The ABC’s of Death (2012/US)


Diet time!

Diet time!

Tren film omnibus memang tidak ada matinya, sampai akhirnya ada film yang berisikan film-film pendek yang bertujuan untuk memperlihatkan kepada penonton bagaimana definisi “mati” tersebut! The ABC’s of Death adalah jawabannya, sudah digadang-gadang dari beberapa tahun yang lalu, seperti judulnya, kita akan menyaksikan 26 cara mati sesuai abjad lewat film ini. dari mulai A yang keren sampai Z yang busuk, at least The ABC’s of Death memberikan sedikit perspektif bagaimana caranya membuat penonton bergidik melihat kematian yang diciptakan para sutradara berbakat dari seluruh penjuru bumi ini.

Perlu diketahui sebelumnya, tiap-tiap sutradara yang berkesempatan mengisi setiap segmen di film omnibus ini diberikan budget sebanyak 5000 dollar, sebuah budget yang tidak seberapa memang, tapi dengan sedikit kreativitas, dan durasi film yang tidak panjang juga (kira-kira sekitar lima menit setiap segmen) ada juga beberapa segmen yang menarik perhatian saya, tapi percayalah, tidak sampai setengahnya The ABC’s of Death menarik perhatian saya, karena kalau boleh jujur, diluar abjad-abjad yang saya sukai, sisanya bisa dibilang absurd dan kacau balau. Well, mari kita mulai!

  1. A for Apocalypse merupakan segmen pembuka yang kuat dan bisa dibilang hampir mendefinisikan cara mati ala Nacho Vigalondo, penulis sekaligus sutradara segmen ini, terkenal dengan film sci-fi thriller-nya Timecrimes. Bravo!
  2. B for Bigfoot merupakan segmen yang terlihat sangat biasa, bahkan angle kameranya pun seperti angle-angle kamera FTV. 5000 dollar terbuang sia-sia.
  3. C for Cycle walau terbilang biasa saja tapi lumayan menarik perhatian saya karena mencampurkan unsur sci-fi dan horor dengan lumayan apik, walau terbilang klise, dua jempol lah untuk segmen ini.
  4. D for Dogfight mungkin bisa dibilang segmen terbaik dan terlogis mengenai kematian versi saya di film omnibus ini. Tanpa dialog dan ditambah gerakan slow motion keren serta cerita yang mempunyai “isi”, Marcel Sarmiento selaku penulis dan sutradara membuktikan bahwa 5000 dollar adalah biaya yang pantas untuk membuat segmen ala film arthouse keren ini.
  5. E for Exterminate, segmen yang kurang menarik dan tergolong biasa saja, bahkan terlalu klise.
  6. F for Fart datang dari sutradara Jepang, Noboru Iguchi, sesuai judulnya, segmen ini menceritakan seorang wanita muda yang suka kentut. Segmen yang tolol dan aneh!
  7. G for Gravity menawarkan sudut pandang orang pertama yang ingin berselancar di laut dan akhirnya mati terombang ambing. Entah apa yang ada di pikiran Andrew Traucki selaku sutradara dan mungkin juga pemeran si peselancar tersebut ketika membuat segmen ini. benar-benar membuang-buang waktu dan uang!
  8. H for Hydro-Electric Diffusion, judul yang panjang dan membingungkan, begitu pula dengan ceritanya. Seekor tentara anjing yang digoda oleh kucing wanita yang ternyata adalah seorang nazi. Well, dari segi kostum, bisa dipastikan mereka niat membuat film ini, tapi dari segi yang lain? Absurd!
  9. I for Ingrown lumayan menjadi segmen yang serius dalam penceritaanya, menceritakan seorang pria yang menyiksa seorang wanita di bathtub. Terlihat dari tone dan atmosfir keseriusan sang sutradara, Jorge Michel Grau yang gelisah dengan keadaan riil wanita yang disiksa di Meksiko. Yes, the horror is not on the screen.
  10. J for Jidai-geki, lagi-lagi datang dari Jepang, tepatnya Yudai Yamaguchi, terlihat lebih serius dari Fart, tapi tetap goblok dan konyol, entah bisa disebut segmen horor atau komedi, absurd!
  11. K for Klutz merupakan segmen yang saya tidak ingat sama sekali, atau mungkin karena tidak menarik, well?
  12. L for Libido datang dari sineas negeri kita tercinta ini, yaitu Timo Tjahjanto yang memang spesialis film horor dan berdarah-darah. Tidak diragukan lagi, segmen Libido ini menjadi segmen yang paling terasa suasana horor dan kematian karena libido dan terlihat sekali keseriusan penggarapannya, baik itu dari jajaran castingnya sampai setting tempatnya. Well done!
  13. M for Miscarriage datang dari Ti West yang sudah cukup ternama akan film-film brutal-nya, tapi entah kenapa, segmen ini malah terlihat seperti sineas amatir yang membuatnya, well, there goes five grand bro!
  14. N for Nuptials merupakan segmen horor komedi dari Thailand, entah bagaimana, segmen ini merupakan segmen paling ringan dan konyol.
  15. O for Orgasm, sebuah segmen arthouse yang terlalu berat untuk dicerna saya, lupakan saja.
  16. P for Pressure nampaknya menjadi salah satu segmen yang paling logis juga, tapi tidak begitu istimewa di mata saya.
  17. Q for Quack menjadi segmen menghibur dan paling “out of the box” dari Adam Wingard yang juga memerankan dirinya sendiri di segmen ini. Bisa dikatakan segmen ini adalah jalan terakhir bagi para sutradara yang sudah mentok, yaitu membuat film mengenai susahnya membuat film pendek yang diawali huruf Q. Unik!
  18. R for Removed terbilang cukup menjanjikan dari setting dan atmosfir yang dibangun dari sutradara yang namanya susah saya sebut ini. Sedikit membingungkan dan memberikan banyak pertanyaan tapinya, sehingga membuat saya cepat melupakan segmen yang satu ini.
  19. S for Speed lumayan menarik dan walau tidak begitu horor ceritanya lumayan memberikan kehororan tersendiri bagi keadaan masyarakat saat ini, apalagi bagi para pecandu narkoba.
  20. T for Toilet sudah beredar dari tahun lalu, sebuah animasi dari tanah liat alias claymation yang menceritakan toilet pemakan manusia. Bisa dibilang segmen horor yang paling menghibur di film omnibus ini. Well done Lee Hardcastle!
  21. U for Unearthed merupakan segmen yang ditangani oleh Ben Wheatley, sineas Inggris yang pernah membesut film horor (absurd) berjudul Kill List. Dengan gaya first person, saya disuguhi saat-saat terakhir ketika seorang vampir diburu manusia, lumayan menarik, jarang-jarang kita melihat kematian dari sudut pandang si pelaku yang sering menyebabkan kematian.
  22. V for Vagitus, segmen yang berusaha untuk tampil beda, dengan setting masa depan dan nuansa ala film-film sci-fi, segmen ini lumayan memberikan rasa penasaran, tapi sayangnya mudah juga dilupakan.
  23. W for WTF. Seperti judulnya, saya bingung menonton segmen ini dan tidak mau peduli juga.
  24. X for XXL merupakan segmen yang digarap dengan baik oleh sineas Perancis, Xavier Gens. Menceritakan kegalauan seorang wanita gemuk yang ingin langsing, secara tidak langsung kehororan film ini mendobrak norma-norma sosial yang memang sering terjadi di dalam kehidupan kita. Epik!
  25. Y for Youngbuck merupakan segmen yang isinya seperti video klip band synth pop tahun 80-an tapi dengan pendekatan menjijikan, entah apa maksudnya.
  26. Z for Zetsumetsu menjadi segmen terakhir yang paling tolol dan paling tidak meaning yang pernah saya lihat di sebuah film horor. Tapi mungkin karena Yoshihiro Nishimura yang membuatnya, segmen ini bisa ditolerir? Tentu tidak, dan saya tidak peduli, sungguh tolol dan absurd! Ada masalah apa sih dengan orang-orang Jepang?!

Ya, itulah pendapat saya dari setiap segmen yang ada di The ABC’s of Death, silakan tebak sendiri saya suka segmen yang mana, yang jelas masih sama seperti perkataan saya sebelumnya, tidak ada setengahnya dari segmen-segmen yang ada di film ini membuat saya jadi malas untuk meneruskan menontonnya. So, mau coba sendiri? Siapa tahu The ABC’s of Death bisa menjadi film “komedi” baru bagi anda, he-he. Enjoy the death!

2 thoughts on “The ABC’s of Death (2012/US)

  1. Pingback: You’re Next (2011/US) | zerosumo

  2. Pingback: The Guest (2014/US) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s