Sokola Rimba (2013/Indonesia)


Education at its best

Education at its best

Ahhh, sudah lama tidak menyentuh dashboard blog tercinta ini, entah kenapa belakangan ini saya disibukkan oleh sejumlah kerjaan baru yang lumayan menarik dan menantang, tapi saya merasa berdosa karena rumah kedua saya ini tidak diberi makan apa-apa. Padahal kenyataanya saya tetap menyempatkan menonton film, walau tidak semua film baru, saya berhasil menyempatkan menonton tiga film terbaru yang rilis di bioskop seminggu kemarin, dan semuanya saya labas dalam waktu dua hari saja sambil curi-curi waktu ketika ada meeting di Jakarta sampai pulang ke Bandung lagi.

Film pertama yang saya tonton adalah film Indonesia terbaru yang lumayan sudah saya antisipasi kedatangannya beberapa minggu yang lalu. Judulnya Sokola Rimba, mungkin anda pernah mendengar film ini, karena memang sekarang juga masih tayang di bioskop-bioskop terdekat. Tapi saya harus berterima kasih dahulu kepada Rangga, sang movieblogger dari ibukota yang bersedia menampung saya selama ada disana. Sedikit cerita, tiba di Jakarta dan terdampar di Kemang Village itu bagaikan neraka, sampai akhirnya Rangga datang menjemput saya dan mengajak saya untuk pergi ke Blok M Square demi menonton Sokola Rimba. Bukan hanya pengalaman baru menonton di salah satu mall Jakarta yang belum pernah saya sambangi, Rangga juga sedikit mengenalkan saya pada kosakata baru yang diambil tidak jauh-jauh dari daerah Blok M Square, yaitu ‘little tokyo’, ha-ha, what a brillian night!

So cut the crap, waktunya untuk sedikit berceloteh tentang Sokola Rimba. Film ini digarap oleh sineas Indonesia yang mungkin anda sudah pasti tahu semua, yaitu Riri Riza. Bersama dengan Mira Lesmana sebagai produser dibawah naungan Miles Film. Suprisingly, Sokola Rimba merupakan tontonan yang mumpuni bagi saya, apalagi film ini diangkat dari kisah nyata Butet Manurung yang mengajar orang-orang pribumi yang masih tinggal di hutan rimba, lebih tepatnya Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi.

Lebih mengejutkan lagi adalah film ini dibuat dengan melibatkan lebih dari 80 orang rimba, alias warga pribumi asli Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi untuk ambil bagian sebagai pendamping karakter utama Butet Manurung yang diperankan dengan sangat meyakinkan dan elegan oleh Prisia Nasution. So, apalagi yang harus dibahas? Sokola Rimba sukses mengenalkan saya pada kehidupan orang rimba yang ‘benar-benar’ tinggal di hutan rimba, bayangkan, di jaman modern seperti ini, masih ada saudara kita yang masih berburu untuk bertahan hidup di hutan belantara, tidak mengenal yang namanya baca tulis dan sebagainya. Disitulah masuk Butet Manurung, yang mungkin bisa dibilang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, berusaha mencerdaskan anak bangsa sesuai dengan yang diminta undang-undang dasar negara kita.

Saya merasakan rasa haru dan bahagia ketika menonton film berdurasi kurang dari dua jam ini. Beberapa karakter pendukungnya malah tampil tidak kalah semeyakinkan Prisia Nasution yang ternyata lancar sekali berbahasa daerah sana. Ada Nengkabau dan Beindah, dua bocah rimba dari desa hulu sungai Makekal, kelakar ‘raja penyakit’ mereka sukses membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Kemudian ada Nyungsang Bungo, anak dari desa hilir sungai Makekal yang haus ilmu dan rela berjalan berkilo-kilometer jauhnya demi menimba ilmu dari Butet. Ya, ketiga anak tersebut dan seluruh anak rimba yang berada di film ini benar-benar memainkan peranannya dengan baik, bahkan saya hampir tidak percaya kalau mereka ternyata memang warga asli di Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi. Bravo!

Pada akhirnya, ditengah kemelut masih banyaknya warga Indonesia yang masih hidup primitif dan masih kurang pendidikan, Sokola Rimba juga menyampaikan dengan gamblang bahwa masih banyaknya ketidakseimbangan dalam hidup berdampingan di negeri yang katanya memegang teguh bhinneka tunggal ika ini. Dibalik keluh kesah Butet yang memperjuangkan anak-anak rimba agar ‘melek’ ilmu, masih ada birokrasi yang mempersulit pergerakan orang-orang seperti Butet Manurung, belum lagi korporasi-korporasi yang selalu berpikiran kapitalis dengan cara memperlebar lahan bisnis mereka sampai harus mengambil apa yang seharusnya menjadi hak orang rimba untuk tinggal dan damai. Intinya, Indonesia masih banyak PR untuk membenahi negaranya sendiri, mungkin Sokola Rimba berhasil memberikan sedikit gambaran dan juga sedikit PR buat pemerintah pusat ataupun pemerintah kota agar hal-hal seperti ini lebih diperhatikan. Cerdaskan bangsa dan hargai jerih payah orang-orang seperti Butet Manurung, merdeka!

Rating: 3.75/5

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s