Movie 43 (2013/US)


The biggest mistake ever made

The biggest mistake ever made

Tidak selamanya film-film yang dibintangi oleh aktor berkualitas bakal membuat film tersebut menjadi tontonan berkualitas juga. Mungkin menjadi film yang biasa-biasa saja, tapi bisa juga menjadi film yang super sampah sampai membuat penonton bertanya-tanya, kenapa mereka (para aktor-aktor berkualitas itu) mau-maunya ambil bagian dalam film tersebut? Pertanyaan tersebut juga menjadi sebuah penyesalan saya ketika menonton film omnibus Hollywood yang diisi oleh jajaran aktor ternama yang berjudul Movie 43. Film yang judulnya saja saya tidak mengerti apa maksudnya ini menghadirkan lebih dari sepuluh aktor ternama Hollywood untuk membintangi tiap segmen cerita yang disutradarai oleh sineas-sineas berbeda yang saya juga tidak begitu tahu. Setiap segmen diselingi oleh satu cerita tentang tiga remaja yang sedang mencari sebuah film rahasia berjudul Movie 43, pencarian mereka berujung pada tiap segmen film Movie 43 yang mempunyai alur cerita yang sangat amat super absurd!

Segmen pertama berjudul The Catch, ceritanya seorang wanita cantik bernama Beth (Kate Winslet) sedang bersiap-siap untuk kencan buta dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Davis (Hugh Jackman). Tapi ketika Beth bertemu Davis, ia sadar kenapa Davis tetap single sampai saat ini, karena pria kaya raya itu mempunyai testis yang menggantung di lehernya. Lucu? Tidak sama sekali. Segmen kedua yang berjudul Homeschooled menceritakan sepasang suami istri bernama Robert (Liev Schreiber) dan Samantha (Naomi Watts) yang mempunyai cara aneh untuk mendidik anaknya yang masih belia. Satu-satunya kelucuan yang ada di segmen ini adalah kenapa pemeran Robert dan Samantha yang memang merupakan pasangan asli dalam kehidupan nyata mau-maunya main di film ini.

Lanjut segmen ketiga, cerita mulai bertambah absurd dan menjijikan, di segmen berjudul The Proposition ini ada Jason (Chris Pratt) yang berencana untuk melamar pacarnya, Vanessa (Anna Faris). Tapi sebelum hal itu terjadi, Vanessa mempunyai satu keinginan aneh, ia ingin Jason “mengotori” dirinya ala wanita-wanita yang ada di website Sukatoro. Cukup disturbing dan entah dimana letak lucunya. Di segmen keempat, ceritanya lumayan menarik dan bisa saya bilang menjadi segmen yang paling “normal” dari semua segmen cerita absurd di film berdurasi 90 menit ini. Berjudul Veronica, segmen ini menceritakan kisah cinta lama antara Neil (Kieran Culkin) dan Veronica (Emma Stone) yang kembali bersemi dengan cara yang aneh dan liar di sebuah supermarket yang kebanyakan pengunjungnya adalah para kaum lansia, aneh tapi tidak absurd dan tidak menjijikan walau tetap tidak lucu juga.

Segmen kelima merupakan spoof dari produk-produk Apple, judulnya adalah iBabe, sebuah pemutar musik yang berbentuk wanita bugil. Masalah terjadi ketika banyak pria pengguna iBabe jarinya putus ketika berusaha “bermain-main” di bagian vital iBabe, tapi hal tersebut justru bukan menjadi masalah bagi sang CEO iBabe (Richard Gere). Segmen iBabe tergolong segmen klise komedi garing ala Hollywood yang mengandalakan nudity dan rasisme, biasa saja. Kemudian di segmen keenam yang berjudul Super Hero Speed Dating penonton akan dikenalkan dengan karakter KW Robin (Justin Long) yang sedang pendekatan pada teman kencannya yang beragam seperti KW Lois Lane (Uma Thurman) dan KW Supergirl (Kristen Bell). Sayangnya usaha Robin selalu jadi bahan becandaan KW Batman (Jason Sudeikis) yang total asshole. Cukup banyak aktor dan aktris ternama di segmen ini, tapi anehnya tidak membuat saya tertawa sama sekali.

Segmen ketujuh diisi oleh jajaran aktor dan aktris muda Hollywood yang sedang naik daun. Mempunyai judul Middleschool Date, ada Amanda (Chloë Grace Moretz) yang baru saja mengalami menstruasi pertamanya, kontan hal tersebut membuat seisi rumah panik, termasuk Mikey (Christopher Mintz-Plasse), kakak dari Nathan (Jimmy Bennett) yang sedang mengencani Amanda. Ada dua pemeran utama Kick-Ass di segmen ini, tapi hal tersebut tak membuat segmen ini serta merta menjadi ass-kicking, cukup so-so. Lanjut ke segmen kedelapan, ada dua aktor yang biasa berperan bodoh berduet untuk melakukan sesuatu yang lebih bodoh lagi. Segmen berjudul Happy Birthday ini ada Brian (Seann William Scott) dan Pete (Johnny Knoxville) yang sedang berusaha menyiksa makhluk leprechaun (Gerard Butler) dengan tujuan si leprechaun bakal menyerahkan kepingan-kepingan emasnya. Segmen ini absurd tapi leluconnya tidak terlihat dipaksakan, bahkan saya baru menyadari bahwa yang memerankan leprechaun di segmen ini adalah si pemeran Leonidas di 300, he-he.

Di segmen kesembilan yang berjudul Truth or Dare ada Donald (Stephen Merchant) dan Emily (Halle Berry) yang sedang menikmati kencan pertama. Tapi kegilaan terjadi ketika mereka mulai bermain truth or dare, dimana semua tantangan mereka lakukan demi terciptanya suasana kencan yang tidak monoton, tapi semua kegilaan tersebut berakhir ke sebuah konklusi yang aneh dan menjijikan, enough! Di segmen kesepuluh ada cerita yang mengisahkan sebuah tim basket di Amerika pada tahun 50-an, dimana saat itu warna kulit masih menjadi sesuatu yang bisa menyebabkan perselisihan. Segmen berjudul Victory’s Glory ini menghadirkan pelatih basket berwatak keras bernama Jackson (Terrence Howard) yang hobi memotivasi anak asuhnya dengan perkataan-perkataan kasar plus rasial. Well, hasilnya adalah stereotip humor kasar para aktor kulit hitam yang tidak pada tempatnya, tidak menarik sama sekali.

Masuk ke segmen terakhir, berjudul Beezel, saya menyaksikan sebuah cerita absurd yang mengkombinasikan karakter kucing ala Garfield dengan humor vulgar yang kasar. Ada Anson (Josh Duhamel) dan Amy (Elizabeth Banks) yang sudah berpacaran lama, tapi Amy makin risih ketika kucing peliharaan Anson, Beezel mulai menyebalkan, apalagi ketika Beezel mulai bertingkah liar, seperti masturbasi dan tindakan-tindakan idiot lainnya. Segmen ini menjadi segmen yang paling pas untuk saya langsung menyetop film ini dan mulai mencari film lain yang sekiranya bisa ‘menghibur’. Jadi, kalau anda masih penasaran seperti apa jadinya film omnibus komedi ala Hollywood? Lebih baik jauh-jauh dari film berjudul Movie 43 ini, waktu akan terbuang sia-sia, percayalah!

Rating: 1.5/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s