Kon-Tiki (2012/Norway)


I don't always go fishing, but when I do, I'm using my hand to catch a shark

I don’t always go fishing, but when I do, I’m using my hand to catch a shark

Kalau anda percaya nenek moyang orang Polynesia itu berasal dari benua Asia, sepertinya anda harus menonton film yang berjudul Kon-Tiki dulu. Film ini merupakan film tentang petualangan seorang peneliti berkebangsaan Norwegia bernama Thor Heyerdahl (Pål Sverre Hagen) yang berusaha membuktikan bahwa nenek moyang orang yang tinggal di Polynesia itu berasal dari Amerika Latin, bukan Asia. Caranya? Mudah saja, setelah tinggal bersama penduduk Fatu Hiva di Polynesia bertahun-tahun, Thor menemukan fakta unik, bahwa dulu dewanya (kon-tiki) penduduk Fatu Hiva tiba di Polynesia hanya dengan menggunakan rakit menyebrangi lautan jauh dari barat, maka untuk membuktikan dongeng jaman dulu tersebut, Thor pun mencoba untuk menyebrangi lautan hanya dengan menggunakan rakit seperti para dewa orang Polynesia jaman dulu, tanpa ada peralatan tambahan.

Idenya terdengar gila memang, tapi Thor yakin karena ia telah mengorbankan segalanya ketika penelitiannya dulu di Fatu Hiva. Untuk sekedar info, Polynesia itu berada di lautan pasifik, kalau anda lihat di peta, Polynesia itu lebih dekat ke Australia dan Indonesia malahan, jadi wajar saja kalau banyak orang beranggapan nenek moyang orang Polynesia itu berasal dari benua Asia. So, tanpa pikir panjang, Thor dibantu rekan-rekannya yang ikut mengamini ide gilanya, yaitu Herman (Anders Baasmo Christiansen), Knut (Tobias Santelmann), Bengt (Gustaf Skarsgård), Erik (Odd Magnus Williamson) dan Torstein (Jakob Oftebro). Penuh dengan ujian dan tantangan dari mulai menyiapkan peralatan sampai mengemis bantuan dana ke tiap sponsor, Thor akhirnya mendapatkan sponsor paling besar, yaitu pemerintah Peru yang mengakomodasi semua kebutuhan Thor dkk selama perjalanan menuju Polynesia yang hanya mengandalakan angin laut dan ombak itu.

Tentunya kesulitan bukan di persiapan awal saja, selama perjalanan film yang disutradarai oleh Joachim Rønning dan Espen Sandberg ini juga berusaha untuk memperlihatkan keteguhan hati seorang Thor yang yakin bahwa semua hal di dunia ini ada penjelasannya. Sebagai seorang peneliti, tidak mudah bagi Thor untuk menghadapi rekan-rekannya yang sudah kehilangan semangat di tengah-tengah perjalanan, seperti Herman contohnya yang sangat paranoid akan rakit yang hanya diikat dengan tali biasa bukan kawat, ia beranggapan rakit tersebut tidak akan tahan terapung di lautan selama kurang lebih tiga bulan. Tapi karakter seperti Herman memang selalu ada bukan di setiap perjalanan dan petualangan seru? Karakter yang mempertanyakan keyakinan dan keteguhan hati si karakter utama, seperti di film Life of Pi, dimana Pi Patel harus punya keyakinan terhadap Richard Parker yang kerjaannya hanya mengaum saja, he-he.

Ya, secara tidak langsung film yang masuk nominasi Best Foreign Language Film of the Year di ajang Academy Awards tahun ini mengingatkan saya pada Life of Pi, karena ada unsur perjalanan mustahil di tengah lautan, jika Pi Patel bisa terombang ambing karena tidak sengaja, disini Thor malah sengaja memilih untuk terombang ambing di lautan hanya untuk membuktikan bahwa lautan yang luas itu bukanlah penghalang melainkan sebuah jalan menuju peradaban yang baru. Bahkan ada beberapa suasana indah di dalam laut yang bisa disaksikan di Kon-Tiki sama halnya seperti yang ada di Life of Pi, lalu ada kehadiran ikan paus dan juga ikan terbang, mirip bukan? Tapi bedanya, hiu-hiu di Kon-Tiki lebih beringas dan hampir menjadi senjata makan tuan bagi Thor dkk yang terapung di lautan tanpa peralatan canggih yang berarti.

Tapi satu hal yang bisa ditangkap dari film yang memang diangkat dari kisah nyata ini (bahkan film dokumenternya yang rilis tahun 1950 berhasil memenangkan Piala Oscar kala itu), Thor mengajarkan bahwa yang namanya kearifan lokal itu memang tidak boleh dilupakan dan harusnya menjadi pembelajaran bagi generasi penerusnya. Jika dulu nenek moyang orang Polynesia bisa mengarungi lautan hanya dengan rakit dan seutas tali, kenapa sekarang kita masih harus khawatir jika bepergian menggunakan kapal laut yang sudah modern? Ya, kadang kita lupa bahwa sesuatu yang terjadi ribuan tahun yang lalu juga merupakan proses dari pembelajaran yang mempunyai sifat kontinyu, kita hanya perlu menyempurnakan dan meyakini bahwa segala masalah itu sudah ada solusinya sedari dulu, jika memang sekarang masih bermasalah, pasti ada yang tidak beres dengan orangnya, bukan dengan caranya.

Well, walau tidak sebombastis Life of Pi, Kon-Tiki tetap menyuguhkan petualangan yang mempunyai semangat sama dengan Life of Pi. Ceritanya mengalir dengan mulus dari awal sampai akhir, apalagi adegan pembuka dan adegan penutup film ini yang menurut saya sangat mengispirasi, Thor yang masih bocah hingga Thor yang sudah dewasa akhirnya bisa menjawab rasa penasaran yang ada di ujung penglihatannya, entah itu sebongkah es yang terapung ataupun sebuah peradaban di lautan pasifik. So, enjoy this inspiring voyage!

Rating: 3.5/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s