Madre (2013/Indonesia)


I'm not a lover, I'm an artisan!

I’m not a lover, I’m an artisan!

“Apa anda tega menjual ibu anda sendiri?” Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Tansen kepada seorang pengusaha roti yang berniat untuk membeli adonan biang roti bernama Madre yang diwariskan turun temurun kepada Tansen. Madre berarti ibu dalam bahasa Spanyol, sekaligus judul film terbaru yang dibintangi oleh Vino G. Bastian dan Laura Basuki. Madre merupakan film kedua tahun ini setelah Rectoverso yang di adaptasi dari buku karya Dewi “Dee” Lestari, di film Madre, kita akan menyaksikan sebuah arti cinta dan kehidupan yang dilihat dari sudut pandang yang unik, yaitu roti.

Film garapan sutradara Benni Setiawan ini menceritakan kisah seorang pengejar ombak alias surfer bernama Tansen (Vino G. Bastian) yang cinta kebebasan. Sampai akhirnya Tansen diwarisi sebuah kunci yang bisa membuka pintu kulkas di toko roti tua, Tan De Bakker yang dijaga oleh Pak Hadi (Didi Petet). Isi kulkas tersebut adalah Madre, adonan biang roti yang turun temurun diwariskan oleh leluhur Tansen. Merasa tidak cocok dengan hasratnya menjadi seorang surfer yang tak terikat, Tansen memutuskan untuk menjual Madre. Sebelum akhirnya Tansen bertemu Mei (Laura Basuki), yang awalnya berniat ingin membeli Madre, tapi malah membuat hidup solitaire Tansen berubah.

Madre merupakan sebuah film drama romantis yang sangat kental dengan nuansa Bandung, karena hampir 80% syuting Madre berlokasi di sekitaran Jalan Braga dan sekitarnya, bahkan toko roti Tan De Bakker milik Tansen dan Pak Hadi menggunakan Gedung PGN yang masih mempunyai desain klasik ‘Bandung jaman baheula’.

Pak Hadi yang diperankan oleh Didi Petet pun makin membuat Madre menjadi lebih berwarna. Humor dan gimmick “heu-euh” yang diucapkan di setiap dialognya dijamin bisa membuat anda tertawa, apalagi jika anda orang Bandung asli. Hal tersebut menjadikan Madre mempunyai cerita asmara ringan yang sesuai dengan atmosfir kota Bandung yang memang menyimpan banyak kisah romantis.

Roti menjadi sebuah objek menarik yang membuat kisah romansa antara Tansen dan Mei asyik untuk diikuti. Kepiawaian Dee mengorek cinta dari sudut pandang lain membuat rasa penasaran penonton makin bertambah. Selain itu, Madre juga memberi banyak sudut pandang baru kepada penonton dalam masalah pengolahan roti, dimana ada filosofi tersendiri untuk membuat roti, dan mengajarkan bahwa dalam memperlakukan apapun, termasuk roti, harus manusiawi.

Madre mencapai klimaksnya ketika Tansen disudutkan pada dua pilihan, apakah ia harus menjual Madre atau tetap mempertahankannya, apalagi ketika Tansen tahu bahwa Mei, wanita yang telah memberi dia perspektif baru dalam menjalani hidup ternyata sudah mau menikah dengan orang lain. Overall, Madre menjadi sebuah film drama romantis hangat yang walau terbilang mempunyai jalinan cerita yang klise tapi tetap bisa menghibur penontonnya, apalagi film berdurasi kurang lebih 90 menit ini lumayan memberikan sudut pandang fresh tentang kisah cinta dari sebuah roti.

Seperti karya Dee kebanyakan, selalu ada filosofi cinta baru yang bisa ditemui para penggemarnya. Setelah Rectoverso, Madre menjadi sebuah tontonan romantis yang lumayan menghibur saya, apalagi kalau anda penggemar karya sastra Dee, Madre mungkin bisa menjadi pilihan tontonan anda di saat senggang. Selamat menikmati roti Madre!

Rating: 3/5

One thought on “Madre (2013/Indonesia)

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s