Olympus Has Fallen VS White House Down


Who win?

Who win?

Bulan Juli adalah bulan dimana rentetan film-film musim panas terus-terusan menghajar layar bioskop dan isi dompet saya. Jadi memang di bulan-bulan seperti ini harus ada trik tersendiri dari para moviegoers yang hobi sekali dengan yang namanya nonton, apalagi kalau uang saku yang kita punya masih limited. Tapi penjelasan saya itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan film yang mau saya bahas, White House Down (WHD). Tapi ada sih, saya menonton WHD di hari biasa ketika harga tiket masih tergolong murah dan ketika film ini sudah hampir seminggu nangkring di bioskop semenjak rilis tanggal 26 Juni di Indonesia. Banyak alasan kenapa saya menonton film ini tidak diburu-buru, salah satunya adalah WHD itu sama dengan Olympus Has Fallen (OHF) atau sebaliknya (dan juga masalah dompet sih). Jadi daripada saya menulis reviewnya, mending saya langsung memberi tahu anda head-to-head film garapan sutradara spesialis disaster movie dengan sutradara spesialis crime action ini. Banyak spoiler pastinya, lagipula spoiler apapula yang diharapkan dari film-film seperti ini. Tapi sebagai catatan, spoiler terbesarnya dari review saya kali ini adalah, saya lebih suka OHF. Mau tahu kenapa?

The title

Olympus Has Fallen sih katanya merupakan kode sandi kalau gedung putih beneran diserang, sedangkan di WHD, kalimat tersebut tidak pernah diucapkan sama sekali, yang saya dengar malahan ketika gedung putih disergap gila-gilaan, kode sandi yang dipakai adalah “castle has fallen”. Tapi karena disini membicarakan judul, dua film ini mempunyai judul yang representatif kok, tapi kembali lagi, Olympus Has Fallen itu lebih puitis (apasih?!).

The man in the wrong place and the wrong time

Ada Gerard Butler di OHF dan Channing Tatum di WHD, oke jujur saja, saya lebih memilih Gerard Butler yang memang sudah terlihat setelan action heronya semenjak menjadi Leonidas di 300. Sedangkan Channing Tatum juga tidak sepenuhnya buruk, hanya saja saya masih belum terbiasa melihat doski bermain di film action to the point seperti ini. Untuk setelan badannya yang berotot dan mulus okelah, tapi itu dia, belum terlihat setelan action heronya, aktor yang sukses membuat para wanita kejang-kejang di Magic Mike ini tetap masih oke kalau main di ranah drama dan komedi. Contoh paling sederhana, 21 Jump Street, penampilan Channing Tatum pas banget disitu. So? No contest here, Leonidas win again.

The president

Ini pilihan yang susah, walau Jamie Foxx di WHD menggambarkan karakter presiden paling ‘edan’ yang pernah saya lihat di film Roland Emmerich setelah Independence Day, saya pikir justru itulah yang menjadi pedang bermata dua bagi WHD. Anda bisa saja benci dengan perilaku Jamie Foxx sebagai Presiden Sawyer yang ‘gangsta’ sekali gayanya, tapi di sisi lain justru disitulah unsur komedi halus film ini. Sedangkan Aaron Eckhart menampilkan perannya sebagai Presiden Asher pada umumnya, tegas dan berwibawa, hampir mirip Harvey Dent malahan, he-he. Pilihan sulit disini, tapi saya suka penampilan nyeleneh Jamie Foxx di WHD dan juga Aaron Eckhart di OHF. Seri!

The villain

Sementara OHF masih percaya dengan formula teroris itu adalah orang non-Amerika, WHD kembali memakai formula ‘enemy of the state’, dimana musuh terbesar orang Amerika itu adalah orang Amerika-nya sendiri. Saya suka konsep klasik penjahat di WHD, tapi jika bicara tingkat keseriusan dalam menjadi seorang penjahat, saya lebih memilih Kang (Rick Yune) si tukang jagal dari Korea Utara yang tidak ba-bi-bu dalam bernegoisasi dengan Amerika daripada Walker (James Woods) yang masih menyimpan dendam personalnya ketika menyerang gedung putih.

The motive

Tapi sehebat apapun penjahatnya, jika tidak di dukung dengan motif yang berpondasi kuat, rencananya bakal terlihat basi. OHF dan WHD masing-masing mempunyai penjahat yang memiliki motif yang masih lumayan oke. Kang merupakan teroris separatis yang murni menginginkan kemerdekaan Korea Utara dari campur tangan negara apapun. Sementara Walker adalah ‘enemy of the state’ yang sakit hati dengan tindakan presiden yang menewaskan putranya dalam misi rahasia, tapi masalahnya motif Walker lama-lama menjadi bias karena pada akhirnya tetap ada kepentingan pihak lain yang (lagi-lagi) menjadi ‘enemy of the state’ sebenarnya. Dua film ini memberikan kejutannya masing-masing. Okelah!

The supporting cast

Maka setelah para jagoan dan presiden sudah ada di posisinya masing-masing, apakah kontribusi para supporting cast membantu dua film penyerangan tergila ke gedung putih tahun ini menjadi makin menarik? Dari segi supporting cast, dua film ini mempunyai andalannya masing-masing, OHF selain memiliki ‘Leonidas’ (Gerard Butler) dan ‘Two Face’ (Aaron Eckhart) serta ‘Lucius Fox’ (Morgan Freeman) secara bersamaan, masih ada Dylan McDermott dan Rick Yune serta Melissa Leo yang pernah memukau di The Fighter. Sementara WHD tidak kalah dibantu aktor-aktor senior, sebut saja Richard Jenkins yang menjadi jubir presiden, dan juga James Woods yang menjadi ‘ayah yang sakit hati’. Tapi dari segi villain, OHF hanya mengandalkan karisma Rick Yune seorang, sedangkan WHD seperti film-film action tahun 90-an pada umumnya menyimpan banyak supporting cast villain yang sebenarnya tidak begitu penting tapi keberadaan mereka jadi menambah unsur asyik film ini. Dari mulai sang leader, Stenz (Jason Clarke), tangan kanan yang suicidal, Killick (Kevin Rankin) sampai hacker jenius tapi konyol, Tyler (Jimmi Simpson) semua menjadi pelengkap tim teroris gabungan Walker. Tapi jika OHF kebagian ‘Two Face’ dan ‘Lucius Fox’, WHD hanya kebagian ‘Rachel’ saja dari The Dark Knight, yang sayang sekali hanya sebatas itu saja.

The flow

Maka masuklah saya ke penilaian paling krusial, dimana plot dua film ini kurang lebih sama, maka harus ada sesuatu untuk membuat dua film ini terlihat berbeda, yaitu eksekusinya. Dalam hal ini saya masih menyukai eksekusi yang dilakukan oleh Antoine Fuqua yang lebih ‘to the point’ dalam membuat cerita penyerangan gedung putih ini tidak turun tensinya, bahkan gimmick karakter bocah yang lucunya ada di dua film ini—dimana jika dalam OHF bocah tersebut merupakan anak presiden, sedangakan dalam WHD bocah tersebut anak sang jagoan—tidak dibuat menjadi gimmick yang terlalu menyita waktu untuk sang jagoan bersenang-senang membabi buta beraksi di dalam gedung putih. Ya, soal tensi film, OHF tidak menurunkan sedikit pun tingkat ketegangan dan keasyikan ceritanya, bahkan karena bisa dibilang memiliki template Die Hard pertama, tingkat keseruannya pun tidak kalah dari film legendaris Bruce Willis tersebut. Sayangnya, WHD membangun ceritanya dengan begitu lama, makin banyak karakter makin banyak pula back story yang sebenarnya bisa di skip dan langsung menuju inti permasalahan, tapi entah kenapa sepertinya setengah jam pertama film besutan sutradara berambut putih itu nampaknya senang sekali memegang teguh tagline filmnya, “it started like any other day”, but unfortunately, it started like any other boring day! Bahkan teman saya hampir tertidur pulas di pertengahan film ini. Well, Roland Emmerich harusnya belajar banyak, jika sudah membuat film dengan judul se-provokatif sampai ada unsur ‘penghancuran’, kenapa tidak langsung saja manjakan kita dengan treatment-treatment khasnya, cut the crap, just show me the big bang!

The violence

Tapi satu hal terakhir yang menarik adalah tingkat kekerasan di WHD masih terbilang cemen jika dibandingkan OHF yang banyak sekali memainkan warna ‘merah’ di tiap adegan brutalnya. Sayangnya jika bicara spesial efek, harus diakui WHD memang lebih unggul, bahkan saya pun sempat berpikir kenapa OHF mengambil setting malam hari untuk adegan-adegan aksinya, sederhana saja, untuk memotong bujet bukan? Sementara WHD terang-terangan show off di teriknya siang, dari mulai kehadiran black hawk down sampai adegan kejar-kejaran mobil kepresidenan di halaman gedung putih. Tapi tetap, OHF tidak kenal ampun, dari mulai personil gedung putih sampai warga sipil menjadi sasaran empuk, beda dengan WHD yang lebih terorganisir dan tidak terlalu membabi buta. Tapi masalahnya saya suka yang brutal, so you know what my choice is.

Conclusion

Seperti yang saya bilang di awal, saya masih tetap menyukai OHF karena segi blak-blakannya, to the point dan blood bath serta gun fight-nya yang lumayan klasik serta beberapa scene yang nampak seperti scene tribute ke film Die Hard itu sendiri. Tapi bukan berarti WHD jelek, film ini tetap menjadi film blockbuster yang lumayan seru, kalau bisa dibilang seperti mengembalikan trend film action Amerika tahun 90-an dimana segi heroik dan segi humornya berimbang, dan juga supporting cast yang cukup beraneka ragam dan mempunyai ciri khasnya masing-masing. Tapi entah kenapa, saya lebih menyukai versi lebih serius dari Antoine Fuqua daripada Roland Emmerich soal penyerangan gedung putih ini. So, tentukan sendiri pilihan anda, tapi jika anda sudah menonton OHF duluan, saya jamin anda akan sulit menilai apakah WHD lebih seru dari pendahulunya itu? Ha-ha. Ya udah sih, enjoy aja okay! Happy watching!

2 thoughts on “Olympus Has Fallen VS White House Down

  1. Pingback: Bersiaplah Untuk Sequel Independence Day | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s