Gravity (2013/US)


Things always get worse before they getting better

Things always getting worse before they getting better

Rasanya tidak berlebihan jika saya menobatkan Gravity sebagai film sci-fi terbaik tahun ini. Penantian selama tujuh tahun pasca Children of Men yang membuat saya bergidik terbayar tuntas dengan film sci-fi thriller yang bersettingkan di luar angkasa ini. Berterimakasihlah kepada Alfonso Cuarón, sineas asal Meksiko yang memulai karirnya dengan perlahan-lahan—dari mulai short film sampai TV series dan akhirnya meninggalkan ‘jejak’ lewat film road trip klasiknya, Y Tu Mamá También—ini selalu berusaha meningkatkan kualitas karya-karyanya yang dapat dikatakan hampir tanpa cela. Identik dengan teknik single take-nya yang menawan, seperti yang Alfonso lakukan di Children of Men yang ‘stunning’ itu, kini ia kembali dengan amunisi penuh. Lupakan single take di adegan klimaks Children of Men, siap-siap dengan 17 menit single take di opening scene Gravity yang akan membuat anda menganga—seolah-olah sedang terapung di luar angkasa.

Gravity sendiri dibuka dengan cerita yang sederhana, yaitu ketika seorang ‘first-timer’ astronot bernama Ryan Stone (Sandra Bullock) dan seorang astronot veteran bernama Matt Kowalski (George Clooney) sedang bertugas memperbaiki teleskop Hubble di luar angkasa. Pekerjaan yang sebenarnya bisa dilakukan dengan santai dan tanpa terburu-buru itu berubah menjadi menegangkan ketika ada serpihan satelit yang hancur bergerak menuju arah dimana Ryan dan Matt sedang melakukan tugasnya. Lalu, bagi anda yang sudah menonton trailernya yang banyak itu, akan menyaksikan kengerian yang dihadapi oleh Ryan dan Matt ketika mereka terpisah dari pesawat ulang aliknya karena hantaman badai serpihan satelit tersebut, apakah mereka akan kembali ke bumi dengan selamat atau hanya terombang ambing di luar angkasa sampai ajal menjemput?

Ya, ini adalah sebuah kisah sederhana yang disuguhkan dengan sangat menegangkan, dapat dikatakan apa yang terjadi pada Ryan dan Matt bisa saja terjadi pada kehidupan nyata, karena peristiwa badai serpihan satelit yang hancur ini didasarkan pada teori Kessler Syndrome yang digagas oleh seorang ilmuwan NASA. Jadi bayangkan saja jika anda berada di atas sana sendirian, terombang ambing di gravitasi nol dengan tabung oksigen yang mulai menipis. Sesak nafas rasanya ketika memikirkan apa yang dialami oleh Ryan dan Matt disana.

Sesak nafas ini benar-benar saya rasakan langsung ketika menonton film yang berdurasi 90 menit ini. Alfonso dan para tim dibalik pembuatan film ini berhasil melakukan tugasnya dengan sangat amat baik! Mereka berhasil menghadirkan suasana yang dapat dikatakan mendekati suasana asli di luar angkasa. Mungkin anda masih ingat dengan tagline “In space no one can hear you scream”? Ya, Gravity berhasil mendefinisikan ulang tagline film Alien tersebut dengan sempurna. Kengerian yang saya saksikan di Gravity dihadirkan dengan sangat gamblang, tanpa suara, sunyi tapi mematikan dan membuat jantung saya berdegap kencang ketika melihat dua astronot ini berusaha menyelamatkan diri di luar angkasa yang tak bertuan itu.

Standing applause harus diberikan kepada departemen suara yang berhasil meracik setiap keluaran suara yang didengar penonton dengan sempurna di Gravity. Apalagi ketika film ini banyak memainkan point of view-nya Ryan Stone, saya seolah-olah seperti Sandra Bullock yang sedang berada dalam situasi genting. Selain itu, scoring yang digubah oleh Steven Price berhasil membuat mood saya naik turun, apalagi ketika film ini akan mendekati klimaksnya, saya seperti ikut di dalam cerita survival dua astronot ini.

Jangan lupakan juga sinematografi menawan yang berhasil dihadirkan oleh sang DoP Emmanuel Lubezki. Pemandangan bumi, bintang sampai matahari yang terbit benar-benar memanjakan mata saya, apalagi kalau anda menonton film ini di bioskop IMAX, saya jamin anda akan merasakan sensasi melayang-layang di luar angkasa yang sebenarnya. Dibalik badai yang destruktif tersebut, Alfonso dan tim tetap menyuguhkan sebuah pemandangan luar biasa indah atau bahasa kerennya—visually stunning!

Terakhir tentu saja adalah alur ceritanya yang sederhana tapi mempunyai makna yang membekas. Dengan bantuan sang anak, Jonás Cuarón, Gravity menjadi sebuah film yang sarat akan makna ‘kelahiran kembali’ yang sejak semula sudah digagas oleh Alfonso. Terlihat jelas dari karakter wanita yang mendapat porsi besar di film yang katanya sudah memecahkan rekor penghasilan terbesar di minggu pertama rilis bulan Oktober sepanjang masa ini. Ya, karakter Sandra Bullock jika anda perhatikan dari awal sampai akhir, dari keraguan sampai keoptimisan, anda akan merasa ini semua seperti sebuah proses ‘kelahiran kembali’ manusia yang turun ke bumi, dengan figur wanita atau seorang ibu yang melahirkan anak-anaknya untuk hidup di dunia. Gravity mempunyai sebuah pesan moral sederhana yang mendalam dan emosionil, walaupun mungkin terdengar klise, jika kita tidak bisa ‘move on’ dari peristiwa buruk yang pernah menimpa, mungkin kita tidak akan pernah merasakan seperti dilahirkan kembali, bukan?

So, Sandra Bullock for Oscar? Why not! Hanya mengandalkan kekuatan akting dua aktor dan aktrisnya, Gravity making mengukuhkan bahwa suasana sepi bukan berarti tidak menegangkan jika dibantu dengan performa kedua bintangnya yang mumpuni. Sekali lagi, Sandra Bullock berhasil menunjukan penampilan terbaiknya setelah The Blind Side yang pernah dibintanginya. Kesendirian, keputusasaan sampai kepasrahan tersampaikan dengan sempurna lewat gestur dan ekspresi artis yang akan menginjak usia 50 tahun ini. Sama halnya dengan George Clooney, aktor yang terkenal dengan rambut putihnya ini berhasil menjadi karakter ‘penyeimbang’ yang selalu mencairkan ketegangan yang dialami oleh Ryan Stone dalam situasi seburuk apapun. Tidak sedikit dialog-dialog yang dilontarkan oleh aktor yang memulai karirnya di TV series ini memancing tawa para penonton, tapi karakter periangnya juga yang membuat ‘turning point’ film ini, sebuah adegan yang sarat akan makna spiritual dan dapat dikatakan menjadi sebuah adegan yang akan membekas di kepala para penonton setelah keluar dari bioskop.

Well, apalagi yang bisa saya katakan, kalau anda belum sempat menonton Gravity, tolong sempatkan. Saya sangat menganjurkan anda menonton film ini dalam format 3D dan di bioskop yang memiliki tata suara mumpuni, seperti IMAX misalnya. Jika tidak, akan sangat disayangkan, karena anda akan melewatkan sebuah sejarah baru dalam dunia sinema. Sebuah terobosan baru dalam industri film, dimana teknologi 3D di film ini bukan hanya ‘gimmick’ semata, tapi juga penunjang keseluruhan aspek visual dan cerita yang selama ini jarang kita dapatkan di film-film yang ‘dipaksa’ untuk terlihat seperti ini. what can I say, a breakthrough and breathtaking masterpiece from Alfonso Cuarón, or simply, my best sci-fi movie of 2013. MUST A SEE!

Rating: 5/5

16 thoughts on “Gravity (2013/US)

  1. hahaha film ini emang anjrit banget, bayangin saking kekeuhnya sama “there’s nothing to carry sound” nya, tanpa suara tahu2 udah ada aja yang melayang di depan mata saya.
    Saya jadi berpikir, ternyata ada yang lebih ngeri daripada fobia tempat sempit ya gara2 saya terlalu ngikutin si Bullock di sini. Sangar!

    Like

  2. This movie sort of made me think of what happened to that one guy in Armageddon who got thrown away into space. Serem banget ternyata, this made me feel more claustrophobic than Burried and more stranded than Cast Away.
    Definitely great space photography!
    and… sumpah mau banget bluraynya! Praying for a load of BTS stuff!! >_<

    Like

    • Hahaha, you remember that guy! :))

      BTS cara mixing soundnya udah ada tuh di vimeo, tapi yang full BTS buat filmnya masih rare, plg yg di youtube doang dikit, ya kita nantikan bluray (rip) nya, semoga cepet keluarlah😀

      Like

  3. Pingback: Before Midnight (2013/US) | zerosumo

  4. Udah lama gak berkunjung🙂 Woohoo nilai sempurna. Suka bgt saya sm film ini, Bullock bener2 ngundang kita ke dalem cerita dan saya hampir nangis hahaha. Best movie of the year!

    Like

  5. Pingback: My 12 Favorite Movies of 2013 (And Not So Favorite Too) | zerosumo

  6. Pingback: 12 Years a Slave (2013/US) | zerosumo

  7. Pingback: Biaya ke Planet Mars di India Lebih Murah dari Modal Film Gravity | zerosumo

  8. Pingback: 8 Alasan Kenapa Kamu Harus Nonton Lagi Interstellar | zerosumo

  9. Pingback: Birdman (2014/US) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s