The Wolverine (2013/US)


The blonde is so damn hot!

The blonde is so damn hot!

It’s time for the Wolverine! Setelah sekian lama dan sekian banyak kekecewaan para penonton pada film X-Men Origins: Wolverine yang ternyata hanya begitu saja, kali ini Hugh Jackman kembali lagi dengan The Wolverine, seri selanjutnya dari karakter X-Men setelah X-Men: First Class yang memuaskan itu. Lalu apakah The Wolverine akan menjadi film yang memuaskan juga? Jawabannya tergantung, apalagi setelah timeline di X-Men universe ini agak kacau balau, belum lagi persiapan X-Men: Days of Future Past yang akan rilis tahun depan dan sudah gembar gembor pemberitaanya dari sekarang makin saja membuat saya tidak sabar menantikan film X-Men baru yang katanya akan membawa semua karakter lama di trilogi X-Men dan juga First Class. Tapi bicara tentang Days of Future Past, kalau anda belum menonton The Wolverine ini, jangan sampai beranjak dari kursi bioskop setelah closing credit, karena akan ada scene tambahan yang menjadi referensi untuk film come backnya Bryan Singer menjadi sutradara film X-Men: Days of Future Past, camkan itu!

Lalu apa yang terjadi dengan Wolverine saat ini? Setelah kematian Jean Grey (Famke Janssen) di X-Men: The Last Stand yang kurang klimaks itu, Wolverine (Hugh Jackman) menjadi seorang pengembara yang sepertinya kehilangan jati diri, hingga suatu saat, ia bertemu dengan seorang wanita oriental seksi bernama Yukio (Rila Fukushima). Wolverine dijemput Yukio untuk menemui atasannya, Yashida (Hal Yamanouchi), seorang milyuner Jepang yang hidupnya pernah diselamatkan Wolverine ketika masa perang dunia dulu. Keinginan Yashida untuk bertemu Wolverine ternyata bukan untuk mengucapkan terima kasih saja, tapi ada keinginan tersembunyi, yaitu agar Wolverine melindungi cucunya, Mariko (Tao Okamoto) yang katanya sedang diincar Yakuza. Tapi ada sesuatu yang tidak beres di keluarga Yashida, terlebih lagi ketika kemampuan Wolverine untuk regenerasi hilang karena diserang tiba-tiba oleh seorang mutant lain bernama Viper (Svetlana Khodchenkova). Maka inilah pertama kali Wolverine harus bisa bertempur tanpa mengandalkan kemampuan regenerasinya.

Dari soal kualitas, The Wolverine tentu saja jauh lebih baik dari pendahulunya yang cacat itu (masih ingat bukan ketika bajakan X-Men Origins: Wolverine keluar jauh-jauh sebelum film aslinya rilis, dengan spesial efek yang masih belum rampung pula) malahan, James Mangold selaku sutradara franchise yang satu ini nampak ingin mengangkat tema humanisme, dimana Wolverine dibuat tak berdaya tanpa kemampuan regenerasinya dan lebih menekankan unsur drama dan hubungan psikologis Wolverine sebagai mutant yang galau di film ini. Dan tentunya kultur budaya Jepang yang 90% menjadi latar belakang cerita Wolverine berada, dari mulai Yakuza, tradisi samurai hingga para ninja dan ditutup dengan final bos yang bernama The Silver Samurai di penghujung film ini, musuh Wolverine yang seperti setengah robot dan mempunyai armor yang sama-sama terbuat dari adamantium.

Tapi kalau boleh jujur, film berbujet 100 juta dollar ini bagi saya terlalu lama dan terlalu banyak memainkan unsur drama yang dialami Wolverine. Tensi actionnya hanya menarik di awal-awal dan penghujung film, sementara ditengah-tengahnya terlalu banyak tetek bengek soal kehidupan dan keluarga yang dialami oleh Wolverine serta Mariko yang menjadi karakter kunci di film ini. Belum lagi ‘penampakan’ Jean Grey yang menurut saya terlalu berlebihan, tapi semua itu agak terobati ketika Wolverine mulai beraksi dengan para samurai, ninja, Yakuza atau apapun itu. Sayang, ‘sindrom’ Iron Man 2 terulang lagi di film ini, pertarungan final Wolverine dengan The Silver Samurai tidak berjalan seepik yang saya bayangkan, coba saja jika lebih panjang, saya pikir bakal lebih memuaskan.

So, The Wolverine memang bukan yang terbaik di jajaran film musim panas tahun ini, tapi kualitasnya jauh meningkat dari pendahulunya, dari semua kekurangannya, saya tetap bisa menonton film ini sampai habis dengan tenang dan tak teralihkan sama sekali. Apalagi ketika scene tambahan setelah closing credit muncul, jadi makin tidak sabar menantikan X-Men: Days of Future Past, semoga saja Bryan Singer tidak mengacaukan film tentang para mutant-mutant jagoan ini. Hanya satu yang membuat saya salut dengan The Wolverine, yaitu persona Hugh Jackman yang nampaknya susah untuk dihilangkan dari karakter Wolverine, sama halnya seperti Robert Downey Jr. yang menjadi Iron Man. Apalagi perawakan aktor asal negeri kangguru itu makin ‘tidak nyante’ di film ini, otot-ototnya makin menjadi-jadi dan makin menyerupai Wolverine betulan kalau memang eksis, he-he. So, The Wolverine is a decent summer movie, let’s wait for his next appearance in X-Men: Days of Future Past next year, meanwhile, just enjoy this flick.

Rating: 3/5

2 thoughts on “The Wolverine (2013/US)

    • Ya itu dia, relatif sih serunya, tapi yg jelas Wolverine yang ini lebih bagus daripada yang pertama, cuma gak begitu “wah” aja😉

      Btw thanks udah mampir nih😀

      Like

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s