Mama (2013/Spain)


Surprise, motherfucker!

Surprise, motherfucker!

Waktunya membicarakan film horor yang sedang ramai dibicarakan, sebenarnya tidak ramai juga sih, cuma memang kebetulan sedang diputar di bioskop-bioskop kesayangan anda, yaitu film yang berjudul Mama. Dari judulnya saja sebenarnya film ini sudah mengintimidasi, karena pasti figur yang menyeramkan di film ini adalah seorang mama/ibu/mother/you name it. Tapi yang menarik adalah film yang dibintangi oleh Jessica Chastain ini diangkat dari film pendek milik Andrés Muschietti yang berjudul sama, dan di film panjangnya kali ini, masih disutradarai oleh orang yang sama, tapi diproduseri oleh Guillermo del Toro yang sudah kita tahu bahwa ia adalah rajanya film-film ‘aneh’ sekaligus ‘seram’ di industri perfilman Hollywood. Berterima kasihlah pada sutradara Pacific Rim tersebut (dan juga Youtube), karena secara tidak langsung, Guillermo del Toro yang membuat  Andrés Muschietti jadi naik daun berkat film panjang horor pertamanya.

Alkisah ada dua orang bocah yang secara tidak langsung menyaksikan pembunuhan ibu mereka oleh ayah mereka sendiri, sang ayah panik dan membawa dua bocah yang bernama Victoria (Megan Charpentier) dan Lily (Isabelle Nélisse) ke sebuah hutan, disana mereka menemukan sebuah kabin tua, yang rencananya akan dipakai oleh sang ayah untuk mengakhiri hidupnya dan kedua putrinya sendiri, tapi situasi mengerikan terjadi, dua bocah yang menggemaskan tersebut dilindungi oleh sebuah penampakan yang tidak jelas di kabin tersebut. Selang lima tahun, akhirnya dengan kerja keras kerabat terdekat sang ayah yang mati secara misterius (konyol), Jeff (Nikolaj Coster-Waldau) dan Annabel (Jessica Chastain), Victoria dan Lily ditemukan, dalam keadaan yang tidak stabil, lima tahun tanpa kasih sayang orang tua, Jeff dan Annabel memutuskan untuk menjaga mereka, hanya saja Jeff dan Annabel tidak tahu bahwa yang ‘ikut’ menjaga Victoria dan Lily selama lima tahun di kabin tengah hutan juga ikut kembali bersama mereka.

Tensi horor film ini bisa dibilang mulai menyeramkan dari awal film dimulai, bukan masalah penampakan hantunya, melainkan penampakan Victoria dan Lily yang hidup bagaikan zombie dan merangkak bagaikan werewolf. Penampakan dari si Mama-nya itu sendiri jarang diperlihatkan, tapi ciri khas horor klasik bisa kita saksikan lagi di film berdurasi 100 menit ini, seperti adegan di kamar Victoria dan Lily, dimana Lily sedang asyik bermain tarik-tarikan selimut dengan seseorang yang sudah pasti kita asumsikan adalah kakaknya, Victoria, tapi semenit kemudian kehadiran Victoria yang sedang ada di luar kamar membuyarkan itu semua. Formula tersebut lumayan diulang-ulang beberapa kali, tapi untungnya pada momen yang pas sehingga saya yang menontonnya pun tidak cepat bosan.

Jangan lupakan sound effectnya yang ‘menggelegar’, hal ini adalah hal krusial di sebuah film horor, dan  Andrés Muschietti tahu betul dimana ia harus mengagetkan penonton dengan efek-efek suara yang menyebalkan tersebut, bahkan kalau dibilang mungkin terlalu keras, tapi itu bukan masalah, toh efek suara menggelegar memang suatu hal yang lumrah di film-film seperti ini. Jajaran cast yang bermain di film ini pun terbilang lumayan pas, apalagi Jessica Chastain yang bertransformasi menjadi wanita punk rock, dia malah makin hot di film ini, tapi penampilan terbaik tentu saja ada pada kedua bocah yang memerankan Victoria dan Lily, diantara lucu dan menyeramkan, penampilan mereka yang sering melihat Mama mondar mandir di rumah sudah lumayan membayar kengerian film ini.

Sayang sekali ending film ini terlalu biasa dan terlalu mellow untuk sebuah film horor, padahal menjelang ending, sang sutradara melakukan sebuah tribute keren kepada film pendeknya sendiri yang menjadi alasan kenapa film ini ada, dengan teknik yang sama, long shot yang tidak putus, penonton akan disuguhi adegan paling mengerikan (atau mengagetkan) di sepanjang film ini, apalagi bagi anda yang belum pernah menonton film pendeknya, adegan tersebut lumayan bisa membuat anda sport jantung sejenak sebelum akhirnya disuguhi ending yang mellow seperti yang saya bilang sebelumnya.

Overall, Mama bisa menjadi film horor untuk mengisi waktu luang anda, walau tidak seseram film-film horor dari Spanyol lainnya, seperti The Orphanage, at least Mama masih lebih bagus dari film-film horor Hollywood kebanyakan. Dan memang tidak bisa dipungkiri, endingnya yang terlalu mellow dan lambatnya membuat film ini jadi kurang oke di mata saya, coba saja endingnya dibuat seperti film pendeknya, minimal menjadi seperti situasi akhir di film pendeknya, mungkin Mama akan menjadi sajian horor yang asyik di bulan penuh kasih sayang ini. Tapi untuk sebuah tontonan horor di waktu santai, film ini patut dicoba, selamat menyaksikan!

Rating: 3/5

NB: Penasaran dengan film pendeknya? Silakan simak langsung dibawah ini, siapa tahu anda lebih suka versi pendek daripada versi panjangnya, he-he.

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s