerita yang paling berwarna di film 3SUM.

Cerita terakhir ditutup dengan cerita action yang benar-benar menjadi pemuas dahaga saya, kenapa tidak? Sebagai penggemar film action sejati, saya sangat mengharapkan film-film action Indonesia bisa bangkit semenjak kemunculan The Raid di tahun lalu, dan saya sangat senang ketika ada sutradara muda Indonesia yang berani mengangkat cerita action yang mungkin mendekati stereotip film action Amerika kebanyakan tapi dengan kemasan yang menarik dan tidak norak. William Chandra sebagai sutradara dari Impromptu berhasil menyajikan sebuah cerita action yang tidak banyak cing-cong. Menghadirkan dua pembunuh bayaran yang diperankan oleh Hannah Al Rashid dan Dimas Argobie, ceritanya mereka berdua sedang dalam misi untuk membunuh seorang pejabat bernama Ali Ferzat (Joko Anwar) yang sedang mengungkap kasus korupsi besar, tanpa sengaja, ditengah jalan, mereka dicegat oleh segerombolan polisi preman yang doyan merazia dan ‘menyiksa’ korban razia. Well, nampaknya para polisi tersebut berada di tempat yang salah dan waktu yang salah. Tanpa mengandalkan plot ‘puzzle’ yang memainkan alur flashback seperti dua cerita sebelumnya, Impromptu menjadi cerita favorit saya di film 3SUM, terlepas dari kecintaan saya pada film action, koreografi bela diri yang ditampilkan oleh dua pemeran utamanya juga tidak mengecewakan untuk sebuah karya debutan, sinematografi pun sangat mewakilkan nuansa action-esque dari film-film action kebanyakan, dark and gritty kalau kata orang bilang sekarang, he-he.

So, kalau mau ditanya cerita yang paling saya suka di film 3SUM, saya pasti akan menjawab Impromptu, tapi untuk keseluruhan, film 3SUM adalah paket komplit yang tidak hanya memberikan anda satu tontonan alternatif dari sineas muda Indonesia, tapi tiga sekaligus! Akhir kata, merasa bosan dengan film-film Indonesia diawal tahun ini? Alangkah bijaknya jika anda menyempatkan diri untuk menonton film 3SUM sebelum turun layar karena dominasi production house besar lainnya yang sedang mengobral film-film bergenre “main aman” lainnya. Worth your money, I promise!

Rating: 3.25/5

4 thoughts on “3SUM (2013/Indonesia)

  1. Pingback: Short Film Review: Guk!, Merindu Mantan, The Couple, Nightmare | zerosumo

  2. Pingback: Report from “Redial” Screening (2015) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s