Prince Avalanche (2013/US)


This is 'Into the Wild' with Paul Rudd in it

This is ‘Into the Wild’ with Paul Rudd in it

Saya baru menonton tiga film David Gordon Green sebelum Prince Avalanche ini, yaitu Pineapple Express, Your Highness dan The Sitter. Dan mungkin anda sudah bisa menebak tiga film sebelumnya ini merupakan sebuah film komedi brutal ala James Franco, Jonah Hill dan kawan-kawan komedian lainnya yang tergabung di film This is the End yang entah kapan rilis di Indonesia. Singkat kata, saya tidak pernah menduga David Gordon Green bisa membuat sebuah film drama bromance coming of age yang bernuansa sangat indie sekali.

Dengan setting satu tahun setelah kebakaran hutan besar di daerah Texas pada tahun 1987, ada dua pekerja jalan raya yang sedang bertugas mengecat garis jalan di jalanan bekas kebakaran hutan tersebut, ada Lance (Emile Hirsch) dan Alvin (Paul Rudd), dua manusia yang mempunyai sikap yang bertolak belakang, dimana Alvin merupakan pria yang senang menikmati kesendirian di alam liar untuk berkontemplasi, sedangkan Lance adalah darah muda yang masih menginginkan hal-hal menyenangkan dalam hidupnya.

Konflik film yang diadaptasi dari film minimalis Islandia ini mulai muncul ketika hubungan jarak jauh Alvin dengan pacarnya—yang juga kakak perempuan Lance—mulai tidak harmonis. Maka yang terjadi adalah pertikaian dan perdebatan soal jati diri yang secara tidak langsung mempengaruhi Lance, bahkan tidak sedikit diantara percekcokan mereka diakhiri dengan adegan kejar-kejaran yang terbilang konyol dan membuat saya mulai tersenyum lebar.

Uniknya adalah dua karakter lain diluar karakter Lance dan Alvin, yaitu seorang kakek pengendara truk besar dan seorang nenek tua yang rumahnya habis dilahap api gara-gara kebakaran hutan besar tersebut. Entah kenapa dua karakter ini seperti ‘penengah’ dimana setiap kali Lance dan Alvin menemui masalah, selalu hadir kakek tua dan kadang nenek tua tersebut. Bahkan kehadiran nenek tua di film ini menjadi perdebatan tersendiri di beberapa forum, karena menurut saya ada sebuah pesan yang tersirat dari kehadiran nenek tua yang misterius tersebut.

Dan kalau boleh saya bilang, seperti layaknya film-film indie minimalis seperti ini, ada sebuah pesan moral universal yang dialami oleh karakternya, dalam hal ini yaitu tentu saja Alvin yang harus intropeksi dan move on setelah kejadian buruk yang menyebabkan hubungan percintaanya retak. Menegaskan bahwa alam liar dan kesendirian bisa menjadi obat sekaligus racun jika tidak disikapi dengan bijak, dan sendiri bukan berarti kesepian (remember that!). Semua kejadian yang dialami Alvin di jalan raya yang harus ia cat ulang garis jalannya ini adalah sebuah petualangan mencari jati diri yang paling sederhana, dibantu oleh Lance yang secara tidak langsung memberi pelajaran tersendiri untuk Alvin.

So, siapakah nenek tua tersebut? Apakah yang ingin disampaikannya sebenarnya? Apakah cinta itu tidak akan pernah padam seperti api yang akhirnya bisa padam juga walau telah memakan banyak korban? Apakah untuk bisa bertahan dan melanjutkan hidup kita harus tetap percaya dengan yang namanya cinta dan kasih sayang? Anda harus interpretasikan sendiri jawabannya ketika menonton film ini, karena bagi saya pribadi, dunia belum berakhir walau cinta kita sudah kandas, he-he.

Film ini tidak akan lebih ‘hidup’ jikalau bukan Paul Rudd dan Emile Hirsch yang menjadi dua karakter utama di film yang saya pikir syutingnya juga tidak akan sampai berminggu-minggu ini. Kehadiran Paul Rudd selalu saya tunggu di setiap film-filmnya, apalagi Emile Hirsch yang mulai tenggelam setelah penampilan primanya di Into the Wild, tentu saja kehadiran aktor yang masih berusia 28 tahun dan mirip Jack Black ini menjadi kepuasan tersendiri bagi saya yang sudah lama menantikan film ini gara-gara menonton trailernya yang lumayan menghipnotis. Belum lagi scoring film ini yang diisi oleh band post rock asal Texas juga, Explosions in the Sky yang berkolaborasi dengan David Wingo, berhasil menyuguhkan ambience-ambience yang beda dari yang biasa mereka ciptakan, kadang menghantui, kadang menegangkan dan tentu saja ditutup dengan scoring yang memberikan pencerahan di closing creditnya. Memang musik-musik post rock itu paduan sempurna untuk film minimalis bersetting alam liar seperti ini.

Well, Prince Avalanche termasuk film yang cukup menyegarkan yang datang dari sineas David Gordon Green, sedikit membuat pikiran saya damai dan kadang tertawa melihat tingkah laku yang sebenarnya biasa terjadi di dalam kehidupan sehari-hari tapi dibawakan dengan ‘awkward’ di film berdurasi kurang lebih 90 menit ini. Ya, kadang dalam kehidupan hingar bingar ini kita harus berdamai sejenak, seperti yang Lance dan Alvin katakan, can’t we just listen to the silence?

Rating: 3/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s