Cinta/Mati (2013/Indonesia)


Looks good at first, but what the fuck with the ending?!

Looks good at first, but what the fuck with the ending?!

Satu lagi film lokal yang mempunyai konsep bagus tapi entah kenapa sayang sekali kurang dimaksimalkan dalam pengerjaanya. Film yang saya maksud adalah film Cinta/Mati, film terbaru yang disutradarai oleh Ody C. Harahap ini dibintangi oleh aktor tampan favorit semua wanita, Vino G. Bastian dan artis cantik, Astrid Tiar. Mempunyai konsep film ‘one-night’ drama, Cinta/Mati sudah mencuri perhatian saya sejak menit-menit awal karena mempunyai konsep yang hampir serupa dengan film drama romantis legendaris, Before Sunrise. Tapi sayang sekali, tidak sepenuhnya film ini mencuri perhatian saya karena ternyata masih ada saja ‘penyakit’ film Indonesia yang menodai kekonsistensian film yang berdurasi kurang lebih 90 menit ini.

Ceritanya Acid (Astrid Tiar) sedang mengalami yang namanya patah hati total, setelah melihat calon tunangannya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri, Acid memutuskan untuk bunuh diri saja. Tapi entah kenapa percobaan bunuh diri Acid malah gagal dan tanpa disengaja, percobaan bunuh diri Acid digagalkan oleh Jaya (Vino G. Bastian), seorang pria yang kebetulan sedang melewati lokasi dimana Acid ingin bunuh diri. Pertemuan mereka nampaknya malah menimbulkan masalah baru, dimana Acid memaksa Jaya untuk membantunya menemukan ide bunuh diri yang bagus. Tapi setelah beberapa percobaan bunuh diri yang gagal di malam itu, Acid baru tahu bahwa Jaya juga sebenarnya berencana untuk bunuh diri, hanya saja alasan Jaya untuk bunuh diri lebih mengejutkan daripada yang dialami Acid.

Bicara soal Before Sunrise memang terlalu kejauhan kalau ingin dibandingkan dengan film ini, tapi semangatnya untuk membuat sebuah film minimalis yang bahkan sponsor utamanya pun adalah salah satu lembaga pendidikan swasta di Indonesia ini patut saya acungi jempol. Mengambil setting sebagian besar di malam hari, saya jadi teringat juga dengan film Lovely Man yang melambungkan nama Donny Damara di Asian Film Awards itu, dengan setting tempat sebagian besar adalah Jakarta di malam hari, Cinta/Mati akan membawa penonton untuk menjelajahi beberapa sudut muram Jakarta dengan problematika sejuta umat, yaitu patah hati.

Nuansa romansa pun tidak begitu diekspos di paruh awal film ini, itu yang saya suka, karena Acid dan Jaya sepanjang malam berusaha untuk menemukan cara bunuh diri yang ampuh, lengkap dengan adu mulut mempertanyakan apakah bunuh diri dengan cara-cara itu akan berhasil atau tidak. Percakapan mereka tidak sedikit yang mengundang tawa dan kalau boleh dibilang banyak mencairkan suasana depresif dan cengeng ala sinetron-sinetron Indonesia pada umumnya.

Pun begitu, film yang katanya rilisnya tertunda sampai dua tahun ini menyisakan bagian paling menyebalkan di paruh akhir. Sebagai orang yang hobi nonton tentu saja akan mengacungi dua bahkan empat jempol sekaligus jika sutradara Punk in Love itu bisa mengakhiri cerita film ini dengan baik. Hal tersebut sama sekali jauh dari harapan ketika konklusi problematika Acid dan Jaya diakhiri dengan sangat janggal dan terkesan ‘dipanjang-panjangin’ hanya untuk memenuhi durasi waktu film pada umumnya. Apalagi ketika adegan dimana Jaya harus mengetes kejantanannya dengan seorang PSK yang sama sekali menurut saya tidak begitu penting untuk dimasukan ke dalam rangkaian cerita.

Karena pada akhirnya saya sudah tahu kenapa Jaya jadi ingin bunuh diri juga, toh penonton tidak usah disuapi lagi proses Jaya untuk recover dari permasalahannya yang sebenarnya sudah cukup lucu kalau disinggung sekali saja, ini malah terus dijelaskan sampai pada klimaksnya yang pasti saya jamin semua tahu bagaimana nasib hubungan Acid dan Jaya di akhir film ini. Lalu setelah beberapa menit yang tidak begitu penting menuju akhir, ending film ini ditutup dengan stereotip sinetron-sinetron yang banyak menggunakan adegan flashback, seperti seolah-olah ingin mengingatkan lagi takutnya penonton itu lupa bahwa percobaan bunuh diri semalaman yang dilakukan Acid dan Jaya tidak menimbulkan percikan cinta sama sekali, you don’t say!

Sayang sekali dan sangat disayangkan, dramatisir itu perlu tapi tidak harus berlebihan juga, menurut saya inilah titik lemah dari Cinta/Mati yang sebenarnya bisa berpotensi menjadi sebuah tontonan drama romantis unik yang beda dari film Indonesia lain. Masih belum ada keberanian untuk keluar dari pakem ‘menye-menye’ ala sinetron yang sudah terlalu sering dieksploitasi.

Walau begitu saya tetap salut pada tim kecil yang digawangi oleh Ody C. Harahap dalam merealisasikan film ini, tetap semangat dan tetap memaksimalkan apa saja yang ada, bahkan sang sutradara sampai jadi figuran di filmnya sendiri. Soal teknis bagi saya pribadi sudah lebih dari cukup, tapi ya kembali lagi ke permasalahan utama tadi, jika saja paruh akhir film ini tidak seperti itu, saya pasti salut. Well, tidak ada salahnya untuk mencoba menonton film ini, lagipula tandem Vino dan Astrid lumayan klop di Cinta/Mati. Tonton saja untuk buktikan sendiri, siapa tahu anda berpendapat beda dengan saya, he-he. Enjoy!

Rating: 2.75/5

2 thoughts on “Cinta/Mati (2013/Indonesia)

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s