Stand Up Guys (2012/US)


This is not Quentin Tarantino's point of view

This is not Quentin Tarantino’s point of view

Ceritanya sederhana, tentang tiga orang gangster yang sudah menjadi bagian dari kaum lansia, ada Doc (Christopher Walken), Val (Al Pacino) dan Hirsch (Alan Arkin). Val baru saja bebas dari penjara setelah dikurung selama 28 tahun akibat pekerjaan terakhirnya bersama Doc dan Hirsch. Doc menyambut Val untuk merayakan kebebasannya, tapi yang tak Val sadari adalah, Doc diutus oleh mantan bosnya, Claphands (Mark Margolis), yang menginginkan Val mati karena perbuatan keji yang menimpa anaknya 28 tahun yang lalu. Hari pertama menghirup udara segar di luar penjara bakal menjadi hari terakhir Val juga hidup di dunia. Maka, sebelum dirinya dieksekusi oleh temannya sendiri, Doc, Val dan Hirsch memutuskan untuk bersenang-senang, mengenang masa muda mereka yang penuh masalah. Old habits die hard.

Ini bukan film action, apalagi di dalamnya ada tiga aktor kawakan Hollywood yang selalu menjadi perhatian di setiap film-film yang mereka bintangi. Ini adalah film drama berbau kriminal yang sebenarnya menyimpan banyak ironi tapi dibalut dengan tone yang ringan dan terkadang kocak. Layaknya film-film black comedy lain yang mengisahkan tindak tanduk pelaku kriminal, Stand Up Guys menghadirkan kisah persahabatan satu hari satu malam tiga orang gangster tua yang sebenarnya sudah tidak mau berbuat brutal lagi.

Ya, melihat Al Pacino dan Christopher Walken serta Alan Arkin bersenang-senang di gelapnya malam kota New York dengan cara urakan seperti yang tidak tahu diri atau lupa usia memang sangat mengasyikkan. Balutan scoring musik blues dan suara Jon Bon Jovi menambah suasana oldies tiga sekawan ini. Belum lagi celotehan mereka soal teknologi dan budaya kekinian yang tak pernah dirasakan Val ketika mendekam di penjara. Plus sajian kocak diantara rumah bordil dan apotek yang menjual viagra, Stand Up Guys seakan-akan ingin mengingatkan penonton bahwa aktor kawakan tidak harus selalu turun ke jalan dan beraksi ala Rambo untuk menunjukan bahwa dirinya masih eksis. Setidaknya Al Pacino dkk membuktikan hal tersebut di film yang mungkin bisa dibilang film minimalis dengan budget yang saya prediksi rendah ini.

Kekuatan film ini tentu saja berada di daya tarik tiga aktor kawakan yang berinteraksi dengan gaya gangsternya walaupun melihat mereka jalan kaki saja sudah seperti orang payah, tapi mereka masih sanggup bermain-main dengan pistol dan kebut-kebutan dengan mobil kencang di gelapnya malam tanpa mengenal lelah. Jangan lupakan bahwa hubungan menarik diantara tiga aktor utamanya hampir membuat saya lupa pada pesan moral yang paling simple di film ini, selalu jadi orang yang diandalkan dan jangan pernah membuat orang lain kecewa. Hubungan rumit Doc dengan cucunya menjadi sajian penutup yang manis di film ini. Sama seperti hubungan ayah-anak yang dialami oleh Hirsch. Semua problematika tersebut terselesaikan dengan waktu semalam, yang terasa sebentar tapi banyak menimbulkan momen-momen magis, kocak, sampai berdarah-darah, tapi sebagian besar, mereka tetap bisa bercanda di hari-hari terakhir mereka menjalani kehidupan sebagai seorang gangster.

Film berdurasi 90 menit arahan sutradara Fisher Stevens ini mungkin tidak sebombastis film-film yang pernah dilakoni tiga aktor kawakan tersebut. Tapi ceritanya yang sederhana dan interaksi yang disajikan lewat dialog-dialog manis, slengean dan konyol ketiga kakek-kakek ini cukup memberikan hiburan yang bisa membuat saya tersenyum sampai tertawa kecil. Dengan setting yang minimalis dan gaya penceritaan yang singkat, kejadian satu hari satu malam ketiga sahabat lama ini tersaji padat dan berisi, tidak ada kekosongan cerita, bisa dibilang seperti The Bucket List versi nyeleneh, malahan membuat saya terus bertanya-tanya, apakah Doc akan benar-benar membunuh Val di akhir nanti? Tapi lucunya pertanyaan tersebut seperti hilang sementara ketika melihat trio gila ini melakukan aksi-aksi konyol dan nekat, tapi di akhir, pertanyaan tersebut kembali datang dan kali ini saya sudah siap melihat jawabannya, dan saya suka dengan eksekusinya. So, bicara the ‘real’ expendables? Mungkin Al Pacino, Christopher Walken dan Alan Arkin-lah jawabannya. Buktikan saja sendiri, enjoy!

Rating: 3.5/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s