Do the Right Thing (1989/US)


This is a story about love, hate and the ignorant of Radio Raheem y'all!

This is a story about love, hate and the ignorant of Radio Raheem y’all!

Sebelum anda menonton remake Oldboy yang akan rilis akhir tahun ini, ada baiknya saya mengajak anda untuk mengenal lebih jauh salah satu film sutradara yang nekat meremake film yang dapat dikatakan merupakan film legendaris di negeri ginseng tersebut. Spike Lee, besar di Brookyln dan sudah malang melintang di dunia perfilman Amerika, sutradara yang lahir 56 tahun silam ini terkenal dengan film-filmnya yang selalu menyelipkan isu rasial di dalamnya. Salah satunya adalah Do the Right Thing, satu filmnya yang berhasil membuat Spike Lee makin dikenal di seantero dunia. Rilis tahun 1989, Do the Right Thing langsung menjadi kandidat terkuat Palme d’Or ajang Cannes di tahun yang sama, tahun berikutnya, film berdurasi dua jam ini masuk dua kategori Oscar salah satunya adalah kategori Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen. Tidak heran, karena Do the Right Thing termasuk film yang mempunyai muatan kontroversial, menyuarakan hati nurani para warga Amerika keturunan Afrika pada saat itu.

Menurut pengakuan Spike Lee, Do the Right Thing diangkat secara tidak langsung dari pengalaman pribadinya yang tumbuh besar di daerah Brooklyn. Cerita film ini bersettingkan tentang kehidupan warga Brooklyn yang tinggal di area Bedford-Stuyvesant. Di daerah yang mayoritas dihuni oleh para warga kulit hitam, tinggal beberapa warga Amerika keturunan lain, seperti pedagang toko kelontong yang dikelola oleh keluarga dari Korea dan juga restoran pizza yang dikelola oleh keluarga Amerika keturunan Italia, yaitu Sal (Danny Aiello) dan dua anaknya, Pino (John Turturro) dan Vito (Richard Edson). Lalu ada Mookie (Spike Lee), remaja kulit hitam pada umumnya yang bekerja menjadi seorang pengantar pizza di restoran Sal. Mookie menganggap hal tersebut biasa saja, bekerja pada orang keturunan Italia di lingkungan warga kulit hitam, sampai akhirnya konflik terjadi, ketika teman Mookie, Buggin (Giancarlo Esposito) memaksa Sal untuk memajang salah satu figur kulit hitam di wall of fame-nya. Sal tidak mau karena itu adalah restorannya, tapi dilema muncul karena ia berbisnis di lingkungan warga kulit hitam. So? Who will do the right thing?

Film ini dapat dikatakan film yang bisa menimbulkan banyak pertentangan, jika anda menonton sampai habis, saya jamin pada awalnya anda akan simpati pada Sal, tapi setelah lama menyadari, ada betulnya juga perkataan Buggin dan teman-teman negro lainnya. Intinya, isu rasial bukan masalah warna kulit saja, tapi juga perilaku, karena jauh di dalam, seberingas apapun manusia dalam meperjuangkan hak kesetaraanya dalam hidup bermasyarakat, kadang tidak selalu diimbangi dengan perilaku yang benar. Disini, Sal adalah satu-satunya orang yang berjualan pizza puluhan tahun lamanya di lingkungan yang sama, tapi di sisi lain, manusia berubah-rubah, begitupun warga yang tinggal di Bedford-Stuyvesant. Semakin banyak generasi muda yang tidak bisa mengerti tentang yang namanya ‘ketertiban’. But, in the end, you must do the right thing.

Film ini ditutup dengan ending yang bagi saya sendiri terbilang mengejutkan, totally shocking dan langsung membuat saya terdiam sesaat. Tapi di akhir, saya mengerti, karena itulah hal yang harus dilakukan demi terciptanya ketertiban. Kadang rasa menghargai satu sama lain harus anda kesampingkan jika anda hidup di dalam lingkungan yang mayoritas tidak sepemikiran dengan anda sendiri. Sebuah pesan moral yang menohok dan mungkin juga menyindir perilaku bermasyarakat sampai saat ini. Betul apa kata Spike Lee ketika filmnya tidak memenangkan apapun di ajang penghargaan Oscar tahun 1990. Driving Miss Daisy mungkin menjadi film terbaik tahun 1989, tapi siapa yang akan menonton film itu 20 tahun ke depan? Ya, Do the Right Thing adalah film yang tidak akan lekang oleh waktu, mengingatkan betapa krusialnya masalah rasial di Amerika sana, apalagi bagi orang yang tinggal di lingkungan yang kurang lebih mirip dengan daerah Bedford-Stuyvesant di Brooklyn.

Salah satu film yang sangat kental sekali nuansa ‘black comedy’-nya, tidak lupa di film ini juga Martin Lawrence tampil untuk pertama kali sebagai bintang film, walau hanya menjadi peran pembantu saja. Selain itu masih ada Samuel L. Jackson yang sama-sama hanya tampil selewat tapi memorable karena ia berperan menjadi seorang announcer di radio lokal dengan gaya siarannya yang asyik. Tapi yang patut diacungi jempol tentunya adalah penampilan Spike Lee sendiri yang memerankan karakter utama di film ini. Sudah menjadi sutradara, menulis cerita, ikut berakting pula, membuktikan bahwa kapasitasnya sebagai seorang sineas memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Jangan lupakan juga tandem Spike Lee disini, yaitu Danny Aiello yang menjadi Sal, sempat masuk kategori Best Actor in Supporting Role di ajang Oscar tahun 1990, tanpa kehadirannya saya yakin tingkat emosional film ini akan berkurang, walau sudah ada penampilan meledak-ledak dari John Turturro, tapi penampilan Danny Aiello lah yang paling memukau dan paling mengoyak perasaan penonton tentang problema yang dihadapinya ketika dihubungkan dengan masalah rasial seperti ini.

So, this was one of the best from Spike Lee. Sutradara kulit hitam yang berpikiran visioner, jauh sebelum dia membuat film Malcolm X, Do the Right Thing sudah menyuarakan isu sosial yang bisa dialami oleh siapapun yang ada di belahan dunia ini. Semoga remake Oldboy yang rilis akhir tahun nanti dapat mengobati kerinduan penggemar yang kangen dengan film-film ‘garis keras’ Spike Lee, dan seperti yang kita tahu, Oldboy sendiri sudah menjadi film yang penuh dengan kekerasan bukan? He-he. Well, sebelum menikmati Oldboy, ada baiknya anda melirik karya klasiknya yang satu ini. Hope you enjoy it!

Rating: 4/5

4 thoughts on “Do the Right Thing (1989/US)

  1. Pingback: Disconnect (2012/US) | zerosumo

  2. film klasik! dengan cerita tentang rasial yg groundbreaking dan engga mau kompromi. Gw pertama kali nonton masih di jaman laser disc pula hehehe. filmnya yg ‘jungle fever’ juga ok.

    Like

    • Wow, nostalgia abis tuh laser disc, gw cuma ngerasain batman-nya tim burton pake laser disc dan beberapa film klasik arnold, haha… Wah Jungle Fever patut dicari dah kalo udah direkomendasikan kayak gini mah😉

      Like

  3. Pingback: Oldboy (2013/Remake/US) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s