What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013/Indonesia)


All Nicholas Saputra fans, brace yourself when you see this scene

All Nicholas Saputra fans, brace yourself when you see this scene

Kadang jika bicara masalah cinta, ada satu hal paling umum yang selalu menjadi pertanyaan besar, “how to say it?”, “How to say I’m in love with you?” dan segambreng pertanyaan-pertanyaan “what if…” jika kita telah mengungkapkan perasaan paling tulus tersebut kepada seseorang yang kita sukai dan sayangi. Mouly Surya punya caranya sendiri, ketika orang pada umumnya masih ‘mengulik’ masalah diatas, Mouly—sutradara yang pernah membidani film Fiksi tahun 2008—berani menghadirkan bagaimana cinta bisa terjadi diantara orang-orang difabel—yang notabene memiliki keterbatasan indera—lewat film terbarunya yang berjudul What They Don’t Talk About When They Talk About Love.

Maka kita akan dikenalkan dengan dua pasangan di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang mempunyai kekurangannya masing-masing. Ada Diana (Karina Salim), seorang wanita penderita low vision yang diam-diam menyukai teman barunya di sekolah, Andhika (Anggun Priambodo) yang telah kehilangan penglihatannya. Kemudian ada Fitri (Ayushita Nugraha) seorang tunanetra yang diam-diam menjalin cinta lewat surat menyurat dengan Edo (Nicholas Saputra), yang ternyata seorang anak penjaga warung sekolah yang tidak bisa mendengar dan bicara sejak lahir. So, melihat kondisi tiap-tiap karakter, kira-kira bisa anda bayangkan jika problema ‘menyatakan’ dan ‘mengungkapkan’ cinta kita ternyata belum ada apa-apanya dengan yang dialami oleh mereka. Hal tersebut yang berusaha untuk diangkat oleh Mouly Surya lewat film yang asalnya berjudul Extraordinary Me ini.

Layaknya film-film arthouse dan festival, What They Don’t Talk About When They Talk About Love (yang disingkat menjadi Don’t Talk Love) berjalan dengan pace yang sangat lambat. Memfokuskan pada kegiatan harian para difabel SLB yang berlokasi di SLB Rawinala Jakarta Timur. Dibuka dengan opening scene yang unik, dimana para difabel secara bergantian menyanyikan lagu klasik Vina Panduwinata yang berjudul Burung Camar, seolah-olah menjadi penegasan dari awal bahwa sesuatu yang indah pun, seperti cinta, tidak melulu berasal dari orang-orang yang sempurna.

Cerita terus berjalan dengan mengeksplorasi hubungan-hubungan antara Diana dan Andhika serta Fitri dan Edo yang tidak sedikit memberikan rasa penasaran pada penonton dan juga kadang tawa. Seperti kepolosan Diana ketika ia baru mendapatkan menstruasi pertamanya dan juga keuletannya yang selalu menyiapkan pembalut siap pakai di celana dalamnya. Hal tersebut mungkin adalah sesuatu yang paling mendasar tapi juga paling banyak memikat perhatian penonton karena kita sebagai orang awam pada umumnya pasti ingin tahu bagaimana aktivitas reguler yang dilakukan oleh para difabel dalam kehidupan sehari-hari, ternyata tidak jauh beda bukan dengan kita?

Semua momen-momen unik dan kadang nyeleneh tersebut dibungkus rapi dibawah satu tema universal, yaitu cinta. Cinta yang polos dan juga cinta yang memang penuh dengan passion. Perlu diketahui, film yang masuk nominasi World Cinema Dramatic di Sundance Film Festival 2013 ini menyimpan juga beberapa adegan yang mungkin belum pantas disaksikan oleh anak dibawah umur. Tapi hal tersebut bagi saya seperti sebuah refleksi dimana penerjemahan rasa cinta bagi orang difabel—khusunya penderita tunanetra—hanya bisa dirasakan dengan sentuhan dan ciuman. Sebuah interpretasi cinta universal yang bisa diterjemahkan berbeda-beda oleh yang menonton, tapi bagi saya sendiri, hal tersebut masih dalam koridor kewajaran, karena maksud yang disampaikan memang realistis.

Ditengah-tengah kerumitan kisah cinta yang dialami oleh para karakternya, Mouly menghadirkan film ini tanpa muluk-muluk, dengan durasi kurang lebih 90 menit, Don’t Talk Love berjalan dengan alur yang tidak membutuhkan klimaks. Film yang memenangkan NETPAC Award di International Film Festival Rotterdam ini disajikan dengan gaya indie yang minimalis, penuh dengan adegan-adegan still yang disyut long take, kadang fokus pada satu aktivitas, seperti adegan dimana Diana menyisir rambutnya sampai kehitungan ke seratus dan berapa kali Andhika melewati koridor sekolah tiap malam dimana Edo dengan tenangnya nongkrong di atas pagar. Semua kesederhanaan visual tersebut hadir diiringi dengan scoring musik apik yang digubah oleh Zeke Khasali dan beberapa lagu klasik selain Burung Camar, seperti Nurlela-nya Bing Slamet dan Twinkle-Twinkle Little Star yang membuat saya seolah-olah masuk kedalam kehidupan tiap-tiap karakternya.

Tapi dibalik kesederhanaan film yang mempunyai judul bahasa Indonesia, Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta ini, istri dari produser Rama Adi ini menyelipkan satu bagian yang mungkin bisa membuat penonton agak bingung dan kaget, ketika semua karakter difabel tiba-tiba menjadi normal dan semua karakter normal menjadi difabel. Hal tersebut bagaikan sebuah cerminan yang ingin disampaikan sang filmmaker bahwa bagaimanapun kondisi kita, cinta merupakan hal yang bisa diterima semua orang, momen-momen “what if…” di skenario “bagaimana rasanya setelah mengungkapkan cinta?” dibalik menjadi “bagaimana rasanya cinta ketika kita menjadi normal ataupun sebaliknya”. Poin penting itulah yang secara tidak langsung menjadi tamparan, bahwa cinta itu pasti indah apapun kondisinya asal kita bisa menjalaninya dengan ikhlas dan tulus.

Di dukung komposisi aktor dan aktris yang memerankan karakternya dengan maksimal, apalagi penampilan Nicholas Saputra yang hanya mengandalkan kekuatan gestur, mimik wajah dan penampilan urakannya, serta dukungan storyline yang sederhana tapi kuat. Don’t Talk Love bisa jadi salah satu film ‘tidak biasa’ Indonesia yang berhasil mengisahkan cinta tidak biasa dengan ‘luar biasa’. Mungkin bukan film untuk semua orang, tapi jika anda mau menyisihkan waktu kurang lebih dua jam dan mencoba menikmati tanpa berpikiran pretensius dan macam-macam soal film ini, saya yakin anda akan mengalami pengalaman sinematik unik dan langka lewat film yang hadir dengan pendekatan berbeda ini. Well, watch it before it’s too late!

Rating: 3/5

3 thoughts on “What They Don’t Talk About When They Talk About Love (2013/Indonesia)

  1. Pingback: My 12 Favorite Movies of 2013 (And Not So Favorite Too) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s