Sound City (2013/US)


The legendary Neve board

The legendary Neve board

Sekitar tahun lalu atau dua tahun lalu ketika saya menonton acara Grammy Award saat itu, Foo Fighters memenangkan Piala Grammy untuk kategori ‘best rock album’ lewat album Wasting Light-nya. Seperti biasa, para personil Foo Fighters naik ke atas panggung dan tidak lupa Dave Grohl sebagai frontman sedikit berpidato soal kemenangan Wasting Light menggondol Piala Grammy. Dalam pidatonya, Dave sedikit bercerita tentang proses pembuatan album Wasting Light, dan mantan drummer Nirvana tersebut menekankan bahwa bebunyian yang di dengar di album ketujuhnya adalah murni bunyi instrumen yang langsung dimainkan oleh para personil Foo Fighters, tanpa rekayasa dan tanpa campur tangan teknologi yang berlebihan. Singkat kata, Dave menekankan bahwa album Wasting Light adalah hasil jerih payahnya dan rekan-rekannya untuk menghadirkan sebuah musik yang dibuat langsung lewat proses kreatif tangan para personilnya.

Pidato Dave Grohl di Grammy Award sontak mendapat tepuk tangan riuh dari para pecinta musik yang hadir saat itu. Apa yang dikatakan Dave saat itu juga menjadi sebuah pukulan bagi industri musik modern saat ini yang terlalu mengandalkan teknologi untuk mendapatkan hasil yang sempurna, suara yang enak di dengar sampai bebunyian instrumen yang mulus. Itulah musik saat ini, ketika proses kreatif antar personilnya sudah mulai diabaikan, ketika teknologi lebih banyak bicara tanpa adanya campur tangan pihak ketiga, pihak keempat dan seterusnya.

Selang beberapa waktu dari pidato Dave Grohl di Grammy Award, hadir sebuah film dokumenter berjudul Sound City yang disutradarai oleh Dave sendiri. Sound City merupakan sebuah film dokumenter yang mengisahkan tentang studio rekaman tua legendaris bernama Sound City di Van Nuys California Amerika. Sound City telah menjadi saksi dari para musisi-musisi hebat sepanjang masa, sebut saja Stevie Nicks, Pat Benatar, Tom Petty, Fleetwood Mac, Neil Young, Barry Manilow, Nirvana, Weezer, Kyuss, Rage Againts the Machine, Slipknot dan masih banyak lagi setidaknya telah membuat satu album yang dikenang sepanjang masa di Sound City.

The producer of Nevermind and Wasting Light in action!

The producer of Nevermind and Wasting Light in action!

Sound City tidak lain adalah sebuah film dokumenter yang mengisahkan perjalanan sebuah studio rekaman yang menggunakan peralatan analog di dalamnya, tanpa tetek bengek komputerisasi dan semacamnya, kita akan menyaksikan bagaimana sebuah proses rekaman dari para musisi yang berkaitan terjadi di Sound City, dan disitu juga Sound City menjadi studio favorit para musisi-musisi ternama karena suara yang dihasilkan dari knob-knob papan operatornya telah membantu para musisi menemukan suara terbaik dari karya mereka. Satu hal yang membedakan Sound City dengan studio rekaman lain adalah, Sound City merupakan studio rekaman berbasis pita, bukan digital, sehingga dalam proses rekaman para musisi yang bersangkutan harus benar-benar serius ketika ingin memulai proses perekaman lagunya, karena suara yang dihasilkan akan langsung direkam oleh pita-pita tersebut dan hasilnya harus fix, tidak bisa ada yang fals atau salah not.

Proses seperti itulah yang membuat sebuah lagu bisa menjadi masterpiece pada saat itu, karena ketika itu, si musisi mencurahkan segalanya untuk membuat satu lagunya terdengar dengan sangat baik, walau melalui proses pengulangan jika terjadi kegagalan, tapi itulah yang membedakan proses rekaman studio saat ini dengan saat Sound City masih berjaya dulu tahun 70-an. Walau banyak ketidaksempurnaan, itulah proses yang membuat si musisi terikat dengan lagu yang memang ia ciptakan dengan sungguh-sungguh, perasaan itulah yang membuat lagu-lagu saat itu lebih memorable dan sempurna terdengar sampai sekarang daripada lagu-lagu saat ini. Karena suara yang dihasilkan adalah suara asli dari hasil kerja keras si musisi yang bersangkutan lewat serangkaian peristiwa, entah itu masalah mood, hingga bentrok dengan personil lainnya ataupun dengan sang produser.

Lee Ving from Fear!

Lee Ving from Fear!

Sebuah effort yang tidak main-main dari Dave Grohl untuk menunjukan bahwa dalam pembuatan suatu karya yang enak di dengar tidaklah segampang sekarang. Apalagi Sound City saat itu terkenal dengan panel Neve Board-nya yang harganya lebih mahal dari harga rumah. Beberapa musisi telah menjadi saksi kehebatan Sound City, dimana suara yang dihasilkan, terutama dari drum kitnya menjadi andalan di kalangan musisi saat itu.

Disitu saya melihat bahwa Dave Grohl berusaha untuk mengembalikan memori tentang studio Sound City lewat film ini, selain menjadi studio yang telah mengajarkan dirinya bahwa untuk menjadi seorang musisi itu tidaklah segampang sekarang, Sound City juga menjadi sebuah pelajaran tersendiri bagi para musisi-musisi modern saat ini bahwa ketergantungan pada teknologi tidak selamanya bagus. Teknologi bukanlah sesuatu yang buruk tapi penggunaanya jangan sampai menghilangkan nilai-nilai kreativitas dalam sebuah proses pembuatan karya, hal itulah yang terjadi saat ini, dimana musik elektronik hingga dub step yang notabene mendapatkan bebunyian instrumen musik lewat satu layar monitor merajai tangga lagu dunia, dimana penggunaan synth dan teknik auto tuning sudah dianggap biasa dalam sebuah lagu.

Terakhir mungkin Sound City menjadi ajang reuni bagi Dave Grohl dan beberapa musisi yang sudah saya sebut sebelumnya untuk kembali bermain musik dan rekaman lewat elemen paling penting di Sound City, yaitu Neve Board, yang akhirnya dibeli Dave dan dipindahkan ke studio pribadi miliknya. Ya, Sound City secara tidak langsung adalah film dokumenter yang berbau curhatan seorang Dave Grohl yang merindukan bermain musik seperti era keemasannya bersama Nirvana dulu.

The modern age of rock n' roll

The modern age of rock n’ roll

Bukan hanya ‘curhat colongan’ Dave Grohl saja, tapi film dokumenter yang turut meramaikan Sundance Film Festival tahun ini juga menyimpan banyak cerita menarik, dari mulai cerita cinta hingga pertikaian intern yang pernah terjadi di studio Sound City, entah itu melibatkan para musisi yang pernah rekaman disitu dan juga para pengurus studio klasik tersebut. Selain itu saya juga jadi lebih tahu peran penting para orang-orang dibalik layar dalam sebuah proses rekaman, dimana peran produser hingga sound engineer itu penting adanya dalam menghasilkan sebuah karya masterpiece. Dan tentunya, setelah cerita sana sini tentang seluk beluk dan sejarah studio rekaman yang mulai eksis tahun 1973 itu, Dave mengajak saya menyaksikan sesi jamming yang mungkin tidak akan pernah bisa disaksikan di panggung-panggung konvensional pada umumnya.

Dave Grohl mengajak banyak musisi ‘sepuh’ yang pernah merasakan pahit manisnya rekaman di Sound City untuk membawakan satu lagu bersama Dave dan rekan-rekannya (alias Foo Fighters). Dimulai dengan sesi jamming bersama Stevie Nicks, Rick Springfield, Lee Ving, Josh Homme, Trent Reznor, The Black Rebel Motorcycle Club sampai klimaksnya adalah sesi jamming dengan Paul McCartney yang sudah menjadi panutan Dave sejak kecil. Well, setengah jam terakhir film ini menjadi mimpi basah bagi siapapun yang tumbuh besar setidaknya dengan lagu-lagu yang diciptakan oleh para musisi yang pernah rekaman di Sound City. Salah satunya adalah Trent Reznor yang menjadi favorit saya, satu-satunya orang dibalik kegilaan Nine Inch Nails ini berhasil memukau saya lewat sesi jammingnya bersama Dave dan Josh Homme dari Queens of the Stone Age. Di sesi tersebut Dave menekankan bahwa mesin dan teknologi bukanlah ‘gimmick’ semata dalam sebuah proses pembuatan musik, Trent Reznor membuktikan hal tersebut, bahwa teknologi bisa menjadi instrumen bagi Trent Reznor—yang notabene adalah pelopor genre industrial rock di muka bumi—bukan sebuah alat untuk membenarkan atau menjadikan sesuatu lebih baik.

Let's jamming!

Let’s jamming!

Well, watch out Skrillex! You better watch this movie! Karena musik bukan hanya sekedar bagaimana kita memencet tombol di sebuah komputer, tapi bagaimana cara kita membuat musik itu enak terdengar karena telah dibawakan dengan penuh perasaan. Sebuah film dokumenter revolusioner di sebuah industri musik, khususnya musik rock. Tunggu apalagi, Sound City wajib menjadi tontonan anda kalau ingin tahu seluk beluk proses kreatif terciptanya sebuah masterpiece. Enjoy!

NB: Satu momen yang membuat saya merinding tentu saja ketika Dave, Josh Homme dan Trent Reznor berkolaborasi, inilah hasilnya, sebuah lagu berjudul Mantra. Mantra yang benar-benar menghipnotis saya, watch out!

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s