Rectoverso (2013/Indonesia)


Everything is friendzoned?

Everything is friendzoned?

Nampaknya tren film omnibus di Indonesia masih akan mewabah dalam jangka waktu yang panjang. Terbukti, kemarin saya baru saja menonton film omnibus terbaru yang diadaptasi dari kumpulan cerpen karangan Dee Lestari yang ada di bukunya yang berjudul Rectoverso. Masih berjudul sama dengan bukunya, film Rectoverso ini disutradarai oleh lima sutradara wanita atraktif di Indonesia, mewakili kelima cerpen Rectoverso tersebut, ada Marcela Zalianty yang menyutradarai segmen “Malaikat Juga Tahu”, Rachel Maryam yang menyutradarai segmen “Firasat”, Olga Lydia yang menyutradarai segmen “Curhat Buat Sahabat”, Happy Salma yang menyutradarai segmen “Hanya Isyarat”, dan Cathy Sharon yang menyutradarai segmen “Cicak di Dinding”.

Setiap segmen tidak disajikan utuh satu persatu, saling menyelingi satu sama lain, seperti halnya film Cloud Atlas, bedanya, tema yang mengikat di kelima segmen Rectoverso ini adalah pembahasan yang mungkin bisa menusuk dan merobek hati anda yang pernah merasakan hal seperti ini, yaitu “Cinta yang tak Terucap”! Sesuai tema tersebut kita akan disuguhi implementasi dari cinta yang tak terucap lewat serangkaian peristiwa yang mungkin pernah terjadi dalam kehidupan anda (dan saya juga).

Pertama, Malaikat Juga Tahu menceritakan tentang Abang (Lukman Sardi) yang mempunyai kelainan mental tapi mencintai dengan tulus seorang wanita bernama Leia (Prisia Nasution). Kemudian di Firasat, kita akan berkenalan dengan Senja (Asmirandah) yang mempunyai firasat tidak mengenakkan tentang mentornya, Panca (Dwi Sasono), di sebuah klub firasat yang selalu ia hadiri. Di Curhat Buat Sahabat kita akan menyaksikan curhatan Amanda (Acha Septriasa) tentang kehidupan cintanya kepada sahabatnya Reggie (Indra Birowo) yang selalu mendengarkan Amanda dan merawatnya dikala senang maupun susah.

Hanya Isyarat menceritakan persahabatan lima orang backpackers diantaranya adalah Al (Amanda Soekasah) yang jatuh cinta pada Raga (Hamish Daud) tapi tak sanggup mengungkapkannya, hanya bisa melihat dari kejauhan, lewat siluet punggungnya, sampai suatu waktu Al menyadari bahwa ia memang tidak bisa mendapatkan cinta Raga yang terlihat selalu menyendiri. Dan segmen terakhir adalah Cicak di Dinding dimana ada seorang seniman muda bernama Taja (Yama Carlos) yang pernah berhubungan dengan wanita penghibur bernama Saras (Sophia Latjuba) yang sudah tidak muda lagi, tapi hubungan tersebut membekas selalu di dalam ingatan Taja hingga suatu waktu ia mendapati kenyataan bahwa Saras sudah bertunangan dengan sahabatnya sendiri.

Overall, saya cukup terkagum-kagum dengan kelima cerita yang disajikan oleh para sineas-sineas cantik ini, apalagi dengan dukungan scoring yang digubah oleh para musisi-musisi tenar, membuat Rectoverso menjadi sebuah sajian lengkap visual dan musik yang menyayat hati luar dalam. Kelima cerita cinta yang berada di bawah payung “Cinta yang tak Terucap” ini memang terlihat terlalu kejam untuk jadi nyata, tapi kalau bisa dibilang, segmen Curhat Buat Sahabat dan Hanya Isyarat merupakan dua segmen favorit saya. Terlihat jalinan cerita di dua segmen tersebut benar-benar membumi, hal-hal yang saya jamin pasti banyak dialami oleh orang diluaran sana. Tapi justru karena kesederhanaan ceritanya dan akting para bintang di dalamnya, serta adaptasi dari untaian-untaian kata yang ditulis Dee, cerita tersebut jadi sebuah cerita yang membekas di hati saya.

Dari mulai Lukman Sardi hingga Sophia Latjuba, semua aktor dan aktris disini berperan dengan sangat baik, tapi harus diakui Lukman Sardi menjadi aktor yang paling di-highlight disini karena memerankan seorang pria yang mempunyai kelainan mental, sementara chemistry antara Acha dan Indra Birowo menjadi sebuah sajian yang paling manis yang saya tonton, di lain pihak, kehadiran Asmirandah tidak begitu membekas, tapi narasi dari dalam hati di Hanya Isyarat menjadi sebuah cerita yang tidak banyak menggunakan dialog tapi pesannya sampai dengan sempurna dengan dukungan sinematografinya yang cantik. Jangan lupakan kehadiran para sutradara wanita sebagai cameo di beberapa segmen Rectoverso ini, sama halnya dengan kehadiran Tio Pakusadewo yang memorable walau hanya muncul sebentar.

Saya belum pernah membaca bukunya, tapi untuk sebuah film yang diadaptasi dari cerpen-cerpen yang ditulis Dee Lestari yang puitis dan mengumandangkan jargon yang hampir sama dengan Cloud Atlas, everything is connected, Rectoverso menjadi sebuah film paling romantis dan manis di bulan penuh kasih sayang ini. Lima cerita cantik yang digarap lima sutradara cantik dan juga di dukung dengan penampilan cantik para aktor dan aktrisnya, tunggu apalagi? Wajib tonton!

Rating: 4/5

2 thoughts on “Rectoverso (2013/Indonesia)

  1. Pingback: Selamat Pagi, Malam (2014/Indonesia) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s