Der ganz große Traum (2011/Germany)


History in the making

History in the making

Mari kita bergeser sedikit ke gelaran yang baru-baru ini saya datangi, yaitu German Cinema Film Festival. Ya, sesuai namanya ini adalah festival film Jerman yang belakangan ini digelar di sembilan kota di Indonesia oleh Goethe Indonesia, salah satunya di Bandung, dan saya berkesempatan menonton dua film yang menarik dari festival film yang baru diadakan dua kali ini. Film pertama yang akan saya bahas yaitu film drama edukasi tentang sepakbola di Jerman, film ini berjudul Der ganz grosse Traum/Lessons of a Dream. Film ini langsung menjadi film favorit saya karena kesederhanaan ceritanya yang begitu menginspirasi. Masih ingat dengan film Dead Poets Society yang dibintangi Robin Williams? Kurang lebih mempunyai konsep yang hampir sama, seorang guru dengan metode mengajar yang tidak konvensional hadir di sebuah sekolah dan mengubah cara pandang para muridnya, bedanya jika Robin Williams mengajak para muridnya untuk menikmati sastra klasik dengan cara yang lebih bebas, di film Der ganz grosse Traum, sang guru yang diperankan oleh aktor ternama Jerman, Daniel Brühl, mengajak para murid-muridnya untuk mempelajari bahasa Inggris lewat olahraga favorit negara tersebut, yaitu sepakbola.

Konrad Koch (Daniel Brühl) adalah guru baru di sekolah kecil di daerah Brunswick, Jerman. Ia baru pulang dari Inggris dan berharap bisa menjadi pelopor guru bahasa Inggris di sekolah yang sangat konservatif tersebut. Disebut konservatif karena sekolah yang ia ajari sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kejermanannya, selalu menolak mentah-mentah ajaran dari luar Jerman yang padahal belum tentu buruk, salah satunya Inggris. Apalagi kelas yang Konrad Koch tangani terdiri dari anak-anak yang berbeda kasta, dimana ada Hartung (Theo Trebs), anak yang sombong karena ayahnya adalah pemilik yayasan sekolahnya sendiri, kemudian ada Boornstedt (Adrian Moore), anak seorang buruh pabrik alias kaum proletar—tapi jago bermain sepakbola—yang pada jaman itu kesenjangan sosial sangat terasa sekali di Jerman, karena cerita film ini memang bersetting di tahun 1800-an.

Maka Konrad Koch mengambil langkah baru untuk mengajarkan kedisiplinan dan kebersamaan lewat pelajaran bahasa Inggrisnya yang sedikit berbelok menjadi pelajaran olahraga, yaitu sepakbola, sebuah olahraga yang tidak pernah di dengar oleh rakyat Jerman pada saat itu, sebuah olahraga baru yang pada saat itu sempat dibilang sebuah olahraga cuci otak yang menyesatkan. Tapi Konrad Koch tetap setia dengan cara ia mengajar murid-muridnya, karena lewat sepakbola, tidak ada kesenjangan sosial, si kaya dan si miskin bisa bermain berdampingan dan jangan lupakan nilai-nilai moralitas yang tersimpan di olahraga si kulit bundar ini, dimana fairplay adalah suatu pelajaran berharga yang bisa diaplikasikan ke semua aspek kehidupan. Ya, seize the day with fussball!

Sederhana, lucu dan inspiratif, film ini punya segalanya, sebuah film keluarga ringan yang menyisipkan banyak sekali pesan moral yang berharga. Jangan lupakan juga bahwa film ini menjadi sebuah pelajaran berharga untuk mengetahui asal usul sepakbola bisa masuk ke Jerman dari Inggris saat itu, karena film berdurasi dua jam ini memang berdasarkan kisah nyata. Akting Daniel Brühl mungkin satu-satunya yang paling mencolok disini, aktor yang sudah malang melintang di dunia perfilman Jerman, Eropa bahkan dunia (baca: Inglourious Basterds) selalu memberikan penampilan terbaiknya, walau belum selevel Robin Williams di Dead Poets Society yang kharismatik, sebagai pengajar muda yang revolusioner, tindak tanduk Konrad Koch benar-benar mewakili nilai-nilai rebelious yang positif tersebut.

Film ini akan membuat anda sadar bahwa banyak sekali nilai-nilai penting yang sebenarnya harus kita pelajari dari sepakbola, yang sayang sekali berbanding terbalik dengan sepakbola Indonesia saat ini, dimana ketika saya menonton film ini bertepatan dengan hari dimana pertandingan Persib dan Persija dibatalkan karena bus yang ditumpangi pemain Persib yang sedang menuju GBK di Jakarta sana hampir hancur lebur dilempari batu oleh para suporter Persija. So, jangan harap sepakbola Indonesia bisa maju jika belum ada kedewasaan dari dua belah pihak, tidak aneh sepakbola Jerman bisa selalu menjadi yang terbaik dari dulu, entah itu timnas maupun klubnya yang baru-baru ini merengkuh gelar Liga Champions Eropa, toh pelajaran paling dasar dari sepakbola, kedisiplinan, kebersamaan dan fairplay itu sendiri sudah tertanam jauh sebelum perang dunia terjadi, dimana Konrad Koch sudah susah payah mengajarkan bagaimana seharusnya olahraga ini dimainkan. Sometimes, we must accept defeat, right? Okelah, kalau ada waktu, dan anda memang penggemar sepakbola, anda wajib lho nonton film ini, he-he. Enjoy the fussball!

Rating: 5/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s