Snowpiercer (2013/Korea)


The humanity last hope

The last hope of humanity

Perjalanan selama di Jakarta pun saya teruskan, setelah berhasil bertemu dengan klien untuk membicarakan proyek selanjutnya, saya bersantai sejenak di salah satu mall yang tergolong lumayan besar dan mempunyai bioskop Blitzmegaplex dengan desain interior yang lumayan ‘eye-catching’. Ya, Blitzmegaplex yang ada di mall Central Park sangat asyik, tapi sayang saya tidak sempat menonton disana, karena tiba-tiba Rangga mengajak saya untuk menonton Snowpiercer keesokan harinya di mall Grand Indonesia, okay, so be it! Tapi sedikit cerita manisnya sih, terima kasih kepada seseorang yang menemani saya muter-muter Jakarta dengan menggunakan moda transportasi andalan para Jakartans, bus! Jalanan memang macet dan menyebalkan, tapi beruntung ada seseorang tersebut, satu hari berlalu dengan perasaan senang, ahhh (curcol mode: on).

Okay, what happen in Central Park stay in Central Park, let’s talk about Snowpiercer, maybe my favorite movie of the year. Snowpiercer makin meyakinkan saya bahwa tahun 2013 adalah tahunnya film-film terbaik yang pernah diproduksi, mungkin akan cukup panjang kalau saya menyebutkan apa saja film terbaik saya di tahun ini, tapi percayalah, Snowpiercer layak masuk lima besar film terbaik saya tahun ini. Film debut Joon-ho Bong berbahasa Inggris ini berhasil membuat saya teriak, merinding, kesal dan terkesima secara bersamaan. Bagaimana tidak?! Kalau dilihat dari rangking, dari sekian banyak invasi sineas jenius asal Korea yang mulai menelurkan film berbahasa Inggris-nya, saya pikir Joon-ho Bong dengan Snowpiercer-nya merupakan contoh kisah sukses paling epik yang dilakukan industri film negeri ginseng tersebut.

The Last Stand Kim Jee-Won mengasyikkan, Stoker Chan-wook Park menakutkan, tapi Snowpiercer Joon-ho Bong ini menggetarkan! Dengan tema kiamat yang bersettingkan bumi setelah 18 tahun mengalami jaman es gara-gara eksperimen pencegahan global warming yang gagal, umat manusia terakhir yang ada di bumi berada di dalam kereta Snowpiercer yang terus melaju nonstop mengelilingi bumi, melindungi para penumpangnya dari kejamnya dunia yang ‘dingin’. Masalahnya adalah, tidak semua penumpang kereta bahagia. Layaknya tatanan sosial dalam masyarakat kita, yang miskin tinggal di gerbong paling belakang dengan fasilitas alakadarnya, sementara yang kaya hidup di gerbong paling depan dengan fasilitas mewah. Maka yang namanya pemberontakan pun sudah menjadi sesuatu yang absolut.

Dimulai dari seorang pria penghuni gerbong belakang yang sudah muak ditindas, yaitu Curtis (Chris Evans), berusaha melakukan pemberontakan besar-besaran, yaitu dengan cara menerobos maju ke gerbong paling depan, yang konon dihuni oleh sang creator kereta Snowpiercer, Wilford (Ed Harris). Dengan bantuan sahabatnya, Edgar (Jamie Bell) dan nasihat sang mentor, Gilliam (John Hurt), Curtis mempunyai rencana yang mumpuni untuk bisa menerobos tiap gerbong di kereta Snowpiercer, tahap pertama yaitu dengan cara membebaskan sang ahli mekanik kereta yang sedang sakau di tahanan, yaitu Namgoong Minsu (Kang-ho Song) dan putrinya Yona (Ah-sung Ko). Tapi perjalanan Curtis dkk menuju gerbong depan tidak semulus yang direncanakan sebelumnya, apalagi gangguan dari tangan kanan Wilford yang menyebalkan, Mason (Tilda Swinton) makin membuat langkah Curtis mulai berliku ketika harus melibatkan kaumnya, kaum tertindas di gerbong terakhir untuk berjuang sampai gerbong depan.

Banyak sekali muatan dan kritik sosial yang berusaha untuk disampaikan film ini dan menurut saya, Snowpiercer melakukan tugasnya dengan baik, drama action hingga thriller melebur menjadi satu suguhan mengasyikkan yang membuat saya seperti sedang ikut dalam pemberontakan Curtis yang epik tersebut. Dari mulai jargon ‘everything’s in the right place’, dan semua orang mempunyai posisi masing-masing dalam hidupnya, film berdurasi kurang lebih dua jam ini berhasil mengeksplorasi jargon-jargon tersebut kedalam skala yang lebih radikal.

Gerbong demi gerbong yang dilalui Curtis bagaikan sebuah level dalam videogame favorit saya, berhasil membuat saya capek dan menduga-duga apa yang akan terjadi selanjutnya, dari mulai twist-twist ringan menyoal balok protein yang mereka makan sampai ‘mata kuliah’ singkat tentang apa itu pintu gerbong jika dibandingkan dengan kebebasan ala Namgoong Minsu serta sedikit ceramah Wilford bahwa yang namanya warisan itu harus selalu ditinggalkan, entah itu baik atau buruk di mata orang lain, Snowpiercer mengemas semua dengan padat dan apik juga keren! Sekuen-sekuen actionnya outstanding, karakter-karakternya ikonik, saya tidak akan pernah melupakan sekuen dimana Joon-ho Bong mengenalkan karakter Grey (Luke Pasqualino), ‘predator’ dari kaum tertindas yang mulai masuk layar di tengah-tengah kemelut dengan keren, dan juga penampilan super menyebalkan Mason yang diperankan dengan sangat gemilang oleh Tilda Swinton. Oh my, what a perfect cast for a perfect movie, enough said!

Tidak aneh jika saya akan menonton film ini lagi dalam jangka waktu yang dekat, saya butuh menonton film ini lagi, dan anda pun wajib menonton film ini apalagi yang sudah mengikuti rekam jejak karya-karya Joon-ho Bong lewat film-film di negeri asalnya, saya sendiri baru pernah menonton segmen “Shaking Tokyo”-nya di omnibus Tokyo!, film-film panjangnya saya belum sempat menonton, tapi tidak masalah, mungkin setelah Snowpiercer ini, saya akan mulai mencicipi karya-karya sineas yang sudah berusia 44 tahun tersebut. Lalu tunggu apalagi? Anda wajib menonton film yang diinspirasi dari novel grafis Perancis berjudul Le Transperceneige ini, wajib sekali, salah satu film terbaik tahun 2013, apalagi jika menontonnya bersama orang yang mungkin cukup ‘spesial’ seperti yang saya alami kemarin di Blitzmegaplex mall Grand Indonesia, ahhh (curcol lagi deh, ha-ha).

Rating: 5/5

3 thoughts on “Snowpiercer (2013/Korea)

  1. Pingback: The Hunger Games: Catching Fire (2013/US) | zerosumo

  2. Pingback: My 12 Favorite Movies of 2013 (And Not So Favorite Too) | zerosumo

  3. Pingback: 5 Hal Kenapa Film-Film Dari Korea Selatan Lebih Bagus Dari Hollywood | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s