The Hunger Games: Catching Fire (2013/US)


Kiss kiss kiss kiss kiss

Kiss kiss kiss kiss kiss

Cerita manis penuh keringat jalanan Jakarta harus saya akhiri hari itu juga, tepat seusai menyaksikan Snowpiercer yang agung saya langsung menuju Sarinah untuk mencari travel ke Bandung. Beruntung saya masih ditemani ‘seseorang’ yang sudah saya singgung terus di review sebelum ini, ha-ha. Tapi ya sudahlah, mungkin cerita manisnya berakhir di Sarinah tersebut, setelah makan siang bersama di salah satu restoran fast food favorit kita semua, ahhh (udahan woi curcolnya!). okay, hari itu masih siang, saya langsung menuju Bandung dengan kecepatan travel pada umumnya tapi untungnya dengan harga yang murah (alias masih promo) tiba-tiba saja di tengah perjalanan teman-teman di Bandung mengajak saya untuk menonton sekuel dari film yang sebenarnya tidak begitu saya suka, yaitu The Hunger Games: Catching Fire. Tapi demi semangat ngumpul dan ngerumpi dengan para teman wanita saya sedari jaman kuliah dulu sampai jaman sok-sok-merasa-masih-seperti-ABG-tapi-sudah-tua, saya iyakan saya ajakan menonton bareng The Hunger Games: Catching Fire tersebut. Tiba sore hari, istirahat sejenak dan isi perut alakadarnya, saya langsung tancap gas berjalan kaki menuju bioskop yang berada di Jalan Cihampelas. Singkat kata, ngumpul dan ngerumpinya oke dan suprisingly, filmnya juga oke, jauh dari bayangan saya ketika menonton film pertamanya.

Melanjutkan langsung kisah kemenangan penuh romantisme palsu Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson) di film pertamanya, ternyata sekarang mereka tidak hidup bahagia-bahagia amat. Karena kemenangan Katniss dan Peeta di The Hunger Games tahun lalu malah membuat semangat para warga yang tinggal di 12 distrik untuk memberontak pada pemerintahan lalim yang dipimpin oleh Presiden Snow (Donald Sutherland). Sialnya adalah, demi menggagalkan pemberontakan tersebut, Presiden Snow membuat The Hunger Games tahun ini lebih ‘menarik’, dibantu dengan perancang baru The Hunger Games, Plutarch Heavensbee (Philip Seymour Hoffman), The Hunger Games tahun ini akan diikuti oleh para pemenang The Hunger Games tahun-tahun sebelumnya. Siapa yang tidak kesal? Apalagi Katniss dan Peeta yang baru saja menang, bagai keluar dari kandang macan masuk kandang buaya itu namanya.

Bukan hanya Katniss dan Peeta yang kesal, tapi para kontestan lain yang tidak seboring kontestan The Hunger Games tahun lalu, seperti Johanna (Jena Malone) yang super seksi, juga Finnick (Sam Claflin) yang super sixpack (ouw!) sama-sama kesal dengan peraturan baru Presiden Snow yang konyol ini. Lalu seperti film pertamanya, kita akan menyaksikan The Hunger Games yang baru dengan tingkat tantangan yang lebih mengerikan dan juga karakter-karakter baru yang lebih asyik, dan jangan lupakan cinta segitiga yang masih lumayan mending daripada cinta segitiga di Twilight Saga, yaitu cinta Katniss, Gale (Liam Hemsworth) dan Peeta, apakah yang akan terjadi diantara mereka bertiga? Apakah Peeta pada akhirnya akan jatuh cinta kepada anak yang dikandung Katniss?! (itu Twilight woi!)

Overall, diluar ekspektasi saya yang lumayan ‘tertipu’ dengan pujian-pujian yang mengalir deras ketika film pertamanya rilis, saya cukup menikmati sekuel The Hunger Games ini, intensitas cerita mulai bertambah, dan hubungan antar para karakternya mulai bervariasi dan lumayan kompleks walau adegan ciumannya memang terlalu sering sehingga membuat bibir saya kering (apalah). Ya, Jennifer Lawrence makin membuktikan kapasitasnya sebagai aktris muda peraih Oscar yang nampaknya akan sukses tujuh turunan, walau banyak sekali adegan meraung-raungnya yang klise, tapi chemistry-nya dengan Peeta Mellark mulai terasa natural di film ini, tidak terlalu ‘menye-menye’ seperti film pertamanya. Kalau boleh disimpulkan, Catching Fire ini seperti tahap selanjutnya The Hunger Games ke arah yang lebih dewasa dan serius.

Mungkin faktor Francis Lawrence juga yang kali ini menduduki kursi sutradara. Mengingat salah satu film karyanya adalah favorit saya sepanjang masa (Constantine), tidak heran gaya penyutradaan sineas kelahiran Vienna, Austria ini cukup menantang dan lebih kelam dari seri pertamanya. Sekuen aksinya mungkin bertambah lebih banyak, walau mungkin diawal-awal akan membuat penonton kebingungan dan sedikit bosan apalagi yang belum pernah menonton film pertamanya. Tapi so far, saya menikmati The Hunger Games: Catching Fire, bukan saja hanya karena Coldplay ikut ambil bagian mengisi scoring musik film berdurasi dua jam lebih ini, tapi karena alur ceritanya mulai menarik untuk diikuti, tidak monoton dan tidak membosankan apalagi ketika The Hunger Games dimulai di pulau yang selalu berputar-putar tersebut, lumayan asyik.

Well, sebuah peningkatan yang lumayan signifikan dan membuat saya jadi lumayan menunggu sekuel keduanya nanti yang katanya akan mengikuti trend Harry Potter (serba lumayan), yaitu dipecah menjadi dua bagian, asal masih semenarik Catching Fire, saya yakin akan memprioritaskan untuk nonton film ketiganya nanti. Well done untuk semua cast and crew-nya dan tentunya sang sutradara yang telah membawa tone film ini tidak terlalu ‘ABG banget’, ha-ha. Hope you enjoy it too!

Rating: 3/5

2 thoughts on “The Hunger Games: Catching Fire (2013/US)

  1. Pingback: Interstellar (2014/US) | zerosumo

  2. Pingback: The Hunger Games: Mockingjay – Part 1 (2014/US) | zerosumo

What's your opinion?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s