Mud (2013/US)


Probably my best drama of this year, so far...

Probably my best drama of this year, so far…

Sudah tidak bisa dipungkiri, Mud merupakan film drama bernuansa indie favorit saya di tahun ini. Sebuah film drama yang sebenarnya mempunyai gambaran besarnya ‘cinta’ tapi ternyata lebih kompleks dari cinta itu sendiri. Dibawah komando Jeff Nichols yang pernah membuat Take Shelter menjadi sebuah film minimalis yang mengejutkan tahun 2011 lalu, Mud tetap menjadi sebuah tontonan yang menyihir dan mengajarkan banyak pesan moral, khususnya yang berkaitan dengan yang namanya cinta, sesuatu yang kadang kala indah tapi ternyata rumit untuk dipahami.

Film ini bersettingkan kota kecil di pinggiran sungai daerah Arkansas, Amerika. Menceritakan tentang dua bocah kampung yang gemar bertualang, bernama Ellis (Tye Sheridan) dan Neckbone (Jacob Lofland). Kebetulan mereka baru menemukan tempat baru untuk dijelajahi, yaitu sebuah pulau kecil yang menurut paman Neckbone, Galen (Michael Shannon), ada sebuah perahu boat terbengkalai yang terdampar di pulau tersebut. Setibanya di pulai itu, Ellis dan Neckbone malah bertemu dengan seorang pria yang terlihat sedang bersembunyi dari kejaran orang-orang, namanya Mud (Matthew McConaughey), dan ia sedang menunggu kekasihnya, Juniper (Reese Witherspoon) di pulau tersebut. Tak disangka, Mud adalah seorang buronan yang sedang dicari polisi karena ia membunuh seorang pria yang menyakiti Juniper. Mendengar kisah cintanya yang tulus, Ellis dan Neckbone tergerak untuk membantu Mud kabur dan bertemu dengan Juniper secepatnya.

Mud mempunyai daya tarik tersendiri, pertama adalah kehadiran Matthew McConaughey yang makin kesini makin menunjukan kapasitasnya sebagai aktor Hollywood yang berkualitas dan tidak hanya menjual fisik semata saja, kedua adalah cerita cintanya yang sebenarnya bukan hanya dialami oleh Mud sendiri, tapi juga oleh karakter-karakter lainnya yang mempunyai problematika cinta yang sifatnya lebih luas, dan terakhir adalah film ini tidak berbicara soal cinta semata tapi pengorbanan yang harus ditempuh untuk menunjukan sejauh apa cinta sejati itu ada. Ketiga hal tersebut sukses direpresentasikan oleh para karakter yang ada di film berdurasi dua jam lebih ini, dari mulai Mud sendiri, sampai Ellis dan Neckbone serta orang-orang terdekat yang ada di sekitar mereka.

Film dimulai dengan alur yang lambat diawal dan juga dengan dialog yang minim, tapi jangan lewatkan Ellis dan Neckbone yang menjadi dua karakter vital selain Mud di film ini. Berlaga sebagai bocah 14 tahun yang gemar bertualang,  penampilan mereka yang membuat film yang katanya menjadi film paling besar yang diproduksi di Arkansas ini makin menarik untuk ditonton. Karena kita sebagai penonton akan diajak melihat makna cinta dari sudut pandang seorang bocah yang bertemu dengan beragam orang yang ternyata mempunyai satu masalah sama, yaitu cinta.

Dimulai dari hubungan kedua orang tuanya yang mulai tidak akur, hubungan sahabatnya sendiri yang walau hidup hanya dengan pamannya tapi tetap bisa bahagia, kemudian ‘cinta monyet’ Ellis kepada gadis yang baru ditemuinya sampai hubungan cinta yang sudah ke taraf ekstrim seperti yang dialami oleh Mud dan Juniper yang bisa menghilangkan nyawa seseorang gara-gara yang namanya cinta. Lalu, apakah makna cinta yang paling benar? Jawabannya bisa apa saja, tapi satu hal yang bisa disimpulkan, jangan pernah menyerah kepada orang yang rela berkorban apapun demi cinta.

Selain jajaran aktor-aktor pendukung yang mumpuni, Mud di dukung juga dengan sinematografi lanskap pinggiran sungai yang indah, diam-diam menghanyutkan dan menjadi sebagian besar pemandangan yang akan kita saksikan selama film ini berjalan. Walau tanpa aktor langganan sang sineas, Michael Shannon tetap menyempatkan ambil bagian kecil di Mud, padahal asalnya karakter Mud itu sudah siap diberikan untuk Michael Shannon, mengingat kerja sama apik Jeff Nichols dan si pemeran General Zod itu di Take Shelter, tapi ternyata si pemeran Lincoln Lawyer yang dipilih dan tetap menampilkan kekuatan akting terbaiknya. Berparas gondrong tak terawat dengan setelan lusuh dan gigi yang retak serta gaya bahasanya yang sangat koboi sekali, hampir membuat saya jatuh hati sepenuhnya pada karakter Mud ini.

So, tidak salah kalau Mud menjadi film drama indie favorit saya tahun ini, mempunyai efek yang lebih ‘ngena’ dan lebih menyentuh dari Take Shelter, Jeff Nichols sudah mengerjakan PR-nya dengan baik bagaimana menyajikan sebuah film drama minimalis dengan tema universal yang dilihat dari sisi berbeda dan situasi berbeda serta karakter yang tidak terduga juga. Tunggu apalagi? Mud merupakan film wajib bagi anda yang ingin tahu bahwa yang namanya pengorbanan itu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Well, Mud, honestly is a heartfelt drama movie that will fill your empty heart. Must a SEE movie of this year.

Rating: 5/5

One thought on “Mud (2013/US)

  1. Pingback: My 12 Favorite Movies of 2013 (And Not So Favorite Too) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s