Sideways (2004/US)


When Rhino and Sandman drink together...

When Rhino and Sandman drink together…

Sebelum anda familiar dengan Alexander Payne gara-gara film The Descendants-nya yang dibintangi oleh George Clooney, ada baiknya saya mengajak anda untuk sedikit bernostalgia dengan salah satu film ‘klasik’-nya yang rilis tahun 2004, berjudul Sideways dan dibintangi oleh salah satu aktor favorit saya, Paul Giamatti dan Thomas Haden Church. Sideways merupakan sebuah film drama ‘coming-of-age’ dengan sedikit sentuhan road trip yang lumayan menyindir siapapun yang pernah merasakan berada di titik terendah dalam hidup.

Miles (Paul Giamatti) adalah seorang guru bahasa Inggris yang berstatus duda, mulai bangkit dari kegundahan dengan cara menulis novel yang selalu ditolak oleh penerbit tapi di waktu yang sama tidak pernah bisa move on dari masa lalunya, hanya satu kehebatan Miles, yaitu ia pakar sekali mengenali beragam jenis wine mahal dan berkualitas di dunia. Sedangkan Jack (Thomas Haden Church) merupakan seorang aktor televisi masa lalu yang masih merasa eksis. Miles berencana untuk mengajak Jack wisata wine di daerah produsen wine terbaik Amerika di sekitaran California dalam rangka kado pernikahan Jack yang akan dilaksanakan dalam waktu seminggu lagi. Piknik selama seminggu bersama Jack membuat beberapa perubahan dalam hidup Miles yang terbilang menyedihkan, apalagi ketika ia bertemu dengan Maya (Virginia Madsen), seorang pelayan restoran tempat dimana Miles sering menulis dan menikmati berbagai macam wine berkualitas. Is it the right time to move on?

Kekuatan film ini jelas terletak di dua aktor utamanya yang luar biasa brillian dalam memerankan karakternya masing-masing. Paul Giamatti seperti biasa merupakan aktor jenius yang selalu tampil meyakinkan dalam melakoni peran-perannya, seperti karakter Miles yang dapat dikatakan jenius dalam hal wine tapi bodoh ketika berhadapan dengan wanita. Sementara Thomas Haden Church berhasil memerankan kebalikan dari karakter Miles, tetap percaya diri akan kekuatan bintangnya walau sudah lama pudar, tapi dibalik sikap over-self-confident-nya, Jack ternyata lebih ‘menyedihkan’ dari Miles yang kikuk itu.

Oleh karena itu tidak sedikit kelucuan yang terjadi gara-gara selama perjalanan yang seharusnya memberikan wawasan baru soal wine kepada Jack malah berubah menjadi perjalanan membuktikan kejantanan mereka masih ada. Jack percaya bahwa Miles harus bisa move on dari mantan istrinya dengan cara bercinta dengan Maya. Padahal Jack sendiri mempunyai niatan untuk bisa bercinta dengan teman baik Maya, Stephanie (Sandra Oh) sebelum masa lajangnya berakhir di akhir pekan. Ya, pertemuan dua pria setengah baya yang mengkhawatirkan ini dengan dua wanita cantik dewasa di daerah produsen wine terbaik di Amerika mengubah segalanya. Dan mungkin anda sudah bisa menduga siapa yang bakal mendapat ending manis dari semua peristiwa tolol yang mereka alami selama seminggu tersebut.

Pun begitu, dengan segala kesederhanaanya, Alexander Payne berhasil membungkus Sideways menjadi sebuah film berdurasi dua jam yang tidak membosankan untuk ditonton. Sebenarnya masalah yang diangkat itu sepele, tapi disitulah kehebatan dari Sideways, mengkombinasikan cita rasa wine yang berkualitas dan sebuah petualangan selangkangan yang dialami Jack menjadi sebuah sajian yang kadang lucu dan juga kadang menohok. Bahkan mungkin ada beberapa filosofi dalam hal meminum wine yang bisa saya ambil maknanya. Seperti yang dikatakan Maya ketika sedang ngobrol dengan Miles;

“I like how wine continues to evolve, like if I opened a bottle of wine today it would taste different than if I’d opened it on any other day, because a bottle of wine is actually alive.” Dan juga, “You know, the day you open a ’61 Cheval Blanc… that’s the special occasion.”

Ya, sama seperti hidup, jangan menunggu untuk satu momen spesial, jadikan semua momen spesial dalam hidup. Dalam hal ini, Miles terlalu takut untuk bisa menyatakan perasaannya pada Maya karena masih dihantui masa lalunya, so you know, makin lama Miles mengungkapkan perasaanya, akibatnya pun akan berbeda, sampai akhirnya semua omong kosong Jack diketahui Stephanie, maka hancurlah semua momen yang ditunggu tersebut.

Kacau sekaligus kocak, kegilaan Jack dalam melihat hidup benar-benar menjadi sebuah obat tawa di sepanjang film ini, tapi tanpa meninggalkan pesan yang ingin disampaikan oleh sang sineas, mungkin saat itu anda kehilangan momen spesial, tapi jangan berhenti berharap bahwa momen spesial itu tetap masih ada di ujung sana.

Sebuah ‘terapi’ menarik dari seorang Alexander Payne, diganjar piala Oscar di tahun 2005 untuk kategori Best Writing pun sudah lebih dari cukup. Padahal saya pikir Thomas Haden Church akan memenangkan kategori Best Performance by an Actor in Supporting Role gara-gara peran gilanya yang nyentrik dan meyakinkan. But overall, Sideways tetap menjadi salah satu film terbaik Alexander Payne yang tidak boleh anda lewatkan, sebuah film yang akan mengajari anda bahwa hidup itu lebih dari sekedar mencicipi wine yang berkualitas saja, he-he. Enjoy!

Rating: 3.5/5

2 thoughts on “Sideways (2004/US)

  1. Pingback: Nebraska (2013/US) | zerosumo

  2. Pingback: Kamu Cocok Nonton Sideways (2004) Kalau Kamu… | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s